Bupati Fauzi Ajak Masyarakat Jaga Warisan Raja-Raja, dari Nilai Agama hingga Gotong Royong

1 jam yang lalu 6

Bupati Sumenep Dr. Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan sambutan saat haul raja-raja. (KLIKMADURA)

SUMENEP || KLIKMADURA – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, membujuk masyarakat Madura menjaga warisan nilai-nilai luhur nan diwariskan para raja dan pemimpin terdahulu.

Pesan tersebut disampaikan dalam Haul Akbar Raja-Raja Madura nan digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep di depan Masjid Agung Sumenep, Jumat malam (30/10/2026).

Di hadapan ribuan masyarakat nan hadir, Fauzi menegaskan bahwa penghormatan terhadap leluhur tidak cukup diwujudkan melalui aktivitas seremonial. Generasi sekarang kudu meneruskan keteladanan para pendahulu, terutama dalam menjaga nilai keagamaan, menghormati orang tua dan guru, memperkuat perekonomian, serta merawat kerukunan dan semangat gotong royong.

Menurut Fauzi, Haul Akbar Raja-Raja Madura nan telah dilaksanakan selama lima tahun tersebut merupakan corak penghormatan terhadap para pemimpin terdahulu nan telah meletakkan fondasi kehidupan masyarakat.

Tradisi itu sekaligus menjadi ruang refleksi untuk memahami perjalanan sejarah dan memperkuat identitas masyarakat Madura.

“Haul Raja-Raja Madura ini sudah kita laksanakan selama lima tahun. Tujuannya untuk memberikan penghormatan kepada para pendahulu, khususnya atas fondasi nan telah mereka bangun dalam beragam aspek kehidupan masyarakat,” katanya.

Fauzi menjelaskan, warisan para pemimpin terdahulu tidak hanya berangkaian dengan tata pemerintahan, tetapi juga mencakup kehidupan keagamaan, sosial, dan ekonomi. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian krusial dalam membentuk karakter masyarakat Madura hingga saat ini.

Ia mencontohkan, penghormatan kepada orang tua, guru, dan sesama merupakan aliran nan kudu terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, nilai kesopanan dan penghormatan tersebut menjadi salah satu karakter krusial nan diwariskan para pendahulu kepada generasi penerus.

“Para pemimpin kita selalu mengingatkan agar kita menghormati dan menghargai orang nan lebih tua, bersikap sopan kepada orang tua, serta menghormati para guru. Nilai-nilai seperti inilah nan kudu terus kita jaga,” ungkapnya.

Selain itu, Fauzi menilai peran ustadz dan pembimbing sangat krusial dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai luhur masyarakat Madura. Kehadiran para kiai, ulama, dan tokoh pendidikan dalam aktivitas tersebut menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter generasi penerus tidak dapat dilepaskan dari peran tokoh kepercayaan dan pendidik.

Fauzi juga menyoroti warisan para leluhur dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Tradisi bertani, berdagang, dan berusaha, menurutnya, merupakan bagian dari fondasi kehidupan nan perlu terus dikembangkan agar masyarakat bisa menghadapi tantangan zaman.

“Para pemimpin terdahulu telah memberikan pelajaran tentang gimana bertani, berdagang, dan berusaha. Mereka meletakkan fondasi agar masyarakat mempunyai keahlian untuk membangun kehidupan ekonomi nan lebih baik,” jelasnya.

Karena itu, Fauzi mengingatkan bahwa pembangunan wilayah saat ini merupakan bagian dari perjalanan panjang nan telah dirintis oleh generasi sebelumnya. Tanggung jawab generasi sekarang adalah melanjutkan beragam nilai positif tersebut sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, dia juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan, toleransi, dan semangat gotong royong. Fauzi menyebut, kehidupan masyarakat Madura selama ini tumbuh melalui nilai kekeluargaan, kebiasaan saling membantu, serta penghormatan terhadap perbedaan.

“Kebersamaan dan gotong royong merupakan pelajaran dari para pendahulu kita. Mereka mengajarkan gimana kita saling membantu, menjaga kekeluargaan, dan hidup rukun dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.

Ia menambahkan, semangat toleransi perlu terus dipertahankan agar masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai. Nilai tersebut bukan hanya menjadi warisan masyarakat Sumenep, melainkan juga bagian krusial dari identitas masyarakat di seluruh Pulau Madura.

Lebih lanjut, Fauzi menjelaskan bahwa sejarah kepemimpinan di Madura mempunyai keterkaitan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Hubungan sejarah tersebut tercermin dalam perjalanan empat kabupaten di Pulau Madura, ialah Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

“Semua mempunyai keterkaitan, mulai dari Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep. Inilah nan mendasari penyelenggaraan Haul Raja-Raja Madura dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Sumenep,” ujarnya.

Haul Akbar Raja-Raja Madura tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep tahun 2026. Kegiatan ini juga menjadi sarana mengenalkan sejarah dan keteladanan para raja kepada generasi muda agar mereka memahami asal-usul serta identitas daerahnya. (nda)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0