KABAR MADURA | Berawal dari upaya sederhana dengan memproduksi jamu sendiri dan memasarkannya dari orang ke orang, pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) jamu di Bangkalan sekarang terus berkembang dengan mengikuti perubahan zaman.
Pemilik usaha, Firdaus Hinduan, menceritakan, upaya tersebut pada awalnya dirintis secara sederhana. Produk jamu dibuat sendiri, kemudian ditawarkan langsung kepada konsumen maupun dititipkan kepada orang nan berjalan menggunakan kapal untuk membantu memasarkannya.
“Awal merintis kita membikin jamu itu sendiri dan diedarkan by person, orang ke orang. Kemudian dititipkan kepada orang nan berangkat ke kapal untuk dibantu dijual,” ujarnya, Minggu (9/8/2026).
Seiring perkembangan teknologi, pola pemasaran pun ikut berubah. Media sosial sekarang menjadi salah satu sarana utama untuk memperkenalkan produk jamu untuk kesehatan area kewanitaan maupun laki-laki kepada konsumen nan lebih luas.
Sejumlah produk menjadi jagoan dan telah mempunyai pengguna tersendiri. Di antaranya Empot Wangi, Galian Montok, serta Galian Ratin. Produk-produk itu dikemas dalam corak pil sebagai salah satu pembeda dari jamu konvensional nan umumnya identik dengan rasa pahit.
Dia menambahkan, penemuan menjadi keharusan agar produk jamu tetap diterima oleh generasi muda. Menurutnya, karakter konsumen saat ini, khususnya generasi Z, condong menginginkan produk nan praktis dan tidak identik dengan rasa pahit.
“Kami mengikuti zaman. Sekarang zamannya Gen Z, orang tidak mau minum jamu nan pahit. Kami berupaya membuatnya dalam corak pil dan bakal terus berinovasi mengikuti zaman,” terangnya.
Dari sisi penjualan, dia mengaku permintaan produk cukup fluktuatif. Dalam kondisi tertentu, penjualan dapat mencapai 100 hingga 500 botol dalam sehari. Perkembangan upaya itu juga turut memberikan akibat positif bagi masyarakat di sekitar.
Meski demikian, dirinya tetap berambisi upaya tersebut dapat berkembang lebih besar sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan nan lebih luas.
“Kalau pendapatan tidak tentu, bisa 100 sampai 500 botol dalam sehari. Untuk keuntungan, itu rahasia perusahaan,” ungkapnya.
Menurutnya, transformasi digital menjadi bagian krusial dalam perjalanan UMKM tersebut. TikTok, Instagram, hingga marketplace dimanfaatkan sebagai sarana promosi sekaligus untuk menjangkau konsumen di luar Bangkalan.
Namun, di kembali faedah tersebut, terdapat tantangan nan kudu dihadapi. Firdaus mengaku beberapa kali produknya mengalami pemblokiran di platform digital lantaran sistem platform mengategorikan produknya berangkaian dengan konten seksual.
“Kami sangat terbantu dengan teknologi digital, media sosial dan marketplace. Tetapi sekarang marketplace juga menjadi halangan lantaran produk kita mengandung seksual. TikTok dan Shopee juga sering kali produk kami diblokir,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi UMKM nan telah berupaya memenuhi beragam persyaratan legalitas untuk memasarkan produknya.
Firdaus menyebut, produk nan dipasarkan telah mempunyai sertifikasi legal dan izin edar BPOM. Menurutnya, perihal itu menjadi salah satu pencapaian krusial dalam perjalanan usahanya.
“Prestasi dan pencapaian adalah kita sudah punya label legal dan sudah BPOM. Itu pencapaian terbesar lantaran sudah mengikuti standar di Indonesia untuk mengedarkan jamu,” tuturnya.
Di tengah persaingan produk dan derasnya arus tren di media sosial, Firdaus berambisi generasi muda tidak hanya menjadi konsumen produk nan sedang viral, tetapi juga memberikan ruang bagi produk-produk UMKM lokal untuk berkembang.
Dia membujuk masyarakat mulai membiasakan diri membeli produk buatan pelaku upaya lokal.
“Jangan beli produk nan viral terlebih dahulu. Beli produk UMKM sendiri. Ketika produk UMKM laku di kalangan kita sendiri, insya Allah bakal viral dengan sendirinya,” pungkasnya. (fik/zul)

1 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·