PORTALMADURA.COM, Jakarta – PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan lonjakan keahlian finansial nan sangat signifikan pada separuh pertama tahun ini. Perusahaan produsen rokok raksasa tersebut membukukan peningkatan untung bersih hingga 2.440 persen pada semester I-2026.
Berdasarkan laporan finansial perseroan per 30 Juni 2026, untung bersih nan dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meledak menjadi Rp2,97 triliun. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode nan sama pada tahun 2025 nan tercatat sebesar Rp117,16 miliar. Lonjakan performa ini sekaligus mengerek untung per saham (EPS) GGRM dari Rp61 menjadi Rp1.547 per lembar.
Pantauan portalmadura.com menunjukkan bahwa kunci utama dari lompatan untung bersih ini terletak pada keberhasilan perseroan menekan biaya operasional. Meskipun total pendapatan perseroan terkoreksi 7,19 persen menjadi Rp41,17 triliun, langkah efisiensi nan garang bisa menjaga margin untung tetap tebal. Penurunan omzet terutama dipengaruhi oleh segmen sigaret kretek mesin (SKM) nan menyumbang 89 persen dari penjualan, di mana lini ini mengalami penurunan sebesar 7,88 persen.
Gudang Garam memangkas beban pokok penjualan secara signifikan hingga 13,28 persen menjadi Rp35,19 triliun. Berkat penghematan tersebut, untung bruto perseroan sukses tumbuh mengesankan mencapai Rp5,98 triliun dengan margin kian sehat di nomor 14,5 persen.
Dampak Positif pada Saham dan Unit Infrastruktur
Pencapaian finansial nan solid ini direspons positif oleh para pelaku pasar modal. Pada rentang perdagangan 3 hingga 7 Agustus 2026, nilai saham GGRM menguat 14,34 persen hingga menyentuh Rp21.725 per lembar. Bahkan, saham perseroan sempat menembus level tertinggi tahunannya di posisi Rp21.800. Tren positif ini turut didorong oleh tindakan borong penanammodal asing nan membukukan nilai beli bersih (net buy) mencapai Rp130,39 miliar dalam sepekan.
Di sisi lain, lini upaya prasarana Gudang Garam tetap mencatatkan kerugian operasional sebesar Rp166,9 miliar pada semester I-2026. Kendati memangkas sekitar 4 persen dari total untung operasional upaya rokok nan mencapai Rp4,11 triliun, nomor kerugian sektor non-rokok ini sebenarnya telah menyusut secara drastis dari periode sebelumnya nan sempat menyentuh Rp332,78 miliar.
Penekanan rugi di sektor prasarana disokong oleh masuknya pendapatan dari pengerjaan proyek pembangunan jalan tol Kediri-Tulungagung sebesar Rp465,72 miliar. Sementara itu, kontribusi pendapatan dari operasional Bandara Dhoho Kediri nan dikelola melalui anak usahanya, PT Surya Dhoho Investama, tercatat tetap terbatas.
Hingga penutupan Juni 2026, kondisi esensial perseroan terpantau sangat kokoh. Total aset Gudang Garam menguat ke posisi Rp77,87 triliun dengan posisi kas dan setara kas nan tebal sebesar Rp8,71 triliun, serta total liabilitas nan terukur di level Rp13,77 triliun.

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·