LAGI BEKEN: Pedagang Pasar Prenduan, Sumenep, mengaku tidak menyediakan bawang kupas lantaran masyarakat terbiasa membeli bawang merah utuh dan mengupasnya sendiri.
KABAR MADURA | Isu nasional mengenai bawang kupas nan belakangan menjadi perhatian publik rupanya mempunyai gambaran berbeda di tingkat pasar tradisional. Di Pasar Prenduan, Kecamatan Pragaan, Sumenep, pedagang mengaku tidak pernah mengenal penjualan bawang merah dalam kondisi sudah dikupas.
Kondisi tersebut membikin masyarakat nan memerlukan bawang merah kudu membeli dalam kondisi tetap berkulit, kemudian mengupasnya sendiri di rumah sesuai kebutuhan.
Salah seorang pedagang di Pasar Prenduan, Latifah, mengatakan, selama ini dirinya tidak pernah menjual bawang merah nan sudah dikupas. Menurutnya, masyarakat nan berbelanja bawang merah di pasar tersebut umumnya membeli dalam jumlah terbatas sesuai kebutuhan.
“Kalau di sini tidak ada nan jual bawang merah sudah dikupas. Biasanya pembeli beli bawang merah tetap ada kulitnya, kelak dikupas sendiri di rumah,” kata Latifah.
Menurutnya, pembelian bawang merah oleh masyarakat juga tidak dalam jumlah besar. Rata-rata pembeli hanya mengambil sekitar 2 kilogram hingga 5 kilogram, tergantung kebutuhan masing-masing.
“Biasanya paling banyak sekitar dua sampai lima kilogram. Itu juga sesuai kebutuhan pembeli,” ujarnya.
Latifah menilai pola shopping tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Pasar Prenduan. Pembeli lebih memilih membeli bawang merah dalam kondisi utuh lantaran dapat disimpan dan digunakan secara bertahap.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tingkat pasar tradisional, khususnya Pasar Prenduan, kebutuhan bawang merah tetap lebih banyak dipenuhi melalui pembelian dalam corak utuh. Belum ada kebiasaan membeli bawang merah nan telah dikupas sebagaimana rumor nan berkembang di sejumlah daerah.
Bagi pedagang, kondisi tersebut juga membikin aktivitas jual beli bawang merah berjalan secara sederhana. Pedagang menyediakan bawang merah sesuai stok, sementara masyarakat membeli dengan jumlah nan disesuaikan kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan usaha.
“Kalau masyarakat di sini ya beli sesuai kebutuhan saja. Tidak kudu banyak-banyak,” pungkas Latifah. (ara/waw)


1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·