Sulaisi Dorong Identitas Pamekasan Berpihak pada Petani Tembakau

1 jam yang lalu 1

KABAR MADURA | Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (DPP APSI), Sulaisi Abdurrazaq, menilai perumusan identitas Kabupaten Pamekasan kudu dibangun secara komprehensif dengan landasan teori nan kuat serta berpihak pada potensi unggulan daerah, termasuk memberikan perlindungan norma bagi petani tembakau.

Pandangan tersebut disampaikan Sulaisi saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Literasi Kajian Buku Pamekasan Mencari Identitas karya Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) di Aula Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Senin (27/7/2026).

Menurut Sulaisi, tembakau merupakan salah satu identitas utama Madura, khususnya Pamekasan. Namun, di kembali perkembangan industri tembakau, kesejahteraan dan perlindungan norma terhadap petani dinilai tetap belum menjadi perhatian nan memadai.

“Industri tembakau mengalami kemajuan nan lumayan, tetapi disisi lain petaninya tidak terlindungi, baik dari sisi izin maupun kebijakan politik. Kebijakan pemerintah pusat seperti Perpres saat ini lebih konsentrasi pada ketahanan pangan dan pupuk bersubsidi untuk komoditas pangan, sehingga petani tembakau sering kali terasingkan dari support subsidi tersebut,” ujarnya.

Selain menyoroti sektor tembakau, Sulaisi juga mengapresiasi terbitnya kitab Pamekasan Mencari Identitas. Menurutnya, karya tersebut sukses memantik ruang obrolan publik mengenai arah dan identitas Pamekasan.

Madura FM

Meski demikian, dia menilai konsep identitas nan diusung dalam kitab tersebut perlu diperkaya dengan pendekatan akademis nan lebih terukur. Menurutnya, identitas wilayah sebaiknya dirumuskan melalui perspektif teori sosial, politik, budaya, maupun pendekatan lain nan relevan agar mempunyai injakan ilmiah nan kuat.

Dia juga membujuk wartawan dan akademisi untuk menggali identitas Pamekasan dari realitas sosial nan hidup di tengah masyarakat, sehingga pendapat nan dibangun tidak hanya berkarakter konseptual, tetapi juga mencerminkan karakter daerah.

“Buku ini membujuk kita berdiskusi, krusial untuk membingkai Pamekasan mencari identitas ini dengan landasan teori nan tepat, apakah menggunakan teori identitas dan kekuasaan, alias kultur dan diaspora. Ini bakal menyempurnakan kitab dan pendapat nan terus dijabarkan oleh rekan rekan ke depan,” tutupnya. (fit/waw)

Selengkapnya