KABAR MADURA | Berawal dari kemauan memanfaatkan sebidang lahan kosong, langkah mini Khoirur Rohman justru tumbuh menjadi kesempatan upaya nan menjanjikan. Alumnus Teknik Mesin itu memilih jalan nan berbeda dari bagian keilmuannya dengan menekuni upaya pembibitan alpukat di Kelurahan Kowel. Ketekunan merawat tanaman, kejelian membaca kebutuhan pasar, serta keberanian memulai dari skala mini mengantarkannya melayani permintaan bibit dari beragam wilayah di Madura.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Latar belakang pendidikan Teknik Mesin tidak membikin Khoirur Rohman terpaku pada mata kuliah nan dipelajarinya saat menjadi mahasiswa. Alumnus salah satu perguruan tinggi di Malang itu justru memilih menekuni bumi pertanian dengan membangun upaya pembibitan alpukat. Berbekal keberanian dan ketekunan, usahanya terus berkembang hingga sekarang melayani permintaan pelanggan.
Usaha tersebut bermulai pasca Pandemi Covid-19, ialah pada tahun 2022. Saat itu, dia hanya menanam alpukat untuk memanfaatkan lahan kosong seluas sekitar 750 meter persegi. Namun, permintaan bibit dari para visitor kebun membuatnya memandang kesempatan upaya baru.
“Berawal dari berkebun, ada lahan kosong 750 meter persegi. Kalau ditanam tembakau alias padi hasilnya tidak seberapa. Akhirnya saya berpikir gimana caranya lahan ini tetap produktif tetapi perawatannya tidak seberat tembakau. Akhirnya kepikiran menanam alpukat. Awal tanam sekitar 30 pohon. Nah, dari situ, mulai banyak permintaan bibitnya,” jelas laki-laki asal Kelurahan Kowel tersebut, Senin (20/7/2026).
Seiring berjalannya waktu, info mengenai usahanya menyebar dari mulut ke mulut. Permintaan bibit alpukat pun terus meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, dia mulai membeli bibit dari sejumlah pemasok sebelum dipasarkan kembali.
Menurut Oyong, sapaan akrabnya, bibit nan datang dari pemasok tidak bisa langsung dijual. Pihaknya menerapkan masa perawatan selama tiga hingga empat minggu agar bibit bisa beradaptasi dengan kondisi cuaca di Madura sekaligus memastikan kualitas bibit tetap terjaga.
“Bibit nan datang kudu di-treatment dulu. Karena ada perbedaan cuaca dengan wilayah asal, jadi kudu dirawat sekitar tiga sampai empat minggu sebelum akhirnya siap dijual ke pelanggan,” ungkapnya.
Selain mengandalkan promosi dari pengguna ke pelanggan, Oyong juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar. Saat ini, penjualannya tetap difokuskan di wilayah Madura.
“Pemasaran ke wilayah nan lebih jauh (di luar Madura), bibit berisiko mengalami kerusakan selama proses pengiriman. Tapi ranah untuk memperluas sasaran pasar jelas ada, sembari lampau kita mencari formula nan pas untuk pengirimannya gimana,” tambahnya.
Selama mengembangkan upaya tersebut, kata Oyong, dirinya mengaku banyak belajar secara otodidak. Dia memanfaatkan beragam sumber, mulai dari internet, jurnal, hingga berbincang dan berjamu ke sesama pekebun alpukat.
Bibit nan dijual Oyong mempunyai sekitar 10 varietas nan telah disesuaikan dengan karakter lahan dan suasana di Madura. Harganya pun bervariasi, mulai sekitar Rp100 ribu untuk tiga bibit hingga Rp600 ribu, tergantung jenis dan ukuran tanaman. Dia mengaku, perjalanan usahanya itu tidak selalu mulus.
“Pernah mengalami kerugian sekitar Rp5 juta akibat menerima bibit dari pemasok nan kualitasnya tidak sesuai dengan hasil survei awal. Jika dapat bibit jelek, kami tidak berani menjual ke pelanggan,” tutupnya. (zul)

2 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·