Turun-Temurun Sejak Zaman Belanda, Perajin Gerabah Pamekasan Bertahan di Tengah Zaman

4 jam yang lalu 2

KABAR MADURA | Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) gerabah alias kerajinan tanah liat tradisional di Dusun Lemas, Desa Sumedangan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, tetap terus memperkuat memelihara warisan budaya.

Salah satu pemilik dari kerajinan nan konsisten menjaga tradisi tersebut adalah Yulis, nan mana dia pemilik upaya kerajinan ulekan alias gerabah merah.

Kerajinan nan terukir tersebut bukanlah upaya baru, melainkan warisan leluhur nan sudah melintasi beragam zaman, hingga dia tidak mengetahui sudah berapa lama membidangi perihal tersebut.

“Usaha ini sudah lama, turun temurun dari era Belanda. Asal mulanya bukan di sini, tapi dari Rantonon (Kelling Barat). Ini diteruskan dari nenek moyang dulu,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).

Dia menambahkan, meskipun di wilayah asalnya sekarang banyak generasi muda nan beranjak pekerjaan menjadi pegawai, Yulis berbareng penduduk Dusun Lemas tetap setia menekuni pekerjaan sebagai kreator tembikar tradisional.

Menurutnya, proses pembuatan ulekan alias gerabah merah memerlukan skill khusus, ketelitian, serta kesabaran nan tinggi.

Menggunakan tanah liat unik wilayah setempat nan dicampur dengan pasir, kemudian tanah liat terlebih dulu diinjak injak hingga berubah tekstur. 

Kemudian dibentuk secara manual dengan tangan tanpa menggunakan mesin cetak, setelah separuh kering, tembikar tersebut kemudian dihaluskan menggunakan piringan alias bilah bambu khusus.

“Semuanya pakai emosi dan keahlian tangan, tidak pakai cetakan,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa gerabah dibakar menggunakan bahan bakar alami seperti kayu, daun kelapa kering, dan sabut kelapa.

“Pembakarannya sehari semalam. Dari jam 12 siang sampai jam 12 malam. Harus dijaga terus apinya,” tambahnya.

Warna merah cerah nan dihasilkan pada produk gerabah pun murni berasal dari proses pematangan pembakaran tanah liat tua, bukan dari unsur pewarna alias cat kimia.

Dalam menjalankan usahanya, aspek cuaca menjadi penentu utama kelancaran produksi. Kata Yulis musim tandus menjadi waktu terbaik lantaran proses pengeringan melangkah cepat.

“Kalau musim tandus pekerjaan ini maju pesat lantaran butuh panas matahari. Tapi jika musim hujan susah, jemurnya lama. Kalau tidak panas bisa rugi lantaran pengerjaannya tertunda,” tambahnya.

Mengenai permodalan, Yulis mengaku belum pernah menerima support hibah langsung dari pemerintah. Untuk membeli bahan baku seperti pasir dan kayu bakar, dia mengandalkan simpan pinjam modal lokal desa.

“Bantuan biaya tidak ada. Cuma ada pinjaman modal dari desa untuk beli pasir dan bahan baku,” tambahnya.

Meski diproduksi secara berdikari di kediamannya, produk gerabah buatan Yulis dijual dengan nilai nan sangat terjangkau, nan mana ulekan mini seharga Rp5.000 sampai Rp6.000, untuk ulekan nan sedang alias besar diberi nilai Rp7.000 sampai Rp10.000, untuk nan gentong tembikar itu seharga Rp30.000.

Mengenai pemasaran, Yulis menyampaikan bahwa pengerjaan nan dilakukan secara berdikari tersebut bisa menembus pasar lintas wilayah apalagi luar negeri melalui jaringan pengepul dan langganan.

“Ada pemborong alias langganan nan ambil ke sini. Ada nan dikirim ke Jember sampai 4.000 sampai 6.000 biji. Banyak juga nan dibawa pengepul ke Kalimantan, apalagi sampai ke Malaysia,” ungkapnya.

Di akhir wawancara, Yulis menyampaikan harapannya agar upaya kerajinan rakyat tersebut dapat terus melangkah lancar dan memberikan keberkahan bagi keluarganya.

“Harapan saya semoga tetap diberi kesehatan, usahanya makin maju, lancar, dan rezeki terus mengalir,” tutupnya dengan penuh harap. (fit/waw)

Selengkapnya