Hj. Ansari: Karakter Anak Dibentuk Lewat Sentuhan Guru, Bukan Sakadar Transfer Ilmu

1 jam yang lalu 3

Pamekasan, (Media Madura) – Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Ansari, menegaskan bahwa pembentukan karakter anak tidak cukup hanya melalui penyampaian materi pelajaran, tetapi memerlukan sentuhan, keteladanan, dan kasih sayang dari seorang guru. Hal itu disampaikannya saat menjadi pemateri dalam aktivitas Upgrading Fasilitator Sekolah Alam Excellentia (SAE) Pamekasan di Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Jumat (7/8/2026).

Politisi Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil Jawa Timur XI Madura itu membujuk para pembimbing untuk menjadikan pendidikan karakter sebagai fondasi utama dalam mendampingi tumbuh kembang anak sejak usia dini.

Menurut Hj. Ansari, pembimbing mempunyai peran nan jauh lebih besar daripada sekadar mengajarkan membaca, menulis, alias berhitung. Guru adalah orang tua kedua nan ikut membentuk kepribadian dan masa depan anak.

“Ilmu sekarang bisa diakses dari mana saja, apalagi lewat gawai. Tetapi tatapan mata guru, pegangan tangan, pelukan, perhatian, dan kata-kata nan menguatkan tidak bakal pernah bisa digantikan oleh mesin alias robot. Itulah nan membentuk karakter anak,” katanya.

Hj. Ansari juga mengingatkan bahwa setiap anak mempunyai karakter dan karakter nan berbeda. Karena itu, pembimbing tidak boleh mudah memberi label negatif kepada peserta didik.

“Tidak ada anak nan nakal. nan ada adalah anak nan aktif, komunikatif, dan mempunyai langkah belajar nan berbeda. Setiap anak adalah pribadi nan spesial bagi orang tuanya. Tugas pembimbing adalah menemukan potensi itu dengan kasih sayang dan kesabaran,” terang Hj. Ansari.

Pihaknya menilai pembimbing perlu memberikan kasih sayang nan sama kepada seluruh anak, meski pendekatan nan digunakan dapat berbeda sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik.

Dalam pemaparannya, Hj. Ansari menekankan bahwa pendidikan karakter justru paling kuat dibangun pada jenjang pendidikan usia awal seperti TPA, Kelompok Bermain (KB), dan Taman Kanak-kanak (TK).

“Penentu karakter itu dimulai sejak TPA, KB, dan TK. Ketika anak masuk SD dengan karakter nan baik, itu merupakan hasil kerja keras guru-guru pendidikan usia awal nan telah meletakkan fondasi kepribadiannya,” ungkap alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan tersebut.

Hj. Ansari juga membujuk pembimbing untuk terus membangun kerjasama dengan orang tua lantaran pendidikan karakter tidak dapat dilakukan sekolah sendirian. Sinergi antara family dan sekolah dinilai menjadi kunci agar anak tumbuh menjadi pribadi nan cerdas, berakhlak, serta mempunyai mental nan kuat.

“Sekolah dan orang tua kudu melangkah bersama. Anak tidak hanya memerlukan ilmu, tetapi juga doa, perhatian, keteladanan, dan lingkungan nan mendukung agar tumbuh menjadi generasi nan berbudi pekerti dan membanggakan bangsa,” tutup Hj. Ansari. (Znl/Arif)

Selengkapnya