KABAR MADURA | Di tengah perubahan selera pasar dan kenaikan nilai bahan baku, Homiyyah tetap mempertahankan upaya batik tulis keluarganya di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan. Usaha nan dijalankan sejak 1996 itu menjadi bagian dari warisan family nan diteruskan secara turun-temurun.
Hampir tiga dasawarsa berjalan, proses produksi tetap mengandalkan keahlian tangan para perajin. Berbagai jenis batik dihasilkan, mulai dari batik Marlena, sarung, hingga kain batik dengan beragam motif.
“Kain batik nan diproduksi saya ini menggunakan bahan berbobot seperti kain Super B hingga Sada,” ungkap Homiyyah, Rabu (30/9/2026).
Setiap lembar batik memerlukan proses panjang dan ketelitian. Pengerjaan dimulai dari pembuatan motif menggunakan teknik canting maupun colet. Kain kemudian memasuki proses pewarnaan secara berjenjang selama beberapa hari.
Setiap selesai satu tahap pewarnaan, bagian tertentu pada motif kembali ditutup menggunakan malam agar warna tidak bercampur ketika kain dicelupkan ke warna berikutnya.
“Setiap kali pewarnaan selesai, bagian motif tertentu ditutup kembali dengan cairan malam (lilin) agar warnanya tidak tercampur saat dicelupkan ke warna berikutnya, seperti warna kuning, hijau, hingga warna dasar hitam,” jelasnya.
Setelah seluruh proses pewarnaan selesai, kain direbus untuk meluruhkan malam nan menempel. Kain kemudian dicuci dan dijemur hingga akhirnya siap dipasarkan.
Usaha tersebut sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi penduduk sekitar. Homiyyah mempekerjakan sekitar enam hingga tujuh orang nan berbagi tugas, mulai dari pengerjaan motif hingga proses pewarnaan dan pencelupan.
Dalam sepekan, produksinya dapat mencapai sekitar 150 lembar batik. Harga jual berbeda berasas bahan dan motif nan digunakan.
“Kalau batik Marlena itu harganya Rp80.000 per lembar, jika batik motif biasa itu Rp55.000 per lembar,” tambahnya.
Produk tersebut dipasarkan secara langsung di pasar lokal setiap hari. Homiyyah juga mulai memanfaatkan WA untuk menerima pesanan secara daring. Menurutnya, produknya pernah diminati pembeli dari luar wilayah hingga visitor asal Australia.
Penjualan biasanya meningkat pada momentum tertentu, seperti Ramadan dan musim panen tembakau. Namun, mempertahankan upaya batik tidak selalu mudah. Homiyyah mulai merasakan kenaikan sejumlah bahan produksi.
“Harga bahan bahan seperti obat pewarna dan bahan kain naik sekitar Rp2.000, sedangkan nilai malam alias lilin naik hingga Rp5.000,” keluhnya.
Di luar persoalan bahan baku, tantangan nan lebih besar adalah menjaga pasar. Homiyyah merasakan minat terhadap batik mulai menurun sehingga produk tidak selalu terserap sesuai harapan.
Kondisi tersebut tidak membuatnya meninggalkan upaya nan telah diwariskan keluarganya. Dia berambisi batik tulis tetap mendapatkan tempat di tengah perubahan zaman, sekaligus bisa mengikuti perkembangan pasar tanpa kehilangan karakter dan proses tradisionalnya.
Bagi Homiyyah, mempertahankan upaya tersebut bukan hanya persoalan menjual selembar kain. Di kembali setiap motif nan dibuat, ada keahlian para perajin dan warisan family nan telah dijaga selama nyaris tiga dekade. (fit/waw)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·