Rujak Berkah di Pamekasan, Warisan Rasa yang Tidak Mengenal Patokan Harga

1 jam yang lalu 4

HUT RI ke-81

KABAR MADURA | Aroma petis ikan tongkol berpadu dengan gurihnya kacang menyambut siapa saja nan mampir ke Rujak Berkah di Desa Larangan Tokol, Pamekasan. Di kembali racikan sederhana itu, tersimpan perjalanan panjang Manna dalam menjaga warisan rasa keluarganya selama puluhan tahun.

Usaha kuliner tersebut berasal dari sang ibu sekitar 1987. Manna nan mulanya hanya membantu perlahan meneruskan upaya itu hingga menjadi bagian nan tidak terpisahkan dari kehidupan keluarganya.

Di tengah bermunculannya beragam rujak dengan racikan lebih modern, Manna memilih mempertahankan resep lama. Pisang biji alias pisang klutuk tetap menjadi bahan awal nan diulek sebelum ditambahkan cabai, kacang goreng, dan petis ikan tongkol.

Racikan tersebut kemudian disajikan berbareng lontong, tahu, mentimun, krai, dan keripik singkong.

“Keunikannya lantaran sudah lama mungkin. Saya tetap menggunakan pisang biji sebagai jagoan pertama sebelum ditambah cabe dan kacang goreng,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).

Namun, bukan hanya resep turun-temurun nan membikin Rujak Berkah bertahan. Ada prinsip sederhana nan terus dipegang Manna: tidak mematok nilai secara kaku kepada pelanggan.

Pembeli dapat menyesuaikan porsi dengan duit nan dimiliki. Ada rujak corek seharga Rp2.000 hingga porsi Rp5.000 alias sesuai keahlian pembeli.

Prinsip itu tetap dipertahankan meski nilai sejumlah bahan baku kerap berfluktuasi. Bagi Manna, kepuasan pengguna lebih krusial daripada sekadar menghitung besar kecilnya keuntungan.

“Tantangan nan dihadapi ya ketika semua bahan pokok naik, wah jadi bingung saya mau menentukan harga, lantaran dari dulu tidak pernah menentukan harga, kasihan. Jadi ya sudah tidak apa-apa saya lebih suka memandang pengguna senang dan puas dengan rujak saya,” tambahnya.

Perjalanan panjang Rujak Berkah bermulai ketika Manna membantu ibunya berjualan. Penghasilan nan awalnya tidak seberapa perlahan menjadi tumpuan hidup keluarganya. Dari hasil mengulek rujak itulah, Manna apalagi bisa membangun rumah sendiri, meski bermulai dari sebuah gubuk sederhana.

“Awalnya saya hanya membantu Ibu, kemudian keterusan dengan penghasilan nan sedikit, tapi cukup saya bisa membikin rumah sendiri meski diawali dengan gubuk biasa, namanya juga orang dulu,” kenangnya.

Kini, upaya tersebut mulai melintasi generasi. Manna tetap melayani pembeli secara langsung di warung, sementara anak dan cucunya ikut membantu pemasaran secara daring.

Puluhan tahun berdagang membikin Rujak Berkah bukan sekadar makanan bagi sebagian pelanggannya. Racikan Manna telah melekat dengan kenangan. Bahkan, ketika dirinya sempat berakhir berdagang lantaran sakit, pengguna berdatangan untuk menanyakan keberadaannya.

“Ini sudah menjadi daging bagi family saya, dari Ibu kemudian ke saya. Meski sekarang sudah banyak rujak-rujak nan lebih lezat dan modern, tapi Alhamdulillah banyak langganan nan membeli ke saya. Pernah saya sakit lantaran sudah tua, banyak nan kembali dan menanyakan kenapa saya tidak jual. Jadi selain kebutuhan hidup, jualan rujak juga lantaran iba dengan pengguna nan selalu mencari rujak saya,” tuturnya.

Memasuki usia senja, Manna tidak menggantungkan angan muluk terhadap upaya nan telah menemaninya nyaris sepanjang hidup. Ia hanya berambisi kesehatan tetap memberinya kesempatan untuk terus mengulek ramuan dan menyajikan rujak kepada pelanggan.

“Saya berambisi upaya saya tetap lancar dan para pembeli senang. Saya juga berterima kasih kepada pembeli lantaran sudah percaya dan membeli rujak saya. Kalau pengguna saya senang, saya juga semakin semangat untuk menjual. Harapan saya semoga saya selalu sehat dengan umur saya nan semakin tua ini,” pungkasnya. (fit/waw)

Selengkapnya