Cerita Relawan Pendidikan Sambang Sekolah, Literasi di Pamekasan Tidak Sepenuhnya Merdeka

1 jam yang lalu 3

HUT RI ke-81

KABAR MADURA | Keterbatasan materi tidak menjadi argumen bagi Rani Bagos Ghafiqie untuk berakhir berbagi. Pria kelahiran 19 April 2000 itu memilih menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk membantu anak-anak mendapatkan akses pendidikan dan literasi secara lebih merata.

Keterlibatan Ghafi sebagai relawan pendidikan dimulai pada 2021. Saat itu, pandemi Covid-19 membikin aktivitas perkuliahan berjalan secara daring. Kondisi tersebut mendorongnya mencari aktivitas nan dapat membikin waktunya lebih produktif sekaligus berfaedah bagi orang lain.

Ghafi kemudian berasosiasi dalam program Sambang Sekolah nan digagas organisasi Compok Literasi. Melalui aktivitas tersebut, Ghafi nan kala itu tetap berstatus mahasiswa semester lima IAIN Madura, nan sekarang menjadi UIN Madura, terjun langsung membantu proses belajar anak-anak di sejumlah sekolah di Kota Gerang Salam.

“Memang dari dulu sudah ada kecenderungan di bumi pendidikan. Sejak duduk di bangku SMA, saya sudah ngajar ekstrakurikuler di jenjang SD,” jelasnya, Selasa (18/8/2026).

Keputusannya menjadi relawan juga berangkat dari kegelisahan memandang tetap adanya anak nan mengalami kesulitan membaca. Salah satu pengalaman nan paling membekas terjadi saat mengikuti aktivitas Sambang Sekolah pada 2021.

Kala itu, Ghafi menemukan seorang siswa kelas 5 nan belum bisa membaca. Melalui kegigihan sang anak dan pendampingan secara intensif, keahlian membaca anak itu akhirnya mengalami perkembangan. Dalam waktu sekitar dua minggu, dia sudah bisa membaca.

Bagi Ghafi, pengalaman itu menjadi salah satu momen nan paling membahagiakan selama menjalani aktivitas sebagai relawan.

“Kalau tidak bisa membantu secara materi, saya berpikir setidaknya bisa membantu dengan tenaga dan pikiran,” tambahnya.

Menurut Ghafi, persoalan pendidikan dan literasi tidak hanya berangkaian dengan keahlian membaca. Semangat belajar serta ketimpangan akses terhadap pendidikan juga menjadi persoalan nan perlu mendapat perhatian bersama.

Dia menilai kondisi literasi di Pamekasan saat ini cukup berkembang. Hal itu tidak lepas dari banyaknya organisasi nan bergerak di bagian literasi. Meski demikian, tetap terdapat anak-anak nan memerlukan pendampingan secara langsung, terutama di wilayah nan akses pendidikan dan literasinya belum mendukung.

“Pendidikan dan literasi di Pamekasan tetap memerlukan intervensi dan pembelaan dari semua pihak. Sebab, akses terhadap literasi dan pendidikan sejatinya belum sepenuhnya merata,” katanya.

Selama menjadi relawan, Ghafi mengaku tidak merasa terbebani meski aktivitas tersebut dilakukan tanpa hadiah materi. Sebaliknya, dia justru merasa senang lantaran dapat memberikan faedah bagi orang lain.

Baginya, menjadi relawan merupakan corak sederhana untuk berbagi. Ketika tidak mempunyai cukup materi untuk disumbangkan, waktu, tenaga, dan pikiran tetap dapat menjadi sesuatu nan berfaedah bagi orang lain.

“Berbicara soal pendidikan dan literasi, Pamekasan tidak sepenuhnya merdeka saat ini. Karena tetap banyak PR nan perlu dikawal berbareng dari lintas sektor agar akses pendidikan dan literasi merata,” tukas Ghafi. (nur/zul)

Selengkapnya