Sastrawan BH. Riyanto menyerahkan kitab puisi hasil karyanya kepada Pemred Klik Madura, Prengki Wirananda. (IMDAD FAIHA ILA SABILA / KLIKMADURA)
PAMEKASAN || KLIKMADURA – Kantor Klik Madura kehadiran tamu spesial. Dia adalah BH Riyanto, seniman sekaligus sastrawan nan selalu menginspirasi anak-anak muda melalui karya, pemikiran, dan kegigihannya merawat kata-kata di tengah riuh kehidupan.
Kedatangannya kali ini membawa cerita tentang sebuah kitab puisi nan lahir dari perenungan panjang, pengalaman hidup, serta kegelisahan membaca zaman. Buku itu berjudul Tuhan, Mawar, dan Musang, sebuah kompilasi tiga kumpulan puisi nan merangkum perjalanan batin, romantika cinta, hingga kritik sosial-politik nan disampaikan melalui metafora.
Bagi BH. Riyanto, kitab tersebut bukan sekadar kumpulan karya nan dihimpun menjadi satu. Lebih dari itu, kitab ini merupakan bingkisan spesial untuk dirinya sendiri, bertepatan dengan hari ulang tahunnya pada 15 Oktober.
“Ini adalah salah satu corak bingkisan dari saya kepada diri sendiri,” tuturnya.
Oktober memang mempunyai makna tersendiri bagi Riyanto. Selain menjadi bulan kelahirannya, Oktober juga lekat dengan seremoni kebudayaan dan Bulan Bahasa, sebuah momentum nan seolah mempertemukan perjalanan personalnya dengan kecintaan terhadap bumi sastra.
Namun, bingkisan itu tidak berakhir sebagai seremoni bagi diri sendiri. Riyanto berharap, puisi-puisi nan telah dikumpulkan tersebut juga bisa menjadi cermin bagi orang lain untuk memandang kehidupan dari perspektif pandang nan berbeda.
“Lebih kepada saya sendiri, tapi pada akhirnya meluas kepada diri-diri nan lain,” ungkapnya.
Tuhan, Mawar, dan Musang bukan titel nan dipilih tanpa pertimbangan. Ketiganya menjadi pintu masuk untuk menyelami tiga wilayah kehidupan nan berbeda, tetapi saling berkelindan antara religiositas, romantika cinta, dan kritik sosial-politik.
Tuhan menjadi ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Di dalamnya, Riyanto merawat pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang tauhid, keyakinan, dan pencarian makna hidup.
Puisi-puisi bertema ketuhanan membujuk pembaca menengok ke dalam diri. Sebab, perjalanan spiritual tidak selalu berjalan di tempat-tempat nan sunyi, tetapi juga di tengah hiruk-pikuk kehidupan nan kerap membikin manusia kehilangan arah.
Sementara itu, mawar menjadi simbol romantika. Bunga nan identik dengan keelokan dan cinta tersebut mewakili perasaan, kerinduan, serta pengalaman emosional manusia dalam menjalin hubungan dengan sesamanya.
Melalui tema ini, BH. Riyanto memberi ruang bagi sisi lembut kehidupan. Di antara kritik, kegelisahan, dan pertanyaan tentang dunia, cinta tetap menjadi bagian nan tak terpisahkan dari pengalaman manusia.
Musang dalam kitab ini bukan sekadar hewan nan dikenal masyarakat desa. Riyanto menjadikannya metafora untuk membaca perilaku sosial-politik, terutama mereka nan doyan mengambil sesuatu nan bukan haknya.
Gagasan itu berangkat dari pengalaman sederhana. Ia pernah kehilangan ayam lantaran dimakan musang, sebuah kejadian nan kemudian membawanya pada perenungan lebih luas tentang pencurian, kekuasaan, dan perilaku manusia.
“Saya pernah kehilangan ayam saya dimakan musang. Dari situ, saya terkenang kepada musang-musang nan lain nan mencuri tidak hanya pada malam hari. Saat terang benderang pun, apalagi siang bolong, bisa mencuri apa pun,” katanya.
Dari pengalaman itu, musang menjelma menjadi simbol kritik terhadap perilaku sebagian pejabat dan politikus nan menyalahgunakan kepercayaan. Metafora tersebut menyentuh kehidupan politik, termasuk perilaku calon personil legislatif dan mereka nan duduk di bangku kekuasaan.
BH. Riyanto tidak sekadar bercerita tentang seekor musang nan mencuri ayam. Ia sedang membujuk pembaca memikirkan pencurian dalam pengertian nan lebih luas. Yakni, ketika kewenangan masyarakat dirampas, amanah dikhianati, dan kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi.
Dengan bahasa puisi, kritik itu disampaikan melalui simbol dan perumpamaan. Pembaca diberi ruang untuk menafsirkan sendiri siapa musang nan dimaksud dan gimana wajahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Buku Tuhan, Mawar, dan Musang juga menjadi ikhtiar Riyanto untuk merawat perjalanan kreatifnya. Sejumlah puisi nan pernah diterbitkan dalam buku-buku sebelumnya kembali dihimpun, kemudian dipadukan dengan karya-karya baru nan mempunyai kedekatan tema.
Baginya, pengumpulan tersebut krusial agar karya-karya nan lahir pada waktu berbeda dapat terdokumentasi dengan lebih baik. Puisi-puisi itu tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menemukan ruang nan lebih utuh dalam tiga tema besar.
Proses tersebut sekaligus memperlihatkan gimana seorang penyair tumbuh berbareng pengalaman dan zamannya. Karya lama menyimpan jejak pemikiran pada masa lalu, sementara puisi baru merekam kegelisahan nan terus berkembang.
Di tangan BH. Riyanto, keduanya berjumpa dalam satu kitab nan menyatukan pencarian spiritual, pengalaman cinta, dan kepekaan terhadap persoalan sosial-politik.
Meski demikian, dia tidak menganggap kitab ini sebagai akhir dari perjalanan kreatifnya. Sebaliknya, tiga tema tersebut justru menjadi fondasi untuk kemungkinan-kemungkinan karya berikutnya.
“Sepertinya pada tahun ini, ini nan bakal lahir. Sudah ada fondasinya untuk tema berikutnya,” ujarnya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa menulis baginya bukan pekerjaan nan selesai ketika sebuah kitab diterbitkan. Selalu ada ruang untuk tumbuh, menggali pengalaman, dan menemukan langkah baru dalam memandang kehidupan.
Di tengah perjalanan waktu, Riyanto tetap terus produktif menulis. Ketekunan tersebut tidak semata-mata lahir dari inspirasi nan datang tiba-tiba, tetapi juga dari kebiasaan menjaga disiplin.
Ia percaya, kehidupan pada dasarnya adalah mobilitas nan tidak pernah berhenti. Manusia terus berproses, belajar, dan menemukan sesuatu nan baru dari pengalaman nan dilaluinya.
“Salah satu karakter makhluk hidup itu adalah nan terus bergerak, berproses,” katanya.
Bagi seorang seniman dan sastrawan, proses itu menemukan bentuknya melalui kesediaan untuk terus berkarya. Inspirasi mungkin datang dari peristiwa besar, tetapi bisa pula berasal dari perihal sederhana. Di antaranya, kehilangan seekor ayam, jatuh cinta, alias pertanyaan nan muncul ketika seseorang merenungkan hubungan dengan Tuhan.
Semua pengalaman tersebut dapat menjadi bahan bakar bagi puisi. nan membedakan adalah kepekaan untuk menangkap makna di kembali peristiwa, lampau mengolahnya menjadi bahasa nan bisa menyentuh pembaca.
Konsistensi itulah nan membikin Riyanto terus menjaga hubungannya dengan bumi sastra. Ia tidak menunggu era menjadi tenang untuk menulis, karena kehidupan selalu menawarkan persoalan nan layak direnungkan.
Dalam salah satu penggalan puisi bertema ketuhanan nan dibacakan saat wawancara, Riyanto menulis pertanyaan nan sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna.
“Tuhan, saya mencari-Mu. Di mana, di mana itu? Di padang kehidupan, di gua-gua duniawi,” katanya.
Pertanyaan tersebut menggambarkan manusia nan terus mencari Tuhan di tengah luasnya kehidupan dan beragam bujukan duniawi. Pencarian itu tidak selalu menghadirkan jawaban seketika, tetapi justru membuka ruang bagi perenungan nan lebih mendalam.
Di situlah puisi menemukan kekuatannya. Ia tidak kudu selalu memberikan jawaban, lantaran terkadang sebuah pertanyaan nan jujur bisa membawa manusia lebih dekat kepada pemahaman tentang dirinya sendiri.
Dalam Tuhan, Mawar, dan Musang, pencarian spiritual berdampingan dengan cinta dan kritik sosial. Ketiganya menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah berdiri dalam satu warna, melainkan tersusun dari keyakinan, perasaan, serta pergulatan menghadapi realitas.
Pada akhirnya, kitab ini bukan hanya bingkisan ulang tahun seorang penyair untuk dirinya sendiri. Ia juga menjadi langkah BH. Riyanto merawat ingatan, merekam kegelisahan, dan membagikan perenungan kepada khalayak.
Sebab, melalui Tuhan, manusia belajar mencari makna. Melalui mawar, manusia mengenali cinta. Dan melalui musang, manusia diajak menengok sisi kehidupan nan terkadang lebih pandai berlindung daripada mengakui kesalahan.
Di antara ketiganya, BH. Riyanto terus menulis dan berproses. Merawat kata-kata, menjaga kegelisahan tetap hidup, dan menjadikan puisi sebagai jalan untuk membaca manusia serta bumi nan tak pernah selesai ditafsirkan. (nda)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·