KABAR MADURA | Berawal dari kegemaran menikmati kuliner, Dewi Nur Yuliastina sukses mengubah hobinya menjadi kesempatan upaya nan menjanjikan. Pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Kota Bangkalan itu sekarang sukses mengembangkan upaya makanan sigap saji dengan menu jagoan kebab dan sosis bakar setelah sebelumnya beberapa kali berganti bagian usaha.
Perempuan nan berkawan disapa Dewi itu mengaku telah menekuni bumi upaya selama kurang lebih enam tahun. Sebelum konsentrasi pada upaya kuliner nan dijalankan saat ini, dia sempat membuka butik rumahan, berdagang es jagung, hingga membuka upaya angkringan dengan jenis menu bakaran.
“Kalau upaya sudah kurang lebih enam tahun. Awalnya saya buka butik kecil-kecilan di rumah, kemudian jual es jagung, setelah itu jualan bakaran seperti angkringan, dan sekarang konsentrasi ke kebab, burger, hotdog, sandwich, serta sosis bakar,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Menurut Dewi, setiap upaya nan dijalankannya selalu berasal dari makanan alias produk nan dia sukai. Baginya, menjual sesuatu nan disukai membuatnya lebih antusias dalam mengembangkan usaha.
“Saya jualan itu selalu berasal dari nan saya suka. Waktu kebab lagi ramai dan saya juga suka kebab, akhirnya saya mencoba jualan kebab,” tuturnya.
Keputusan itu rupanya membuahkan hasil. Dalam hari-hari biasa, upaya nan dijalankannya bisa menghasilkan omzet sekitar Rp500 ribu hingga Rp750 ribu per hari, berjuntai pada jam operasional. Sementara saat mengikuti pagelaran alias beragam aktivitas tertentu, pendapatannya bisa meningkat hingga mencapai Rp1,2 juta dalam sehari.
“Kalau buka sore sampai malam omzetnya sekitar Rp500 ribu. Kalau buka dari pagi bisa sekitar Rp750 ribu. Kalau ada event, dari pagi sampai malam bisa mencapai Rp1,2 juta,” jelasnya.
Di antara beragam menu nan dijual, kebab dan sosis bakar menjadi produk favorit pelanggan. Khusus untuk sosis bakar, Dewi mempunyai racikan ramuan oles unik nan dibuat sendiri sehingga menjadi pembeda dari produk sejenis.
“Yang paling laku kebab sama sosis bakar. Kalau sosis bakarnya, ramuan olesnya saya racik sendiri,” ungkapnya.
Menariknya, seluruh proses pengembangan usahanya dilakukan secara mandiri. Dewi tidak mengikuti training maupun belajar dari media sosial, melainkan terus bereksperimen hingga menemukan cita rasa nan sesuai dengan selera pelanggan.
“Saya tidak pernah belajar dari konten. Saya langsung mencoba sendiri sampai menemukan nan pas,” sebutnya.
Meski usahanya terus berkembang, Dewi mengakui tetap menghadapi beragam tantangan sebagai pedagang kaki lima (PKL). Selain kudu berdagang di bawah terik matahari, dia juga dihadapkan pada persoalan letak upaya nan sewaktu-waktu dapat ditertibkan.
“Namanya jualan di pinggir jalan, kadang panas-panasan. Selain itu, letak di Jalan Ahmad Yani tetap termasuk area nan tidak boleh digunakan sehingga terkadang ada penertiban,” paparnya.
Untuk menjaga penjualan tetap stabil, Dewi aktif mengikuti beragam pagelaran dan membuka stan pada sejumlah aktivitas nan digelar di Bangkalan. Menurutnya, keikutsertaan dalam beragam event menjadi salah satu langkah efektif untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkenalkan produknya kepada masyarakat.
Ke depan, dia berambisi pemerintah wilayah terus memberikan perhatian kepada para pelaku UMKM, khususnya pedagang kaki lima. Penataan letak upaya nan lebih baik dinilai bakal menciptakan kenyamanan bagi pedagang sekaligus meningkatkan daya tarik masyarakat untuk berbelanja.
“Harapan saya tempat ini tetap dipakai, tetapi ditata lebih baik. Kalau bisa ada akomodasi seperti tenda alias gerobak nan seragam seperti nan saya lihat di wilayah lain. Itu bakal membikin UMKM lebih tertata dan nyaman,” harapnya. (fik/zul)

4 jam yang lalu
5








English (US) ·
Indonesian (ID) ·