Buruh pabrik rokok sedang melinting rokok di penyimpanan pabrik di Desa Jarin, Kecamatan Pademawu, Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).
PAMEKASAN || KLIKMADURA – Tingkat pengangguran di Kabupaten Pamekasan tetap menjadi perhatian. Berdasarkan info per Agustus 2025, lulusan SMA menjadi golongan dengan tingkat pengangguran tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pamekasan Parsad Barkah Pamungkas menyampaikan, tingkat pengangguran lulusan SMA mencapai 3,65 persen. Disusul lulusan perguruan tinggi sebesar 2,77 persen, sedangkan lulusan SMP ke bawah berada di nomor 0,32 persen.
Menurut Parsad, persoalan pengangguran pada setiap jenjang pendidikan mempunyai penyebab nan berbeda. Lulusan perguruan tinggi, misalnya, condong lebih selektif dalam memilih pekerjaan nan dianggap sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Sementara itu, lulusan SMA lebih banyak terkendala keahlian nan belum memadai serta minimnya pengalaman kerja. Kondisi tersebut membikin sebagian lulusan SMA kesulitan bersaing ketika masuk ke pasar kerja.
“Beberapa penyebabnya seperti itu. Jadi para lulusan sarjana ataupun magister dan seterusnya itu iya lantaran milih-milih pekerjaan, mereka enggan untuk terjun menjadi petani, nelayan ataupun lainnya,” ungkapnya.
Berdasarkan info nan dihimpun Klik Madura, terdapat enam status pekerjaan utama masyarakat Pamekasan per Agustus 2025. Keenamnya meliputi pekerja keluarga, berupaya dibantu pekerja tidak tetap, pekerja alias tenaga kerja alias pegawai, berupaya sendiri, pekerja bebas, serta berupaya dibantu pekerja tetap.
Dari enam status tersebut, pekerja family menjadi golongan nan cukup dominan dengan persentase mencapai 32,08 persen. Status tersebut menunjukkan seseorang bekerja membantu upaya family tanpa memperoleh penghasilan tetap, apalagi dalam sejumlah kondisi tidak mendapatkan upah.
“Karena ini statusnya membantu keluarga. Seperti anak membantu orang tua bertani, berjualan, menjaga toko, dan sebagainya,” kata Parsad.
Kondisi tersebut juga dirasakan sejumlah lulusan SMA di Pamekasan. Salah satunya Ipul, lulusan salah satu SMAN di Pamekasan, nan mengaku hingga satu tahun setelah kelulusan belum mendapatkan pekerjaan nan dianggap cocok.
Menurut dia, keterbatasan info mengenai program training kerja juga menjadi salah satu kendala. Ia mengaku belum mengetahui secara jelas adanya training nan diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Pamekasan.
“Untuk training di Pemkab saya juga kurang paham. Karena memang tidak tahu jika ada training itu,” tukasnya. (enk/nda)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·