Kemarau Panjang, Warga Larlar Sampang Harus Beli Air Bersih Rp800 Ribu

1 jam yang lalu 3

Warga Desa Larlar, Kecamatan Banyuates, Sampang saat mengambil air bersih menggunakan deriken. (ALI MUCHTAR / KLIKMADURA)

SAMPANG || KLIKMADURA – Musim tandus membikin penduduk Desa Larlar, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, semakin kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut memaksa penduduk merogoh kocek lebih dalam lantaran nilai air nan dibeli sekarang disebut mencapai Rp800 ribu, dari sebelumnya sekitar Rp500 ribu.

Warga Dusun Durbugan, Desa Larlar, Aziz mengatakan, mahalnya nilai air semakin menambah beban kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Namun, kondisi tersebut membikin penduduk tidak mempunyai banyak pilihan setelah persediaan air hujan nan selama ini menjadi sumber utama mulai habis.

“Kalau air lenyap kudu beli untuk kebutuhan sehari-hari. Awalnya sudah sampai Rp500 ribu, sekarang apalagi sudah Rp800 ribu. Tapi meskipun harganya mahal tetap kudu beli lantaran butuh,” kata Aziz kepada Klik Madura, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, tingginya nilai air salah satunya dipengaruhi sulitnya akses menuju wilayah tersebut. Kondisi jalan nan rusak membikin biaya pengedaran air ke permukiman penduduk semakin tinggi.

“Air mahal lantaran aksesnya jauh, dan jalan menuju sini juga rusak,” ujarnya.

Selama musim penghujan, penduduk Desa Larlar mengandalkan air hujan nan ditampung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, memasuki musim kemarau, persediaan air tersebut semakin menipis hingga akhirnya tidak lagi mencukupi kebutuhan warga.

Pejabat Kepala Desa Larlar, Suhartono, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut terdapat empat dusun nan mengalami kesulitan air bersih, ialah Kajuabuh Dejeh, Kajuabuh Laok, Durbugan, dan Budauh.

“Ada empat dusun nan kesulitan air bersih di musim kemarau. Kondisi kesulitan air itu terjadi mulai bulan Juni kemarin,” kata Suhartono.

Suhartono mengatakan, pemerintah desa telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Sampang. Namun, hingga sekarang support pengedaran air dari pemerintah wilayah belum diterima secara optimal.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pemerintah desa kemudian menggandeng pihak swasta. Salah satunya melalui support pengedaran air dari KPRI Setia Bakti Banyuates.

“Tapi alhamdulillah, untuk mengatasi krisis air sementara, kami mendapat support dari KPRI Setia Bakti Banyuates. Mulai 20 Juli kemarin, sudah sekitar 30 tangki nan masuk ke empat dusun itu,” ujarnya.

Meski demikian, support tersebut belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan warga. Sebab, jumlah masyarakat nan terdampak di empat dusun tersebut diperkirakan mencapai sekitar 4.000 kepala keluarga.

“Dengan jumlah KK sekitar 4 ribuan, kami akui tidak bisa hanya mengandalkan support pengedaran air dari pemerintah,” imbuhnya.

Keterbatasan pasokan air juga disampaikan Kepala KPRI Setia Bakti Banyuates, A Juhari Candra. Menurutnya, permintaan support pengedaran air nyaris datang dari seluruh desa di Kecamatan Banyuates.

“Yang mengusulkan support pengedaran air nyaris semua desa nan ada di wilayah Kecamatan Banyuates. Sementara kapasitasnya hanya 50 tangki untuk tahun 2026 ini,” ungkapnya.

Di tengah terbatasnya support distribusi, penduduk Larlar terpaksa membeli air secara berdikari untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Harga nan mencapai Rp800 ribu pun menjadi beban tersendiri bagi masyarakat nan kudu menghadapi tandus berkepanjangan.

Bagi warga, persoalan air bersih sekarang bukan lagi sekadar soal mahal alias murah. Air menjadi kebutuhan dasar nan tetap kudu dipenuhi, meski kudu mengeluarkan biaya besar di tengah kondisi ekonomi masyarakat nan terbatas. (ali/nda)

Selengkapnya