Nasab nan Menemukan Maknanya dalam Khidmah
Oleh: Abdul Hadi
Dalam tradisi masyarakat Madura, makam para leluhur bukan sekadar tempat berziarah. Ia adalah ruang ingatan kolektif nan menghubungkan masa lampau dengan masa kini. Dari sanalah nilai-nilai diwariskan, bukan hanya melalui silsilah keluarga, melainkan melalui keteladanan hidup, keilmuan, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat. Sebab itu, nama seorang leluhur tidak menjadi besar hanya lantaran banyaknya keturunan, melainkan lantaran nilai nan terus hidup dalam diri para penerusnya.
Dalam konteks itulah, keberadaan sejumlah pengurus strategis PCNU Sumenep Masa Khidmat 2026-2031 nan menurut silsilah family berasal dari garis keturunan Buju’ Abdul Akhir Arongan, menjadi menarik untuk direnungkan. Hal nan patut dicatat bukan semata-mata hubungan genealogis mereka, melainkan—kepemimpinan itu menjadi ruang pembuktian bahwa kemuliaan nasab—hanya bakal berarti andaikan diterjemahkan menjadi kemuliaan adab dan pengabdian.
Islam sejak awal telah meletakkan ukuran kemuliaan manusia bukan pada garis keturunan. Al-Qur’an menegaskan:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan Anda dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan Anda berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar Anda saling mengenal. Sesungguhnya nan paling mulia di antara Anda di sisi Allah adalah orang nan paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Ayat ini menjadi fondasi etika sosial Islam. Nasab adalah hidayah nan tidak dipilih oleh manusia, sedangkan ketakwaan adalah ikhtiar nan kudu diperjuangkan sepanjang hayat. Karena itu, kebanggaan terhadap leluhur tidak boleh berakhir sebagai romantisme sejarah, tetapi kudu melahirkan tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik family melalui karya dan kemanfaatan.
Nabi Muhammad Saw juga mengingatkan:
“Barang siapa nan diperlambat oleh amalnya, maka nasabnya tidak bakal bisa mempercepat kedudukannya.” (HR. Muslim).
Hadis ini memberikan pelajaran nan sangat mendalam. Di hadapan Allah, tidak ada keistimewaan nan lahir hanya lantaran seseorang berasal dari family terpandang. nan meninggikan derajat seseorang adalah kebaikan saleh, pengetahuan nan bermanfaat, dan pengabdian nan tulus.
Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, nilai tersebut telah menjadi ruh organisasi sejak didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Kepemimpinan di lingkungan NU bukanlah warisan nan otomatis beranjak berasas hubungan darah, melainkan amanah nan lahir dari kepercayaan, kapasitas, integritas, dan penerimaan jamaah. Karena itu, ketika terdapat beberapa tokoh nan mempunyai hubungan genealogis nan sama kemudian dipercaya mengemban amanah di PCNU Sumenep, perihal tersebut lebih tepat dipahami sebagai panggilan untuk memperbesar manfaat, bukan memperbesar kebanggaan.
Pada kepengurusan saat ini, KH. Ahmad Washil Hasyim, Rais Syuriyah PCNU Sumenep. Beliau dikenal sebagai ustadz nan teduh, bijaksana, serta bisa melindungi seluruh lapisan penduduk Nahdliyin. Kepemimpinannya berakar pada tradisi keilmuan pesantren nan kokoh, dengan visi membumikan Islam rahmatan lil ‘alamin melalui pendekatan nan santun, moderat, dan penuh hikmah. Sosoknya dikenal teduh dan mengayomi, dengan perhatian besar terhadap penguatan tradisi keilmuan pesantren.
Tokoh kedua adalah KH. Md. Widadi Rahim, Ketua PCNU Sumenep. Sebagai figur muda, beliau menghadirkan semangat baru dalam menggerakkan organisasi. Enerjik, komunikatif, dan piawai membangun konsolidasi menjadi karakter kepemimpinannya. Di bawah komandonya, PCNU Sumenep diarahkan menjadi organisasi nan adaptif terhadap perubahan era tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Di sisi lain, KH. Md. Widadi Rahim memimpin roda organisasi sebagai Ketua Tanfidziyah dengan semangat konsolidasi dan penguatan kelembagaan. Keduanya merepresentasikan keseimbangan antara otoritas keilmuan dan dinamika manajerial nan selama ini menjadi karakter unik Nahdlatul Ulama.
Figur berikutnya adalah KH. Muhammad Erfan Omar, Wakil Katib Syuriyah PCNU Sumenep. Beliau dikenal sebagai mahir kitab kuning dan mendalami pengetahuan fikih. Keramahan, kesederhanaan, serta keluasan wawasan keislamannya menjadikan beliau salah satu rujukan dalam beragam persoalan norma Islam. Keilmuan nan dimilikinya merupakan modal krusial dalam menjaga marwah Syuriyah sebagai penjaga tradisi keilmuan NU. Di jejeran Syuriyah, KH. Muhammad Erfan Omar dikenal sebagai pengkaji kitab kuning dan pendalaman fikih. Keilmuannya menjadi bagian krusial dalam menjaga kesinambungan tradisi intelektual pesantren.
Generasi muda juga tampil melalui Ra Ahmad Ulul Azmi (Ra Amm) pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Sumenep. Sosok nan mudah bergaul, penuh semangat, dan aktif mengembangkan bumi pesantren ini menunjukkan bahwa regenerasi kepemimpinan NU melangkah dengan baik. Kehadirannya menjadi angan bagi penguatan jaringan pesantren sebagai pedoman utama perjuangan Nahdlatul Ulama.
Ra Amm nan aktif di Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Sumenep, memperlihatkan bahwa estafet pengabdian kepada pesantren terus berlangsung.
Namun sesungguhnya, ukuran keberhasilan mereka bukanlah kedudukan nan sekarang disandang. Jabatan hanyalah ruang pengabdian nan berkarakter sementara. nan bakal dikenang masyarakat adalah apakah selama memegang amanah mereka bisa memperkuat ukhuwah, memperluas kemanfaatan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah nan paling berfaedah bagi manusia lainnya.” (HR. ath-Thabrani).
Hadis ini merupakan kompas moral bagi setiap pemimpin. Kepemimpinan bukanlah tentang kedudukan, melainkan tentang manfaat. Seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa tinggi dia berdiri, tetapi dari seberapa banyak orang nan dapat dia angkat. Tidak diukur dari seberapa besar kewibawaannya, tetapi dari seberapa luas kebermanfaatannya.
Dalam masyarakat pesantren, seorang keturunan ustadz sesungguhnya memikul beban moral nan lebih berat. Ia dituntut menjaga nama baik leluhurnya melalui kesederhanaan, keteladanan, dan keikhlasan dalam berkhidmat. Semakin besar nama family nan diwarisi, semakin besar pula tanggung jawab untuk membuktikan bahwa warisan itu hidup dalam perilaku sehari-hari.
Keberadaan para tokoh nan berasal dari garis keturunan Buju’ Abdul Akhir Arongan hendaknya dibaca sebagai pengingat bahwa sejarah tidak diwariskan untuk dibanggakan, melainkan untuk dilanjutkan. Warisan nan paling berbobot bukanlah silsilah, melainkan pengetahuan nan diajarkan, adab nan dicontohkan, dan faedah nan terus dirasakan masyarakat.
Pada akhirnya, nasab hanyalah titik awal sebuah perjalanan. nan menentukan kemuliaan seseorang bukanlah dari family mana dia berasal, melainkan jejak apa nan dia tinggalkan. Sebab sejarah selalu mengingat mereka nan mengabdikan hidupnya untuk umat, bukan sekadar mereka nan lahir dari family besar.
Ganding, 19 Juli 2026

4 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·