KABAR MADURA | Di tengah gempuran produk tekstil modern, upaya Batik Tulis Tanjung Bumi milik Salma tetap memperkuat apalagi terus berkembang. Berbekal tekad melestarikan warisan keluarga, wanita asal Desa Lembung, Kecamatan Kokop, Bangkalan, itu bisa mempertahankan produksi batik tulis secara tradisional selama lebih dari dua dekade.
Usaha batik nan sekarang dikelolanya telah berdiri sejak 2002. Ummi Muyessaroh, sapaan akrabnya, memilih melanjutkan upaya nan telah dirintis kedua orang tuanya sebagai upaya menjaga tradisi sekaligus mempertahankan mata pencaharian keluarga.
“Ide upaya ini berasal dari kemauan meneruskan upaya keluarga. Orang tua saya lebih dulu berkecimpung di bumi batik, sehingga saya melanjutkan dan mengembangkannya,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Keahlian membatik nan dimilikinya pun diperoleh melalui proses panjang. Sejak kecil, dia belajar langsung dari sang ibu hingga akhirnya menguasai seluruh tahapan pembuatan batik tulis.
Usaha nan diberi nama Batik Mutiara itu tetap mempertahankan proses produksi secara tradisional. Berbeda dengan batik pabrikan, setiap motif digambar secara manual menggunakan tangan. Setelah kreasi selesai, proses pencantingan dilakukan oleh 15 perajin nan menjadi bagian dari usahanya.
Menariknya, kain batik nan telah dicanting tidak langsung memasuki tahap pewarnaan. Ummi Muyessaroh memilih menyimpan kain dalam kondisi separuh jadi, kemudian baru melakukan proses pewarnaan, pencucian, hingga finishing saat ada pesanan dari konsumen.
“Kalau sudah ada pembeli, baru dilakukan proses pewarnaan, pencucian, dan finishing sesuai kebutuhan,” ungkapnya.
Menurutnya, sistem itu bisa menjaga kualitas batik sekaligus memberikan keleluasaan bagi pembeli untuk menentukan warna sesuai keinginan.
Dalam sehari, usahanya bisa menghasilkan sekitar lima hingga tujuh lembar batik tulis. Sementara itu, rata-rata penjualan mencapai 100 hingga 150 lembar kain setiap bulan.
Pemasaran tetap didominasi penjualan secara langsung. Sebagian besar konsumen datang ke rumah produksi, sedangkan sebagian lainnya dipasarkan di area Tanjung Bumi nan dikenal sebagai sentra batik unik Madura.
“Pemesanan biasanya lewat WA. Alhamdulillah, sampai sekarang upaya tetap melangkah baik dan penjualan tetap stabil,” tuturnya.
Bagi Ummi Muyessaroh, kelebihan batik tulis nan diproduksinya tidak hanya terletak pada motif, tetapi juga pada proses pembuatannya nan sepenuhnya dikerjakan secara manual. Sentuhan tangan para perajin membikin setiap lembar kain mempunyai karakter, nilai seni, dan keaslian nan berbeda.
Di tengah berkembangnya industri batik modern, konsistensi mempertahankan teknik batik tulis menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat melangkah beriringan dengan pengembangan usaha. Bagi Ummi Muyessaroh, setiap lembar kain nan dihasilkan bukan sekadar produk untuk dijual, melainkan juga warisan budaya Madura nan terus dijaga agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (fik/zul)

2 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·