Dari Karduluk ke Bali, Popos Daun Siwalan Makin Bernilai Ekonomi

1 jam yang lalu 2

KABAR MADURA | Usaha mikro, mini dan menengah (UMKM) pengolahan daun siwalan menjadi popos di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura, bisa memperkuat hingga lebih dari satu dekade. Produk nan awalnya hanya berbobot tinggi pada momen tertentu, sekarang mempunyai pasar nan lebih luas hingga ke Bali. 

Salah satu pengepul popos daun siwalan, Khairudin, mengatakan upaya tersebut telah menjadi salah satu aktivitas ekonomi masyarakat Karduluk selama nyaris 10 tahun lebih. Daun siwalan nan dikumpulkan kemudian melalui proses pengeringan sebelum dipasarkan. 

“Daun siwalan itu dikeringkan dulu alias dijemur oleh para pelaku UMKM. Setelah kering kemudian dikumpulkan dan dijual,” kata Khairudin. 

Menurutnya, keberadaan upaya popos membikin daun siwalan mempunyai nilai ekonomi nan lebih tinggi bagi masyarakat. Bahkan, bagi sebagian pelaku UMKM, upaya tersebut tidak sekadar menjadi pekerjaan sampingan, tetapi sudah berkembang menjadi sumber pendapatan. 

Tidak sedikit pula pelaku upaya nan memanfaatkan aktivitas tersebut sebagai bagian dari pengembangan upaya dengan mengakses pembiayaan perbankan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). 

“Usaha ini menjadi lebih berbobot lantaran ada nan menampung dan memasarkannya. Ada juga pelaku UMKM nan menjadikan upaya ini sebagai jenis upaya untuk mengusulkan pinjaman ke bank alias KUR,” ujarnya. 

Khairudin menjelaskan, kondisi pasar popos daun siwalan saat ini berbeda dibandingkan sekitar 15 tahun lalu. Kala itu, daun siwalan lebih banyak mempunyai nilai ekonomi ketika mendekati Hari Raya Ketupat. 

Pada periode tersebut, popos biasanya dijual ke sejumlah kabupaten lain di Madura untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada momen Lebaran Ketupat. 

Namun, seiring berkembangnya upaya dan jaringan pemasaran, permintaan sekarang tidak hanya berasal dari Madura. Pasokan popos daun siwalan dari Karduluk apalagi bisa menjangkau Bali. 

Perluasan pasar tersebut membikin aktivitas pengolahan daun siwalan mempunyai nilai ekonomi nan lebih menjanjikan bagi masyarakat desa. 

“Kalau dulu sekitar 15 tahun lalu, daun popos lebih berbobot saat Hari Raya Ketupat lantaran dijual ke kabupaten lain di Madura. Sekarang pasarnya sudah lebih luas, apalagi bisa sampai Bali,” jelas Khairudin. 

Dari sisi pendapatan, upaya popos juga dinilai cukup menjanjikan. Dalam satu kali pengambilan bahan baku dari beberapa pohon milik sendiri maupun hasil membeli daun siwalan dari wilayah lain, omzet nan diperoleh pelaku UMKM apalagi bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. 

Nilai tersebut tentu berjuntai pada jumlah daun nan diperoleh, nilai bahan baku, serta permintaan pasar. 

Bagi masyarakat Karduluk, upaya tersebut menjadi contoh gimana komoditas nan sebelumnya dianggap sederhana dapat mempunyai nilai ekonomi ketika dikelola dan dipasarkan secara berkelanjutan. 

“Keberadaan UMKM popos juga menunjukkan bahwa potensi ekonomi desa tidak selalu berasal dari produk baru. Komoditas lokal nan telah lama dikenal masyarakat pun dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan andaikan mempunyai jaringan pasar nan kuat,” pungkasnya. (ara/waw)

Selengkapnya