Warga Pamekasan Gagal Cairkan PKH, Judol Jadi Salah Satu Pemicu

1 jam yang lalu 1
PKH(DINSOS PAMEKSAN FOR KM) PENCERAHAN: Pendamping PKH Pamekasan saat melakukan sosialisasi pemanfaatan support kepada puluhan family penerima manfaat.

HUT RI ke-81

KABAR MADURA | Penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) tahap 3 nan dimulai sejak pekan kedua Agustus 2026, menemui dinamika info penerima di Pamekasan, nan mana sejumlah family penerima faedah (KPM) mendapati support mereka tidak cair alias terhentikan.

Koordinator Tim Kabupaten (Katimkab) Program Keluarga Harapan (PKH) Pamekasan, Lukman Hakim, mengatakan bahwa perihal tersebut disebabkan oleh temuan KPM nan terindikasi terlibat gambling online (judol), penyalahgunaan biaya bantuan, peningkatan status ekonomi KPM ialah naik desil, hambatan teknis seperti PIN terblokir dan kartu KKS nan rusak alias hilang.

“Ada nan lantaran terindikasi judol, ada nan terindikasi bansos tidak dipergunakan sesuai peruntukannya, digunakan top up judol, ada juga nan lantaran memang mengalami kenaikan desil, dari desil 1 sampai 4 naik ke desil 5 ke atas,” ungkapnya, Rabu (19/8/2026).

Lukman mengatakan bahwa perihal tersebut terungkap melalui proses pemutakhiran info berlapis nan tengah gencar dilakukan, mulai dari ground check berkala oleh pendamping PKH hingga integrasi hasil Sensus Nasional. 

Yang mana dengan melalui sistem verifikasi otomatis, setiap personil family nan berada dalam satu kartu family (KK) dan terindikasi melakukan transaksi gambling online langsung terdeteksi oleh sistem pusat.

“Dalam satu KK misalnya KPM nya si ibu, nan condong tidak main judol. Tapi bisa jadi bapaknya alias anaknya nan dalam satu KK,” jelasnya.

Sedangkan info bagi penerima nan telah dikatakan gugur lantaran persoalan tersebut, Lukman katakan tetap belum bisa memastikan sudah berapa banyak nan telah terdeteksi, lantaran penyaluran tahap ketiga tetap baru dimulai pekan kedua Agustus 2026 lalu, Lukman katakan info tersebut bisa dipastikan ketika sudah memasuki pekan keempat.

Menanggapi kondisi tersebut, dia menghimbau kepada seluruh masyarakat penerima bantuan, untuk berhati hati dalam memberikan kartu identitas seperti kartu tanda masyarakat (KTP) kepada orang nan tidak dikenal, demi memberikan keamanan agar supaya tidak terjadi perihal nan tidak diinginkan.

“Meski family sendiri, juga kudu ditanyakan itu buat apa, lantaran takut nantinya bakal terjadi seperti itu, nan mana bakal menyebabkan support tersebut dicabut, kan kasian, jadi kita semua kudu hati-hati demi kebaikan bersama” tutupnya. (fit/waw)

Prof AQ

Selengkapnya