Tanah Air Indonesia, Tempat Kita Bersujud

1 jam yang lalu 1

Cinta tanah air dalam puisi D. Zawawi Imron tidak datang sebagai semboyan kebangsaan nan berakhir pada upacara, bendera, alias seruan patriotik. Ia tumbuh dari pengalaman paling sederhana manusia: minum air, makan hasil bumi, menghirup udara, bersujud di atas tanah, hingga akhirnya kembali menjadi bagian dari bumi setelah kematian. Dalam puisi “Tanah Sajadah”, Zawawi mempertemukan pengalaman kebangsaan dengan pengalaman religius melalui sebuah metafora nan kuat: tanah air sebagai sajadah. Tanah tidak hanya menjadi tempat manusia berpijak, tetapi juga ruang tempat manusia mempertanggungjawabkan iman, moral, dan kehidupannya. Karena itu, mencintai Indonesia bagi Zawawi bukan sekadar emosi terhadap sebuah wilayah geografis, melainkan kesadaran etis untuk menjaga bumi, menghormati sesama, menolak kebencian, menumbuhkan kejujuran, serta membangun kemajuan. Sebelum memasuki pembacaan lebih jauh mengenai hubungan antara nasionalisme, religiusitas, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial dalam puisi tersebut, berikut teks komplit “Tanah Sajadah” karya D. Zawawi Imron.

TANAH SAJADAH

Hubbul wathon minal iman

Kenapa kita kudu cinta kepada bangsa dan tanah air?

Kita minum air Indonesia

Madura FM

Menjadi darah kita

Kita makan beras dan buah-buahan Indonesia

Menjadi daging kita

Kita menghirup udara Indonesia

Menjadi nafas kita

Kita bersujud di atas bumi Indonesia

Berarti bumi Indonesia adalah Sajadah kita

Bila tiba saatnya mati

Kita bakal tidur dalam pelukan bumi Indonesia

Daging kita nan hancur membusuk bakal berasosiasi kembali dengan harumnya bumi Indonesia

Maka tak ada argumen untuk tidak mencintai Indonesia

Tanah air Indonesia adalah Ibunda kita

Siapa mencintainya

Jangan mengotorinya dengan maksiat dan dosa

Jangan mengisinya dengan kebencian, permusuhan dan adu domba

Tanah air Indonesia adalah Sajadah kita

Siapa mencintainya

Harus menanaminya dengan benih-benih iman, benih-benih takwa, benih-benih kejujuran, kemajuan dan kreativitas

Tanah air adalah Sajadah

Tempat bersujud kepada Allah

Puisi tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami pendapat Zawawi bahwa tanah air bukan sekadar ruang geografis, tetapi ruang kehidupan sekaligus ruang spiritual. Air nan diminum menjadi darah, makanan nan disantap menjadi daging, udara nan dihirup menjadi napas, sementara bumi menjadi tempat bersujud dan pada akhirnya menjadi tempat tubuh kembali. Dengan langkah demikian, Zawawi membangun hubungan nan sangat intim antara manusia, tanah air, dan Tuhan. Nasionalisme tidak ditempatkan berhadapan dengan religiusitas, tetapi justru memperoleh dasar moral darinya. Mencintai tanah air berfaedah menjaga sesuatu nan telah menjadi bagian dari tubuh dan kehidupan kita. Lebih jauh, andaikan tanah air adalah sajadah, maka cinta kepada Indonesia kudu diwujudkan melalui tindakan nyata: tidak mengotorinya dengan dosa sosial, kebencian, permusuhan, dan adu domba, tetapi menanamkan bibit iman, takwa, kejujuran, kemajuan, dan kreativitas. Dari sinilah Tanah Sajadah dapat dibaca sebagai sebuah puisi tentang humanisme religius, sebuah rayuan agar kecintaan kepada bangsa tidak berakhir sebagai ucapan, tetapi menjelma menjadi tanggung jawab moral terhadap bumi dan manusia nan hidup di atasnya.

Ada sesuatu nan sederhana tetapi sekaligus mendalam dalam puisi D. Zawawi Imron berjudul Tanah Sajadah. Puisi ini tidak berbincang tentang nasionalisme dengan bahasa slogan, pidato politik, alias simbol-simbol kebangsaan nan sering terdengar di ruang publik. Ia memilih jalan nan lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari manusia: air nan diminum, makanan nan dimakan, udara nan dihirup, tanah tempat bersujud, dan bumi nan kelak menerima kembali tubuh manusia setelah kematian. Dari hal-hal nan tampak sederhana itulah Zawawi membangun sebuah pendapat besar tentang cinta tanah air.

Puisi ini apalagi dibuka dengan ungkapan nan sangat dikenal dalam tradisi keagamaan, “Hubbul wathon minal iman”.Cinta tanah air ditempatkan dalam horizon iman. Namun, Zawawi tidak berakhir pada pengucapan formula tersebut. Ia justru mengusulkan pertanyaan nan menjadi pintu masuk bagi seluruh puisi: “Kenapa kita kudu cinta kepada bangsa dan tanah air?” Pertanyaan itu krusial lantaran nasionalisme dalam puisi ini tidak diterima begitu saja sebagai dogma. Ia kudu dijelaskan melalui pengalaman konkret manusia.

Jawaban Zawawi kemudian bergerak dari tubuh menuju tanah air. Ia menulis:

“Kita minum air Indonesia

Menjadi darah kita

Kita makan beras dan buah-buahan Indonesia

Menjadi daging kita

Kita menghirup udara Indonesia

Menjadi nafas kita”

Tiga unsur tersebut, air, makanan, dan udara, merupakan kebutuhan paling dasar manusia. Tanpa ketiganya, kehidupan tidak mungkin berlangsung. Tetapi dalam puisi ini, ketiganya memperoleh makna simbolik nan lebih jauh. Air menjadi darah, makanan menjadi daging, dan udara menjadi napas. Indonesia tidak lagi sekadar wilayah geografis tempat seseorang dilahirkan alias tinggal. Indonesia masuk ke dalam tubuh manusia dan menjadi bagian dari keberadaannya.

Di sinilah kekuatan humanisme Zawawi bekerja. Cinta tanah air tidak dibangun dari abstraksi, melainkan dari kesadaran mengenai keterhubungan manusia dengan lingkungan hidupnya. Tanah air bukan sekadar peta, pemisah administratif, bendera, alias nama sebuah negara. Tanah air adalah sesuatu nan secara material memungkinkan manusia hidup. Apa nan berasal dari tanah kembali menjadi bagian dari tubuh manusia.

Dengan demikian, nasionalisme dalam Tanah Sajadah bukan nasionalisme nan agresif. Ia tidak mengajarkan manusia untuk mencintai bangsanya dengan membenci bangsa lain. Nasionalisme tersebut berkarakter ekologis sekaligus eksistensial. Manusia mencintai tanah air lantaran menyadari bahwa dirinya berasal dari tanah, hidup dari tanah, dan pada akhirnya kembali kepada tanah.

Kesadaran itu mencapai puncaknya ketika Zawawi menulis:

“Kita bersujud di atas bumi Indonesia

Berarti bumi Indonesia adalah Sajadah kita”

Di sini terjadi perubahan makna nan sangat penting. Tanah tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang geografis. Tanah berubah menjadi ruang spiritual. Bumi menjadi sajadah, sebuah tempat manusia berasosiasi dengan Tuhan. Dengan metafora tersebut, Zawawi mempertemukan dua wilayah nan sering dipisahkan secara tajam: nasionalisme dan religiusitas.

Dalam pandangan ini, mencintai tanah air bukan tindakan nan berada di luar agama. Sebaliknya, mencintai tanah air dapat menjadi bagian dari penghayatan ketaatan ketika cinta tersebut diwujudkan dalam tindakan menjaga, merawat, dan memuliakan kehidupan. Tanah air menjadi ruang ibadah bukan lantaran tanah itu sendiri disakralkan, melainkan lantaran manusia menjalankan tanggung jawab moral dan spiritual di atasnya.

Metafora sajadah menjadi pusat semantik puisi. Sajadah adalah barang sederhana, tetapi dalam kehidupan seorang Muslim dia mempunyai makna nan sangat dalam. Di atas sajadah manusia merendahkan diri, melepaskan kesombongan, mengakui keterbatasannya, dan menghadap kepada Tuhan. Ketika bumi Indonesia disebut sebagai sajadah, metafora tersebut secara implisit membawa pesan bahwa seluruh kehidupan kebangsaan kudu mempunyai etika kerendahan hati.

Artinya, seseorang tidak cukup hanya mencintai Indonesia dengan ucapan. Jika Indonesia adalah sajadah, maka tanah air tidak boleh diinjak-injak oleh keserakahan. Ia tidak boleh dikotori oleh tindakan nan merusak kehidupan bersama. Ia tidak boleh dijadikan tempat untuk mempertontonkan kebencian dan permusuhan.

Gagasan tersebut semakin jelas dalam bagian berikut:

“Bila tiba saatnya mati

Kita bakal tidur dalam pelukan bumi Indonesia

Daging kita nan hancur membusuk bakal berasosiasi kembali dengan harumnya bumi Indonesia”

Kematian dalam puisi ini bukan akhir dari hubungan manusia dengan tanah air. Justru kematian memperlihatkan hubungan tersebut secara paling fundamental. Manusia nan sepanjang hidupnya mengambil air, makanan, dan udara dari tanah airnya pada akhirnya menyerahkan tubuhnya kepada bumi.

Ada semacam lingkaran eksistensial di dalam puisi ini. Manusia menerima kehidupan dari tanah, kemudian mengembalikan tubuhnya kepada tanah. Air menjadi darah. Makanan menjadi daging. Udara menjadi napas. Setelah kematian, tubuh kembali menjadi bagian dari bumi. Manusia dan tanah air berada dalam sebuah siklus material nan tidak terputus.

Kesadaran mengenai kematian tersebut membikin nasionalisme Zawawi menjadi jauh dari romantisme kosong. Cinta tanah air bukan sekadar emosi sentimental terhadap tempat kelahiran. Ia merupakan kesadaran bahwa keberadaan manusia selalu berutang kepada ruang hidupnya. Karena itu, cinta kudu diwujudkan dalam tanggung jawab.

Tidak mengherankan jika setelah membangun hubungan antara tubuh dan bumi, Zawawi menyimpulkan:

“Maka tak ada argumen untuk tidak mencintai Indonesia”

Kalimat tersebut sederhana, tetapi mempunyai daya argumentatif nan kuat. Kata “maka” menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat. Karena manusia hidup dari air, makanan, udara, dan tanah Indonesia, maka manusia mempunyai argumen untuk mencintai tanah air. Nasionalisme dengan demikian bukan sesuatu nan dipaksakan dari luar, melainkan lahir dari kesadaran mengenai ketergantungan manusia terhadap lingkungan hidupnya.

Namun, Zawawi tidak membiarkan nasionalisme berakhir pada emosi cinta. Ia segera memberikan pemisah etis mengenai gimana cinta itu kudu diwujudkan. Ia menulis:

“Tanah air Indonesia adalah Ibunda kita

Siapa mencintainya

Jangan mengotorinya dengan maksiat dan dosa

Jangan mengisinya dengan kebencian, permusuhan dan adu domba”

Metafora ibu memperluas makna tanah air. Jika Indonesia adalah ibu, maka relasi manusia dengan Indonesia bukan lagi relasi antara penduduk dan wilayah administratif. Ia menjadi relasi emosional sekaligus moral antara anak dan ibu.

Seorang anak tidak cukup mengatakan bahwa dia mencintai ibunya. Ia kudu menjaga, menghormati, dan tidak menyakitinya. Demikian pula dengan tanah air. Cinta kepada Indonesia kudu dibuktikan dengan tidak mengotorinya. nan dimaksud Zawawi bukan hanya pencemaran lingkungan dalam pengertian ekologis, tetapi juga pencemaran moral dan sosial.

Kata “mengotorinya” menarik lantaran mempunyai dua dimensi sekaligus. Pada tingkat pertama, dia dapat dibaca sebagai kritik terhadap perilaku manusia nan merusak lingkungan. Tanah, sungai, laut, hutan, dan ruang hidup tidak boleh diperlakukan sebagai tempat pembuangan keserakahan. Pada tingkat kedua, dia merupakan kritik terhadap kerusakan sosial. Korupsi, kekerasan, kebencian, fitnah, konflik, dan adu domba merupakan corak lain dari pencemaran tanah air.

Dengan demikian, Zawawi memperluas konsep dosa. Dosa bukan hanya persoalan hubungan perseorangan manusia dengan Tuhan. Dosa juga mempunyai dimensi sosial. Ketika seseorang menebarkan kebencian dan permusuhan, dia tidak hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga mengotori ruang berbareng nan disebut tanah air.

Karena itu, nasionalisme dalam Tanah Sajadah mempunyai karakter etis. Cinta tanah air kudu menghasilkan perilaku nan membikin kehidupan berbareng menjadi lebih baik. Tidak cukup seseorang mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, alias berbincang lantang tentang nasionalisme andaikan dalam kehidupan sehari-hari dia melakukan tindakan nan merusak masyarakat.

Pada bagian berikutnya, Zawawi mengembangkan pendapat tersebut melalui metafora pertanian:

“Tanah air Indonesia adalah Sajadah kita

Siapa mencintainya

Harus menanaminya dengan benih-benih iman, benih-benih takwa, benih-benih kejujuran, kemajuan dan kreativitas”

Metafora bibit memperlihatkan bahwa tanah air dipahami sebagai ruang pertumbuhan. Indonesia bukan hanya tanah nan kudu dijaga dari kerusakan, tetapi juga lahan nan kudu ditanami dengan nilai-nilai kehidupan.

Pilihan kata “menanami” sangat penting. Nilai-nilai seperti iman, takwa, kejujuran, kemajuan, dan produktivitas tidak tumbuh dengan sendirinya. Semua memerlukan proses, perawatan, kesabaran, dan ketekunan. Dengan demikian, membangun bangsa menyerupai pekerjaan seorang petani nan menanam benih, merawatnya, dan menunggu hasilnya.

Di sini puisi Zawawi mempunyai dimensi pendidikan nan kuat. Ia menawarkan semacam pedagogi kebangsaan. Generasi muda tidak cukup diajarkan untuk mencintai Indonesia secara simbolik. Mereka kudu diajarkan untuk menanam bibit kejujuran, pengetahuan pengetahuan, kreativitas, kerja keras, dan tanggung jawab sosial.

Kata “kejujuran” menjadi sangat krusial dalam konteks kehidupan kebangsaan. Sebuah negara tidak bakal menjadi kuat hanya lantaran mempunyai sumber daya alam, infrastruktur, alias teknologi. Negara memerlukan manusia nan bisa menggunakan semua itu dengan integritas. Kemajuan tanpa kejujuran dapat berubah menjadi keserakahan. Kreativitas tanpa moral dapat berubah menjadi manipulasi. Kekuasaan tanpa tanggung jawab dapat menjadi penindasan.

Karena itu, Zawawi menyandingkan iman, takwa, kejujuran, kemajuan, dan kreativitas. Ia tidak mempertentangkan spiritualitas dengan kemajuan. Sebaliknya, kemajuan justru kudu memperoleh fondasi etis dari nilai-nilai spiritual.

Pada titik ini, puisi Tanah Sajadah dapat dibaca sebagai corak humanisme religius. Manusia menjadi pusat perhatian bukan sebagai penguasa absolut atas dunia, tetapi sebagai makhluk nan mempunyai tanggung jawab terhadap Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Religiusitas tidak berakhir pada ritual personal. Ia kudu datang dalam kehidupan sosial.

Kalimat penutup puisi mempertegas seluruh pendapat tersebut:

“Tanah air adalah Sajadah

Tempat bersujud kepada Allah”

Penutup ini mengembalikan pembaca kepada titik awal. Indonesia adalah tanah air, tetapi tanah air juga adalah ruang pengabdian. Sajadah bukan hanya tempat seseorang menundukkan kepala ketika salat. Dalam metafora Zawawi, seluruh tanah air menjadi ruang tempat manusia menguji kualitas keberagamaannya.

Dengan demikian, ukuran keberagamaan tidak hanya dapat dilihat dari seberapa sering seseorang bersujud, tetapi juga dari gimana dia memperlakukan tanah tempat dia bersujud. Jika setelah bersujud seseorang kembali melakukan kebohongan, permusuhan, korupsi, kekerasan, alias penghancuran lingkungan, maka terjadi pertentangan antara ritual dan kehidupan.

Di sinilah Tanah Sajadah menjadi puisi nan relevan untuk dibaca kembali. Ia menawarkan kritik terhadap kecenderungan memisahkan agama, nasionalisme, dan etika sosial. Zawawi justru mempertemukan ketiganya dalam satu kesadaran. Beragama berfaedah membangun hubungan dengan Tuhan. Mencintai tanah air berfaedah menjaga ruang kehidupan bersama. Menjadi manusia berfaedah bertanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan.

Puisi ini juga mengandung kritik terhadap nasionalisme nan hanya berkarakter seremonial. Nasionalisme tidak selesai dalam upacara, slogan, dan simbol. Nasionalisme kudu masuk ke dalam perilaku sehari-hari. Ia kudu tampak dalam langkah seseorang membuang sampah, menggunakan kekuasaan, mengelola kekayaan alam, memperlakukan orang lain, menjalankan pekerjaan, mendidik anak, menghormati perbedaan, dan menggunakan kebebasan.

Dalam perspektif tersebut, Tanah Sajadah sebenarnya bukan hanya puisi tentang Indonesia. Ia merupakan refleksi tentang manusia dan tanggung jawabnya terhadap tempat hidup. Tanah air menjadi cermin moral. Cara manusia memperlakukan tanah air menunjukkan langkah dia memahami dirinya sendiri.

Zawawi Imron, sebagai penyair nan kuat dengan pengalaman kebudayaan Madura dan tradisi religius, memperlihatkan bahwa spiritualitas dapat berangkat dari sesuatu nan sangat dekat dengan tubuh dan kehidupan sehari-hari. Air, nasi, buah, udara, tanah, dan kematian menjadi pintu masuk menuju kesadaran transendental. Tuhan tidak dipahami sebagai sesuatu nan jauh dari kehidupan manusia. Kesadaran kepada Tuhan justru tumbuh melalui kesadaran terhadap bumi tempat manusia hidup.

Pada akhirnya, Tanah Sajadah mengajarkan bahwa mencintai Indonesia bukan sekadar mengucapkan bahwa kita cinta Indonesia. Cinta kudu mempunyai bentuk. Ia kudu menjadi tindakan menjaga bumi, menghormati manusia, menolak kebencian, merawat kejujuran, mengembangkan kreativitas, dan memperjuangkan kemajuan.

Jika tanah air adalah ibunda, jangan lukai ia. Jika tanah air adalah tubuh nan membentuk darah dan daging kita, jangan rusakkan ia. Jika tanah air adalah sajadah, jangan kotori ia. Dan jika suatu saat tubuh kita kembali ke dalam pelukannya, maka setidaknya kita meninggalkan tanah itu dalam keadaan lebih baik daripada ketika kita menerimanya.

Di situlah kekuatan terdalam puisi Zawawi. Nasionalisme tidak diletakkan di atas panggung sebagai kata nan megah, melainkan diturunkan ke tanah, ke tubuh, ke kehidupan sehari-hari. Indonesia menjadi air nan kita minum, makanan nan menjadi daging, udara nan menjadi napas, bumi tempat kita bersujud, sekaligus tanah nan kelak memeluk jasad kita. Karena itu, mencintai tanah air pada akhirnya bukan hanya persoalan mencintai sebuah negeri. Ia adalah persoalan gimana manusia menghormati sumber kehidupannya sendiri.

Tanah Sajadah mengingatkan kita bahwa setiap kali dahi menyentuh bumi, kita sebenarnya sedang berhadapan dengan sebuah pertanyaan moral: gimana kita memperlakukan tanah tempat kita bersujud? Jawaban atas pertanyaan itu tidak cukup diberikan melalui kata-kata. Ia kudu dibuktikan melalui kehidupan.

Penulis adalah pengajar sastra di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Madura

Selengkapnya