PBAK 2026 UIN Madura Tekankan Filosofi Taneyan Lanjhang kepada Mahasiswa Baru

1 jam yang lalu 2

HUT RI ke-81

KABAR MADURA | Pengenalan Budaya Akademik dan Kampus (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Madura menjadi momentum krusial untuk membentuk mahasiswa baru nan bisa berpikir kritis, ilmiah, dan mempunyai daya saing di tengah perkembangan zaman.

Hal itu disampaikan Wakil Rektor III UIN Madura, Mohammad Ali Al Humaidy, saat membuka PBAK 2026, Selasa (18/8/2026).

Malhum, sapaan akrabnya, menegaskan, PBAK tidak sekadar menjadi aktivitas pengenalan lingkungan kampus bagi mahasiswa baru. Lebih dari itu, aktivitas tersebut menjadi pintu awal untuk mengenalkan budaya akademik dan tradisi ilmiah nan bakal menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Menurutnya, mahasiswa UIN Madura perlu membangun keahlian berpikir ilmiah dan kritis. Kemampuan itu dinilai krusial agar mahasiswa bisa mengembangkan potensi diri sekaligus menghadapi beragam tantangan, baik selama menjalani pendidikan maupun setelah menyelesaikan studi.

“Motto kampus UIN Madura adalah Religius, Kompetitif, dan Kolaboratif serta filosofi Taneyan Lanjhang. Itu nan perlu diingat oleh mahasiswa,” jelasnya.

Alumnus Pesantren Annuqayah itu menjelaskan, nilai-nilai itu perlu menjadi pegangan mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik. Filosofi Taneyan Lanjhang juga diharapkan tidak berakhir sebagai identitas budaya, tetapi dapat dihayati sebagai bagian dari karakter mahasiswa UIN Madura.

Sebagai pembekalan nan lebih mendalam bagi mahasiswa baru, UIN Madura menghadirkan Inayah Wulandari Wahid sebagai pembicara dalam Kuliah Umum Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Madura, Rabu (19/8/2026).

Malhum menyebut, tantangan bumi pendidikan ke depan bakal semakin kompleks, terutama seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. Karena itu, mahasiswa dituntut mempersiapkan diri dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mempunyai keahlian untuk memahami dan memanfaatkan teknologi secara bijak.

“Mahasiswa FTIK kudu bisa meningkatkan sumber daya manusia dan melek teknologi agar tidak menjadi korban teknologi,” tegasnya.

Sementara itu, Inayah Wahid mendorong mahasiswa Madura untuk terus memperkaya pengetahuan melalui beragam cara. Tidak hanya dengan mengikuti pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga dengan membaca buku, belajar secara mandiri, serta memperluas pengalaman melalui beragam aktivitas.

Putri dari Presiden Indonesia ke-4 itu menjelaskan, eksplorasi pengetahuan pengetahuan semakin krusial di tengah perkembangan teknologi nan berjalan begitu cepat, termasuk dengan hadirnya kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI).

Inayah Wahid mengingatkan mahasiswa agar tidak menyerahkan sepenuhnya keahlian berpikir kepada AI. Menurutnya, teknologi tersebut semestinya dimanfaatkan sebagai perangkat nan membantu pekerjaan manusia, bukan menggantikan keahlian manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan.

“Kemanusiaan tidak bisa digantikan robot. Kemanusiaan ini nan menjadikan kita manusia,” tutupnya. (nur/zul)

Selengkapnya