KABAR MADURA | Perjalanan panjang Moh. Naufal Abror, S.T., M.M., dari sebuah dusun mini di pesisir Madura hingga menjadi pengajar dan kandidat ahli di Universitas Indonesia (UI), bukan sekadar perjalanan pendidikan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi rekam jejak seorang pemuda nan menjadikan organisasi dan bumi akademik sebagai dua ruang untuk mengabdi dan berkontribusi bagi masyarakat.
Sosok nan sekarang mengajar di Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura itu mengawali pendidikan di MI Miftahul Ulum, kemudian melanjutkan ke SMP Islam dan SMA Nurul Jadid. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 di UNIBA Madura, dia meraih gelar Magister Manajemen dari STIE Mahardhika Surabaya. Kini, dia tengah membidik pendidikan doktoral di UI sebagai bagian dari komitmennya untuk terus memperluas kapabilitas keilmuan.
Namun, perjalanan Naufal tidak hanya berkutat di bumi akademik. Sejak menjadi pelajar hingga mahasiswa, dia aktif dalam beragam organisasi, di antaranya IPNU, PMII, serta sejumlah aktivitas kemasyarakatan. Kiprahnya kemudian membawanya dipercaya sebagai Presiden Mahasiswa UNIBA Madura pada 2021 dan Koordinator Isu Bidang Ekonomi BEM Nusantara Jawa Timur pada 2022.
Bagi Naufal, keterlibatan dalam organisasi bukan sekadar aktivitas tambahan di luar pendidikan. Organisasi menjadi ruang baginya untuk belajar sekaligus terlibat secara langsung dalam upaya mendorong perubahan sosial.
“Tentu adalah untuk gimana bisa berjuang dan berkontribusi langsung terhadap perubahan masyarakat ke arah nan lebih baik,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).
Dia menyadari, setiap organisasi mempunyai dinamika dan persoalan masing-masing. Namun, beragam pengalaman tersebut justru menjadi proses nan membentuk karakter dan memperluas langkah pandangnya.
“Bicara soal masalah di organisasi manapun nan pernah saya ikuti, tentu ada banyak sekali persoalan dan dinamika. Namun justru lantaran itulah saya bisa terbentuk seperti saat ini,” jelasnya.
Menurut Naufal, pemahamannya terhadap pendidikan dan masyarakat juga tidak terbentuk secara instan. Pengalaman di bumi akademik dan organisasi menjadi bagian dari proses panjang nan membentuk pola pikirnya. Dia memandang aktivitas akademik dan aktivitas sebagai dua perihal nan saling melengkapi dalam membentuk karakter.
“Saya banyak mendapatkan pengetahuan di akademisi. Jadi bagi saya akademisi dan aktivis adalah dua perihal nan tidak bisa lepas dalam membentuk karakter seseorang. Termasuk saya,” tuturnya.
Pandangan tersebut sekarang dia bawa ke ruang kelas. Bagi Naufal, pengetahuan pengetahuan tidak semestinya berakhir pada teori, tetapi perlu dikaitkan dengan persoalan nyata nan dihadapi masyarakat.
Salah satu cita-cita nan mau terus dia perjuangkan adalah terbukanya akses pendidikan nan layak bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat Madura.
Meski telah menyelesaikan dua jenjang pendidikan tinggi dan berkarier sebagai dosen, Naufal tidak memilih berakhir pada pencapaian tersebut. Rencananya melanjutkan pendidikan doktoral di UI menjadi bagian dari ikhtiar untuk meningkatkan kapabilitas sekaligus memperluas ruang kontribusinya bagi masyarakat dan kampung halaman.
Latar belakang sebagai anak desa, menurutnya, bukan argumen untuk membatasi langkah. Justru dari sanalah semangat untuk terus belajar dan memperjuangkan cita-cita tumbuh.
“Tidak ada nan tidak mungkin selagi kita tetap mau memperjuangkan mimpi,” pungkasnya. (km97/ong)
Visited 1 times, 1 visit(s) today

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·