Madura Dalam Belenggu Kemiskinan, Vispol Indonesia Bedah Roadmap Kesejahteraan

59 menit yang lalu 1

Direktur Vispol Indonesia Misbahul Munir Ali, S.H., M.H., saat memaparkan materi. (KLIKMADURA)

SAMPANG || KLIKMADURA – Madura mempunyai kekayaan sumber daya alam (SDA) nan melimpah. Mulai dari tembakau, garam, hingga minyak dan gas (migas). Namun, limpahan potensi tersebut belum bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat. Kemiskinan tetap menjadi persoalan nan membayangi sebagian besar wilayah di Pulau Garam.

Kondisi itu menjadi konsentrasi pembahasan dalam seminar berjudul “Roadmap Kesejahteraan di Madura: Dari Transformasi Pendidikan hingga Pengembangan Potensi Daerah” nan digelar Visi Politik (Vispol) Indonesia di Hotel Bahagia, Sampang, Minggu (2/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri tokoh masyarakat, akademisi, pejabat daerah, tokoh politik, tokoh perempuan, pemuda, hingga kalangan petani.

Dua narasumber datang dalam forum tersebut, ialah Direktur Vispol Indonesia Misbahul Munir Ali, S.H., M.H., serta Pemimpin Redaksi Klik Madura sekaligus penulis kitab Merajut Mimpi Madura Provinsi, Prengki Wirananda, S.Kel., M.Si. Keduanya membedah beragam persoalan nan dinilai menjadi penyebab belum optimalnya kesejahteraan masyarakat Madura.

Dalam paparannya, Misbahul Munir Ali menegaskan bahwa persoalan terbesar Madura bukan terletak pada minimnya sumber daya alam. Menurutnya, tantangan sesungguhnya adalah gimana potensi wilayah nan melimpah itu bisa dikelola menjadi kekuatan ekonomi nan memberikan faedah bagi masyarakat.

Ia memaparkan, nomor kemiskinan di Kabupaten Sampang tetap mencapai 20,6 persen. Kondisi tersebut menjadikan Sampang sebagai kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur dan termasuk nan tertinggi di Indonesia.

Pemuda nan berkawan disapa Misbah itu menyampaikan, kekayaan alam tidak bakal memberikan akibat besar andaikan tidak dibarengi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan kudu menjadi fondasi utama agar masyarakat bisa mengelola potensi wilayah menjadi produk nan mempunyai nilai tambah.

“Pendidikan menjadi fondasi utama. Masyarakat kudu bisa mengenali, mengelola, sekaligus mengembangkan potensi daerahnya agar memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan,” ujarnya.

Selain itu, dia menyoroti pentingnya hilirisasi komoditas unggulan Madura, terutama tembakau dan garam. Selama ini, hasil produksi lebih banyak dijual dalam corak bahan mentah sehingga nilai tambah ekonomi justru dinikmati wilayah lain.

Sementara itu, Prengki Wirananda menilai, penyusunan roadmap kesejahteraan Madura kudu diawali dengan pemetaan potensi di masing-masing daerah. Setelah itu, pemerintah perlu menghadirkan proyek-proyek strategis nan sesuai dengan karakter wilayah dan diperkuat melalui pendidikan vokasi.

Menurutnya, salah satu persoalan nan tetap menghalang hilirisasi tembakau adalah minimnya pemahaman petani mengenai standar kualitas hasil panen. Kondisi tersebut membikin posisi tawar petani dalam rantai perdagangan menjadi lemah sehingga nilai lebih banyak ditentukan oleh tengkulak.

“Ketika petani memahami standar kualitas, mereka mempunyai posisi tawar nan lebih kuat lantaran mengetahui nilai produknya sendiri,” jelasnya.

Prengki juga mendorong lahirnya program pendidikan nan disesuaikan dengan potensi unggulan Madura. Dengan begitu, kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor strategis dapat dipenuhi oleh masyarakat lokal nan mempunyai kompetensi sesuai kebutuhan daerah.

Diskusi berjalan bergerak dengan melibatkan petani, akademisi, pejabat daerah, dan tokoh masyarakat. Beragam pendapat nan mengemuka mengerucut pada satu konklusi bahwa persoalan kemiskinan Madura tidak dapat diselesaikan melalui satu kebijakan saja.

Pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemetaan potensi daerah, pembangunan proyek strategis, dan hilirisasi komoditas kudu melangkah secara terpadu.

Tanpa langkah tersebut, kekayaan sumber daya alam Madura bakal terus menjadi potensi besar nan belum sepenuhnya bisa menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. (ali/nda)

Selengkapnya