Arrijal Faiz dan Bubub, Merawat Komunitas Digital Lewat Candaan dan Interaksi

2 jam yang lalu 2

SUMENEP, koranmadura.com – Di tengah riuh media sosial nan dipenuhi konten jualan, Arrijal Faiz dan Moh. Heriawan memilih mengambil jalur nan sedikit berbeda. Arrijal, nan berkawan disapa Ariz, tidak menjadikan TikTok sekadar etalase digital untuk menawarkan produk.

Pria kelahiran 10 Oktober 2000 nan tinggal di Desa Giring, Kecamatan Manding, Sumenep, itu membangun ruang digital berbareng Moh. Heriawan alias Bubub melalui akun TikTok @papibubub.daily.

Keduanya menghadirkan konten nan membikin orang datang bukan hanya untuk memandang produk, tapi juga untuk tertawa, berbincang, dan mengikuti keseharian mereka.

Akun itu mula-mula dibuat untuk memperkenalkan AF Store Distro Sumenep, upaya nan dimiliki Ariz. Namun, dalam perjalanannya, dia dan Bubub tidak terus-menerus menyodorkan produk kepada pengikutnya. Mereka memilih pendekatan soft selling.

Konten nan dihadirkan pun cukup beragam. Selain tetap memperkenalkan produk, ada video komedi, vlog keseharian, tantangan, dance, hingga potongan-potongan momen dari siaran langsung di TikTok.

Strategi itu perlahan menunjukkan hasil. @papibubub.daily tumbuh secara organik dan mengumpulkan puluhan ribu pengikut. Sejumlah videonya apalagi menembus ratusan ribu hingga jutaan tayangan tanpa promosi berbayar.

Kekuatan lain mereka terletak pada sesi live streaming. Dalam siaran langsung itu, suasana dibuat santai. Candaan bersahutan dengan komentar penonton. Interaksi berjalan tanpa jarak. Ribuan pengguna pun mengikuti siaran tersebut.

Dari hubungan nan berulang itulah organisasi mulai terbentuk.

Bagi Ariz, aktivitas di media sosial juga menjadi langkah untuk memperluas jaringan. Sebagai pemilik AF Store Distro Sumenep dan seseorang nan bercita-cita menjadi pengusaha, dia memandang media sosial sebagai ruang untuk membangun relasi sekaligus membuka kesempatan kerja sama baru dengan sejumlah merek dan pelaku UMKM.

Keduanya sekarang sering dipercaya menjadi mitra promosi dan endorsement. Pesan komersial disampaikan dengan langkah nan lebih alami, tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter intermezo nan menjadi identitas akun tersebut.

Ariz mengatakan, sejak awal dirinya dan Bubub memang tidak mau media sosial hanya dipenuhi aktivitas jualan. Mereka mau menciptakan ruang intermezo nan nyaman sehingga pengikut merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.

“Kami mau orang datang ke live alias memandang konten kami lantaran merasa terhibur, bukan lantaran dipaksa memandang iklan. Kalau mereka sudah nyaman dan percaya, promosi produk bakal terasa lebih natural. Itu nan kami pegang sampai sekarang,” ujarnya.

Menurutnya, kepercayaan audiens merupakan aset terbesar nan kudu dijaga. Karena itu, konten nan dibuat diupayakan tetap ringan dan dekat dengan keseharian masyarakat.

“Buat kami, jumlah followers bukan tujuan utama. nan lebih krusial adalah gimana orang merasa mempunyai kedekatan dengan kami. Kalau komunitasnya kuat, manfaatnya bisa dirasakan bersama, termasuk membantu UMKM lokal agar lebih dikenal,” katanya.

Ke depan, Ariz dan Bubub berencana terus mengembangkan konten nan menghibur sekaligus bermanfaat. Karena media sosial, bagi mereka, bukan hanya tempat untuk memperluas jangkauan promosi usaha, tapi juga ruang untuk berbagi inspirasi dan menjaga hubungan dengan masyarakat. (FATHOL ALIF/DIK)

Selengkapnya