Menyangga Dua Bahasa, Merawat Dua Budaya di Tapal Kuda

1 jam yang lalu 2

Oleh: Tetty Noor Aini

(Guru Bahasa Jawa di SMP Bhakti Pertiwi Paiton Probolinggo.)

Tapal kuda adalah julukan bagi area sekitar ujung timur Pulau Jawa di Provinsi Jawa Timur. Ia meliputi tujuh kabupaten/kota, ialah Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Nama Tapal Kuda berasal dari corak peta wilayahnya nan menyerupai tapal (alas) sepatu kuda. Tapal kuda dikenal dengan budaya Pendalungan, ialah hasil pembauran unik antara kebudayaan suku Jawa dan Madura. Mereka menggunakan bahasa Madura alias Jawa namun dengan dialek unik Pendalungan.

Masyarakat Jawa Pendalungan ini menjadi bukti kehidupan dari proses hubungan lintas budaya nan berjalan secara alamiah oleh suatu golongan dengan golongan lainnya. Keberadaan organisasi Jawa Pendalungan melalui hubungan mereka dengan etnis Jawa dan Madura percampuran budaya nan kompleks, nan menimbulkan tantangan unik dalam memahami identitas mereka.

Salah satu perihal nan menjadi karakter adalah bahasa nan mereka gunakan. Dialek kental Pendalungan tidak dapat terpisahkan, seakan-akan melekat dan menjadi sebuah identitas budaya nan khas. Komunikasi antara mereka tidak hanya merujuk pada proses pertukaran pesan, tetapi juga gimana identitas diri dan golongan direpresentasikan serta dipertahankan dalam situasi nan penuh perbedaan.

Madura FM

Tradisi dan Bahasa

Selain dalam aspek bahasa, pertukaran dan akulturasi nan terjadi lantaran adanya dua budaya (Jawa-Madura) dapat dilihat dari kebudayaan nan ada di kalangan Masyarakat Pendalungan. Hasil dari percampuran budaya tersebut memunculkan suatu budaya budaya dan kebiasaan nan baru. Di wilayah Probolinggo sendiri terdapat salah satu tradisi nan merupakan penyesuaian dari budaya Jawa ialah tingkepan alias tujuh bulanan, upacara keselamatan untuk kandungan pertama saat menginjak usia tujuh bulan. Ada juga tradisi nan merupakan penyesuaian dari budaya Madura ialah Rokat Tase alias Petik Laut. Keberlangsungan tradisi-tradisi ini adalah ruang hidup utama alias tembok pertahanan bagi bahasa wilayah agar tidak punah ditelan perkembangan zaman.

Tradisi menjadi wadah bagi penduduk Pendalungan sebagai kesempatan untuk menggunakan dialek unik mereka. Baik Jawa maupun Madura mereka mempunyai tingkatan bahasa dari kasar hingga halus. Keberadaan mereka saling menopang, orang Jawa belajar memahami struktur bahasa Madura, dan sebaliknya begitu juga dengan orang Madura nan memahami struktur bahasa Jawa.

Fonologi

Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa nan mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa nan diproduksi oleh perangkat ucap manusia. Fonologi terdiri dari 2 (dua) bagian, ialah fonetik dan fonemik. Fonetik adalah bagian fonologi nan mempelajari langkah menghasilkan bunyi bahasa, sedangkan fonemik adalah fonologi nan mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda makna.

Bahasa Jawa mempunyai perbedaan vokal seperti /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, serta ragam pengucapan seperti bunyi a nan dapat terdengar menjadi ɔ (contoh: sega diucapkan segɔ). Sedangkan bahasa Madura mempunyai sistem vokal nan lebih beragam dan dikenal mempunyai konsonan aspiratif (bunyi nan diucapkan dengan hembusan napas), seperti perbedaan bunyi b dan bh, d dan dh. Kedua bahasa sama-sama mempunyai fonem nan berfaedah membedakan makna kata, tetapi jumlah dan karakter fonemnya berbeda.

Keunikan-keunikan seperti inilah nan semestinya terus diupayakan pelestariannya. Kekayaan inilah nan memberikan kekuatan identitas bagi sebuah bangsa. Wilayah Tapal Kuda berfaedah sebagai penyangga bahasa Jawa dan bahasa Madura lantaran menjadi ruang pertemuan, pelestarian, dan perkembangan kedua bahasa tersebut. Keberadaan kedua bahasa nan tetap digunakan oleh masyarakat menunjukkan bahwa keragaman linguistik di Tapal Kuda merupakan aset budaya nan perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan keahlian bahasa inilah, penduduk Tapak Kuda bakal meraup banyak pesan dari kedua budaya adiluhung tersebut. Selain itu, falsafah hidup keduanya bakal turut mewarnai dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan akar inilah, generasi baru mempunyai pondasi nan kokoh di tengah keterpaparan pada budaya bumi nan dilihat melalui gawai.

Selengkapnya