Muktamar NU ke-35 di Jatim Makin Dekat, Ulama dan Tokoh Soroti Masa Depan Kepemimpinan NU

16 jam yang lalu 4

Surabaya, Penamadura.com – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jawa Timur, pembahasan mengenai arah kepemimpinan NU memasuki abad kedua mulai mengemuka.

Sejumlah ulama, akademisi, organisasi kepemudaan, dan insan pers menyatukan pendapat dalam perbincangan publik berjudul “Transformasi-Reorientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II” di Kantor Pusat Jaringan Kemandirian Santri Nasional (JKSN), Surabaya, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan tersebut digelar Pokja Grahadi berbareng JKSN dan PMII Jawa Timur. Sekitar 60 wartawan dari beragam wilayah di Jawa Timur turut mengikuti forum tersebut.

Ketua Pokja Grahadi Fatimartuzzahroh mengatakan, perbincangan ini menjadi ruang bagi insan pers untuk ikut menyumbangkan pendapat menjelang Muktamar NU ke-35 nan bakal berjalan di Jawa Timur.

“Semangat dari aktivitas ini adalah agar bunyi maupun pemikiran para berilmu ustadz di Jawa Timur bisa terdengar dan tersampaikan mengenai angan transformasi dan reorientasi kepemimpinan NU pada abad kedua nantinya,” ujarnya.

Selain wartawan, aktivitas tersebut dihadiri sejumlah komponen organisasi NU, di antaranya GP Ansor, IPNU, IPPNU, ISNU, Sarbumusi, serta PMII.

Ketua Umum JKSN sekaligus Ketua Umum Pergunu, Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, menilai NU perlu melakukan transformasi orientasi untuk menghadapi tantangan abad kedua.

Ia menjelaskan, NU pada awal berdirinya menghadapi konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia sekaligus penguatan mengerti Ahlussunnah wal Jamaah nan menekankan inklusivitas, persatuan, dan kesatuan.

Namun, setelah Indonesia merdeka, orientasi tersebut dinilai kudu diarahkan pada upaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

“Orientasinya, transformasi reorientasinya Nahdlatul Ulama di abad kedua ini harusnya merdeka diganti dengan cita-cita luhur kemerdekaan ialah terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan,” kata Asep.

Menurutnya, perubahan orientasi tersebut tetap kudu berakar pada tradisi keulamaan dan pesantren sebagai pedoman historis NU.

Pesantren dinilai tidak hanya berkedudukan dalam pendidikan agama, tetapi juga dapat menjadi pusat pembentukan sumber daya manusia untuk beragam sektor.

NU diharapkan bisa melahirkan ustadz dan ilmuwan, birokrat nan berorientasi pada kepentingan rakyat, pengusaha nan berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, serta tenaga ahli nan berbobot dan bertanggung jawab.

“Indonesia bakal maju, adil, dan makmur setelah Nahdlatul Ulama merubah orientasinya, mentransformasi orientasinya untuk Indonesia nan maju, adil, dan makmur,” tegasnya.

Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat KH Agoes Ali Masyhuri, Guru Besar Ilmu Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Prof. Usep Abdul Matin, serta Guru Besar Bidang Sejarah dan Pemikiran Islam Klasik UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Dr. KH Imam Ghozali Said.

Diskusi tidak hanya membahas persoalan internal NU, tetapi juga mengaitkan masa depan organisasi dengan perubahan sosial, tantangan kebangsaan, serta kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Gagasan transformasi dan reorientasi kepemimpinan tersebut dinilai menjadi bagian krusial dalam memperkaya diskursus publik menjelang Muktamar NU ke-35.

Jawa Timur sebagai tuan rumah muktamar juga dinilai mempunyai posisi strategis untuk menjadi ruang tumbuhnya beragam pendapat mengenai masa depan NU.

Hasil pemikiran dari beragam forum diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi pembahasan arah NU dalam memasuki abad kedua, dengan tetap mempertahankan akar tradisi keulamaan sekaligus merespons tantangan zaman. (Red/Emha)

Selengkapnya