Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
*) Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Madura, Redaktur Kabar Madura
Usia 118 tahun.
Anda bisa membayangkan hidup selama itu?
Coba hitung mundur. Berarti beliau lahir di tahun 1908. Tahun ketika organisasi Budi Utomo baru didirikan. Tahun saat Belanda tetap pongah-pongahnya menjajah negeri ini. Perang Dunia Pertama apalagi belum meletus.
Dan orang itu tetap hidup sampai sekarang. Bernapas. nan paling penting: secara administratif tercatat resmi di sistem kependudukan negara kita.
Bukan hanya satu orang. Ada dua. nan satu usianya 118 tahun. Satunya lagi beda tipis: 117 tahun.
Yang lebih mengejutkan lagi: dua-duanya berasal dari Madura. Dari Bangkalan dan Pamekasan.
Data ini bukan desas-desus. Bukan hoaks. Bukan pula berita burung dari grup WA keluarga. Ini rilis resmi. Dirjen Dukcapil Kemendagri nan mengumumkannya langsung. Tepatnya di aktivitas Rakornas Dukcapil, Agustus 2026, berasas pemutakhiran info bersih Semester I tahun 2026.
Yang nomor satu, si pemegang rekor 118 tahun, tinggal di Bangkalan. nan nomor dua, 117 tahun, bermukim di Pamekasan.
Sayang seribu sayang, Pak Dirjen Teguh tidak membocorkan identitas mereka. Siapa namanya? Laki-laki alias perempuan? Apakah tetap bisa melangkah alias sudah tergolek di kasur?
Di atas panggung, beliau hanya melempar gurauan: “Kita kudu langsung wawancarai, kira-kira apa sih jamunya beliau-beliau itu?”
Gurauan nan disambut tawa. Tapi juga sangat masuk akal. Jamu Madura memang sudah melegenda ke mana-mana. Bikin kuat. Bikin awet muda. Dan bikin rumah tangga harmonis. Ramuan Madura katanya.
Jangan-jangan memang ada ramuan rahasia di kembali usia 118 tahun itu. Ramuan rempah antik nan belum tersentuh hiruk-pikuk pabrik farmasi.
Tapi, saya kok lebih percaya pada aspek lain. Bukan sekadar jamu nan ditumbuk dan diminum.
Ini soal karakter.
Orang Madura itu kuat secara mental. Merantau ke wilayah mana saja berani. Buka warung kelontong 24 jam sanggup melek. Jadi tukang cukur, jualan sate, sampai jadi bos besi tua. Semua dilakoni tanpa banyak gengsi.
Tidak sedikit juga nan jadi kaum terpelajar. Jadi menteri, tentara, personil dewan, dosen, wartawan, hingga gubernur.
Di kembali keuletan dan kerasnya keringat itu, rata-rata mereka punya tingkat kepasrahan nan luar biasa. Pasrah kepada Sang Pencipta. Urusan ibadah kencang, kerja keras banting tulang, lampau hasilnya diserahkan total pada Tuhan. Ikhlas.
Mungkin kelapangan dada dan keikhlasan itulah “jamu” nan sebenarnya. Antistres paling mujarab di dunia. Bebas overthinking.
Tentu, temuan info Dukcapil ini membawa pesan makro nan menggembirakan. Angka angan hidup di Indonesia makin baik.
Di forum nan sama, Pak Teguh juga merilis nomor nan tak kalah bikin merinding: total masyarakat Indonesia pertengahan 2026 ini sudah tembus 290,1 juta jiwa. Hampir 300 juta!
Dan nan paling melegakan, 69,3 persennya adalah golongan usia produktif (15-64 tahun). Angka pastinya sekitar 201 juta jiwa.
Ini dia nan selalu diteriakkan para ekonom: bingkisan demografi. Kita punya modal tenaga kerja raksasa. Anak-anak muda nan tenaganya sedang mekar-mekarnya.
Tapi ingat, bingkisan ini bisa berbalik jadi bencana.
Syaratnya sudah diingatkan: pendidikan kudu berkualitas, training kerja memadai, dan jasa kesehatan merata. Kalau kandas menyediakannya? Bonus itu bakal jadi beban demografi. Anak muda menganggur, frustrasi, dan nomor kejahatan naik.
Maka, pekerjaan rumah pemerintah kita sebenarnya ada dua.
Pertama, segera daftarkan dua sesepuh dari Madura itu ke rekor MURI. Sekaligus sowan, mengorek pengetahuan kehidupan dari mereka berdua.
Kedua, secepatnya meracik “jamu” untuk 201 juta anak muda kita. Tentu, bukan jamu kuat. Tapi jamu pendidikan, jamu keterampilan, dan jamu lapangan kerja.
KPI dan KPID punya tugas juga di situ: menjaga agar siaran sehat tetap menjadi konsumsi masyarakat Indonesia agar kehidupannya tetap sehat.
Harapannya agar kelak, jutaan generasi muda ini bisa hidup sejahtera, bahagia, dan tidak menjadi tulang punggung negara. Persis seperti dua manusia dahsyat dari pulau garam itu.
Luar biasa. (*)

2 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·