BUMDes Delta Mulia Perluas Bisnis, Pasar Desa Tetap Jadi Unit Usaha Utama

1 jam yang lalu 2

KABAR MADURA | Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Delta Mulia, Desa Panempan, Kecamatan Pamekasan, terus memperluas unit usahanya. Tidak hanya mengelola pasar desa, BUMDes nan berdiri sejak 2018 itu sekarang mengembangkan sejumlah jasa untuk menunjang aktivitas ekonomi dan kebutuhan masyarakat.

Sekretaris BUMDes Delta Mulia, Aflahal, mengatakan pasar desa menjadi unit upaya pertama sekaligus utama nan dikelola. Dalam perkembangannya, BUMDes mulai menjalankan sejumlah unit upaya dan jasa lainnya.

Di antaranya BRILink, jasa pembayaran listrik dan BPJS, Posfik untuk pembayaran pajak kendaraan, pinjaman berbasis syariah, tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R), program ketahanan pangan, hingga rumah kos nan mulai dijalankan tahun ini.

“Unit nan pertama itu pasar. Kemudian ada BRILink dan lainnya,” ujarnya.

Khusus pengelolaan pasar, BUMDes menempatkan satu petugas kebersihan, dua petugas keamanan, dan empat ahli parkir. Petugas tersebut disiapkan untuk menunjang kebersihan, keamanan, dan kenyamanan selama aktivitas perdagangan berlangsung.

Sayur-mayur dan ikan menjadi komoditas utama nan diperdagangkan di pasar tersebut. Namun, aktivitas perdagangan tetap menghadapi tantangan berupa perubahan nilai sejumlah bahan pokok.

Aflahal berambisi beragam unit upaya BUMDes Delta Mulia nan telah dikembangkan dapat terus bertumbuh sehingga tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi badan upaya desa, tetapi juga memberikan faedah ekonomi dan kemudahan jasa bagi masyarakat Desa Panempan.

Salah seorang pedagang, Matus, mengatakan nilai telur menjadi salah satu komoditas nan kerap mengalami perubahan. Menurutnya, nilai telur sempat turun hingga sekitar Rp20 ribu per kilogram.

Selain perubahan harga, pedagang juga merasakan perubahan jumlah pembeli. Matus mengaitkan kondisi tersebut dengan penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG) nan dinilainya turut memengaruhi tingkat pembelian dan pendapatan sebagian pedagang.

“Kadang ramai, kadang tidak ramai,” kata Matus. (Aminatus Zahroh/waw)

Selengkapnya