KABAR MADURA | Telapak tangan Sirat dan Marbhu’ah tetap setia bergesekan dengan tanah liat. Sejak 1981, pasangan suami istri asal Dusun Asempitu, Desa Pademawu Barat, Pamekasan, itu mempertahankan langkah lama membikin gerabah: dibentuk dengan tangan, dijemur matahari, kemudian dibakar menggunakan daun-daun kering.
Lebih dari empat dasawarsa berlalu, langkah itu nyaris tidak berubah. Di saat sebagian perajin gerabah di desanya memilih berhenti, Sirat dan Marbhu’ah tetap memperkuat meneruskan keahlian nan diwariskan family secara turun-temurun.
Keduanya mulai menekuni pembuatan gerabah ketika baru berkeluarga. Bukan dengan mesin modern, melainkan mengandalkan tenaga, ketelatenan, dan keahlian tangan nan diasah dari tahun ke tahun.
“Proses pembuatan gerabah tetap dilakukan sepenuhnya dengan tangan. Tanah liat dicampur pasir pantai, diaduk dengan diinjak, lampau diletakkan pada perangkat pemutar untuk dibentuk secara manual menggunakan tangan, dijemur di bawah matahari, dan dibakar memakai api dari daun kering,” ujar Sirat.
Hari-hari pasangan tersebut melangkah dengan pembagian pekerjaan nan telah terbentuk selama puluhan tahun. Sirat bekerja mengaduk tanah, membentuk, hingga membakar gerabah. Sementara Marbhu’ah membikin tutup, menjemur, dan mengumpulkan gerabah nan telah selesai dibuat.
Meski hanya dikerjakan berdua, tangan keduanya bisa menghasilkan sekitar 30 hingga 35 gerabah dalam sehari. Dalam sepekan, produksinya dapat mencapai 220 hingga 240 buah.
Gerabah nan telah terkumpul kemudian dibakar seminggu sekali. Mereka tetap mempertahankan proses manual lantaran dinilai lebih fleksibel, mudah dikendalikan, serta bisa menghasilkan corak nan rapi. Penggunaan mesin justru dianggap lebih rentan mengalami kerusakan dan tidak semudah tangan mereka dalam mengendalikan corak gerabah.
Hasil kerja Sirat dan Marbhu’ah kemudian beranjak dari rumah sederhana tempat produksinya menuju beragam daerah. Sebagian besar dibeli pengepul untuk dipasarkan di sejumlah pasar di Pamekasan hingga Omben, Kabupaten Sampang.
Gerabah mereka apalagi mempunyai kegunaan khusus. RSIA Puri Bunda Madura di Sumur Putih disebut menjadi salah satu pengguna gerabah buatan pasangan tersebut sebagai wadah ari-ari bayi nan baru lahir.
Dari ratusan gerabah nan diproduksi setiap pekan, pendapatan kotor mereka berkisar Rp1,8 juta hingga Rp2 juta. Sementara untung bersih dalam sebulan diperkirakan mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta.
Hasil itulah nan selama bertahun-tahun turut menopang kehidupan keluarga. Dari tanah liat nan diinjak dan dibentuk dengan tangan, Sirat dan Marbhu’ah bisa membantu memenuhi kebutuhan family hingga membiayai pendidikan anak dan cucu mereka.
Bagi pasangan tersebut, tantangan mempertahankan gerabah tradisional sekarang bukan semata persoalan proses produksi. Kekhawatiran nan lebih besar justru datang dari semakin sedikitnya masyarakat nan meneruskan upaya tersebut.
Pembuatan gerabah nan dulu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya perlahan mulai ditinggalkan sebagian perajin di desa mereka.
Sirat dan Marbhu’ah berambisi generasi muda tidak membiarkan keahlian tersebut berakhir pada generasi mereka. Kerajinan gerabah dinilai bukan hanya mempunyai nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari pengetahuan dan kearifan lokal nan diwariskan keluarga-keluarga perajin di Madura.
Setelah lebih dari empat dekade, tangan Sirat dan Marbhu’ah tetap melakukan pekerjaan nan sama. Tanah liat terus diaduk, perangkat pemutar tetap bergerak, dan gerabah kembali dijemur menunggu pembakaran.
Di tengah semakin sedikitnya orang nan memilih bertahan, keduanya terus menjaga agar tradisi dari tanah liat itu tidak ikut berhenti. (Muhaimin/Imamatul Hasanah/Fadilatul Kamilah/waw)

2 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·