Kepala Dinkes Pamekasan dr. Saifudin saat diwawancarai di ruangannya (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).
PAMEKASAN || KLIKMADURA – Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) tidak bisa dianggap remeh, penyakit nan timbul dari virus nan merusak sistem kekebalan tubuh.
Bahkan sepanjang tahun 2025 kemarin Kabupaten Pamekasan mencatat ada 89 kasus, sedangkan di tahun ini sejak Januari hingga Juni sudah terdapat 43 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan dr. Saifudin melalui Plt Kabid P2P Avira Sulistyowati menyampaikan, dari 43 kasus tersebut 31 kasus melakukan pengobatan On Antiretroviral (ARV). Sedangkan sisanya tidak bersedia dilakukan pengobatan, namun juga ada nan melakukan pengobatan di wilayah lain.
“Yang tidak mau itu sudah kami edukasi juga mengenai pengobatan ARV ini. Tapi, kami juga tidak bisa melakukan pemaksaan kepada nan bersangkutan,” ungkapnya.
Adapun untuk penyebab HIV nan bisa menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) itu dengan penularan diantaranya melalui sperma ataupun darah. Bahkan untuk aspek peningkatannya bisa dari hubungan seksual secara bebas, penyalahgunaan narkoba khususnya pada jarum suntik nan bergantian. Kemudian minimnya pemahaman tentang HIV/AIDS pada masyarakat dan stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) sehingga takut melakukan skrining dan pengobatan.
Avira tidak menampik bahwasanya hubungan sesama jenis menjadi aspek utama nan menimbulkan penyakit HIV/AIDS ini. Bahkan kasus terbanyak di Kabupaten Pamekasan terjadi pada laki-laki dengan rentang usia 25-40 tahun.
“Itu hasil dari skrining kesehatan di beberapa faskes di Kabupaten Pamekasan,” ujarnya.
Di Kabupaten Pamekasan ada 21 Puskesmas, 2 RSUD dan sejumlah RS serta beberapa klinik nan bisa melayani konseling dan tes HIV.
Namun, untuk pemberian pengobatan ARV hanya ada di dua Puskesmas ialah Puskesmas Kowel dan Puskesmas Larangan.
Serta, RSUD Slamet Martodirdjo dan RS Moh Noer nan telah ditetapkan oleh Kemenkes RI menjadi faskes jasa Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP).
Avira menegaskan, upaya konkrit nan telah dilakukan Dinkes Pamekasan diantaranya penguatan KIE, pemeriksaan skrining bagi masyarakat beresiko.
Kemudian penelusuran dan pemantauan ODHIV dalam pengobatan, lampau penguatan integrasi jasa tes HIV pada pasien IMC, TBC, bumil, jasa kespro juga calon pengantin.
“Untuk KIE kami lakukan kepada masyarakat khususnya generasi muda nan dilakukan rutin nan diadakan di Ponpes, Sekolah serta perguruan tinggi. Bahkan organisasi keagamaan juga lintas sektor seperti Disdikbud juga Kemenag,” jelasnya.
Ia berharap, dalam melakukan hubungan seksual kudu nan sehat dalam artian setia pada pasangan, kemudian menghindari NAPZA dan obat terlarang.
Lalu melakukan skrining HIV nan dilakukan cuma-cuma masyarakat beresiko pada pasien IMS, TBC, bumil, jasa kespro dan catin.
“Dan juga sesuai dari Pengendalian Pencegahan HIV nan diterapkan Three Zero HIV AIDS, ialah zero jangkitan baru HIV, zero kematian akubat HIV, zero stigma dan diskriminasi ODHIV,” tandasnya. (enk/nda)

6 jam yang lalu
5








English (US) ·
Indonesian (ID) ·