Sempat Dilarang Kuliah, Naqiah Kini Berprestasi Internasional

1 jam yang lalu 4

KABAR MADURA | Keinginan untuk mendapatkan pendidikan tinggi sering berbenturan dengan pandangan tradisional masyarakat. Hal tersebut nan sempat dirasakan oleh Naqiah, seorang gadis dari empat berkerabat asal Desa Candi, Pamekasan. 

Perjalan tersebut berasal dari keraguan family nan cemas bakal akibat negatif perkuliahan bagi seorang perempuan, Naqiah sukses membuktikan bahwa keterbatasan dan stigma bukanlah penghalang untuk mengukir prestasinya sebagai anak muda.

Naqiah lahir pada 8 Agustus 2004. Pendidikan dasarnya di Nasy’atul Muta’allimin Pamekasan dan melanjutkan ke Pesantren Nurul Karomah, Buddagan, Pamekasan, nan menyelesaikan jenjang SMA.

Keinginannya nan kuat untuk menghilangkan dugaan miring tentang anak kuliah mendorongnya berjuang mendapatkan izin orang tua. Atas support penuh dari pihak pesantren, dia diizinkan kuliah dengan syarat tetap bertempat tinggal dan beraktivitas di pondoknya.

“Dari awal saya tidak diperbolehkan kuliah, hanya boleh mondok. Tapi saya mau membuktikan bahwa tidak semua anak kuliah seperti stigma itu,” ujar Naqiah, Jumat (14/8/2026).

Madura FM

Keputusannya dalam mengambil bidang Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, nan diawali dari ketahuannya bakal dinamika bumi perkuliahan. 

Dalam cerita Naqiah, mengira kuliah mirip dengan kursus dasa. Awalnya tidak mempunyai latar belakang bahasa Arab, sempat mengalami tekanan mental dan penurunan akademik akibat tertinggal dari kawan temannya nan kebanyakan lulusan pesantren besar.

Namun, menyerah tidak ada dalam kamusnya. Naqiah memilih bangkit dan mengejar ketertinggalannya lewat jalur lain ialah aktif menulis dan meneliti, dan dia dipercaya oleh para pengajar untuk bekerja-sama dalam beragam penelitian hingga sukses menerbitkan tulisan ilmiah di jurnal terakreditasi SINTA.

Naqiah jug dipercaya menjadi tutor FLDP, ialah menjadi asisten pengajar serta mentor kepenulisan research di prodinya. Dengan mengasah mental dan keahlian bicaranya dari tingkat lokal, Jawa Timur, hingga menembus tingkat nasional dan berkesempatan tampil di gedung DPR RI, Jakarta.

Akhir dari semangat dan kegigihannya terbayar tuntas ketika dia dinyatakan lulus dari jenjang S1 tanpa skripsi dan melalui jalur publikasi tulisan sekaligus dinobatkan sebagai lulusan terbaik dan skripsi terbaik di program studinya.

“Bukan kepintaran nan menentukan, tapi seberapa keras perjuangan dan konsistensi kita dalam mengejar ketertinggalan,” tegasnya.

Gelar sarjana tidak mengurangi semangat belajarnya. Baru baru ini, Naqiah sukses membawa nama wangi Indonesia dalam konvensi internasional nan melintasi tiga negara ialah di Malaysia, Singapura, dan Thailand. Dari 200 pendaftar se Indonesia, dia terpilih masuk dalam 4 besar penerima danasiwa partial funded nan didukung penuh oleh BAZNAS.

Naqiah bukan sekadar hadir, dari 60 delegasi terpilih, dia juga dianugerahi penghargaan sebagai Top 3 Best Speaker pada Sabtu (8/8/2026) di Malaysia, setelah melewati serangkaian sesi debat, presentasi, dan obrolan interaktif.

“Saya merasa tidak ada apa apanya dibanding peserta lain. Tapi ini kesempatan saya untuk terus belajar. nan krusial berjuang, hasilnya pasrahkan kepada Tuhan,” tambah Naqiah.

Sebagai bentuk pengabdian dan persiapannya sebelum melanjutkan ke jenjang S2, dalam waktu dekat ini Naqiah bakal berangkat ke Pare untuk menempuh program danasiwa Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) di Markaz Arabi Markaz Turats selama satu tahun.

Perjuangan padat nan dia jalani membagi waktu antara tugas kuliah, agenda mengajar di pondok, serta persiapan lomba nan dilakukan bukan semata mata untuk kebanggaan pribadi. Ia mengatakan bahwa sebagai anak kedua, dia mau membuka jalan nan lebih besar bagi adik adiknya nanti, dan sebagai santri senior, dia berambisi jejaknya juga bisa menjadi  pendorong semangat bagi santri santri lainnya.

Melalui perjalanannya, Naqiah berpesan agar generasi muda tidak biarkan stigma mematikan mimpi dan tidak takut bakal kegagalan, lantaran prestasi sejatinya diukir untuk memberi faedah bagi orang orang di sekitarnya.

“Jangan tunggu siap untuk memulai, biarkan Allah nan menyiapkan jalannya. Meski seratus kali jatuh, bangkitlah di kali seratus satu, lantaran siapa tahu dari satu langkah nekat hari ini, Allah menyiapkan panggung bumi besok hari,” pungkasnya. (fit/waw)

Selengkapnya