KABAR MADURA | Pemdes Samatan, Kecamatan Proppo menggelar obrolan publik untuk menekan nomor kecelakaan di Jalan Raya Proppo.
Diskusi berjudul “Membangun Persepektif Bersama dalam Mencegah Kerawanan Kecelakaan Lalu Lintas” ini dilatarbelakangi tingginya nomor fatalitas kecelakaan di Jalan Raya Proppo, Kecamatan Proppo, Pamekasan.
Kades Samatan Moh. Tamyis menerangkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir kerap terjadi kecelakaan di Jalan Raya Proppo tepatnya satu kilometer ke timur dan ke barat Kantor Desa Samatan.
“Jalannya agak menikung dari barat ke timur. Dari arah timur ke barat juga agak menikung sedikit dan rata-rata, kendaraan melaju cepat. Solusinya, hasil obrolan kami, diperlukan pemasangan pita kejut,” kata Tamyis, usai obrolan di laman Kopdes, Selasa (4/8/2026).
Diskusi ini, lanjut Tamyis, digarap berbareng mahasiswa KKN Universitas Islam Madura (UIM).
“Kami, Pemdes, siap membantu proses pemasangan pita kejut ini. Karena, tujuan utama kami ialah agar nomor kecelakaan berkurang di Jalan Raya Proppo,” sambungnya.
Narasumber aktivitas ini ialah Kanit Kamsel Satlantas Polres Pamekasan Ipda Dedy Dwi P, Kabid Lalu lintas Dishub Pamekasan Andri Isfaraini dan Ketua PWI Pamekasan Hairul Anam.
“Kami menilai, memang layak dipasangi pita kejut, dan kami siap memberikan rekomendasi,” terang Idpa Dedy.
Sementara Kabid Lalu lintas Dishub Pamekasan Andri Isfaraini mengatakan bahwa Jalan Raya Proppo adalah milik provinsi. “Untuk itu kita bakal proses pengajuan ke Pemprov Jatim,” katanya.
Untuk diketahui, pita kejut adalah marka berwarna putih nan dipasang melintang di jalan raya untuk mengurangi laju alias kecepatan kendaraan.
Dalam kesempatan itu, Hairul Anam mengulas satu prinsip dalam bumi jurnalistik: bad news is good news, ialah buletin jelek adalah buletin bagus.
“Bad news is good news ini, dalam pemisah tertentu, adalah untuk publik,” ujar Anam.
Asesor UKW Dewan Pers satu-satunya dari Madura itu mencontohkan peristiwa kecelakaan kendaraan di jalan raya. Itu negatif, buruk.
“Tapi ketika diliput oleh wartawan dan terbit jadi berita, itu buletin bagus. Sebab, publik menjadi tahu bahwa di titik kejadian itu rawan kecelakaan. Ketika melewatinya, masyarakat jadi hati-hati,” tegasnya.
Dosen UNIBA Madura itu juga mengulas Butterfly Effect, ialah sebuah konsep bahwa perubahan alias tindakan mini pada awal mula suatu kejadian dapat memicu perubahan besar.
“Juga memicu pengaruh berantai nan susah diprediksi dalam jangka panjang,” ujarnya sembari mencontohkan kelalaian mini dalam berkendara.
“Misal ketika bersepeda motor tanpa pakai helm, ketika kecelakaan, potensi cedera kepala hingga gegar otak cukup besar,” ujarnya.
Kordes KKN UIM Mustofa berambisi obrolan publik ini bisa berkontribusi untuk mencegah nomor kecelakaan. “Semoga ini bisa terwujud,” harapnya. (fit/zul)

1 hari yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·