KABAR MADURA | Aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Tanglok, Sampang, tetap menghadapi sejumlah kendala, terutama aspek alam berupa pasang surut air laut, angin, serta pendangkalan muara. Kondisi tersebut turut memengaruhi jumlah penumpang dan waktu kapal dapat melintas.
Kepala Bidang Perhubungan Laut Dinas Perhubungan (Dishub) Sampang, Iwan Heri Santoso, mengatakan kondisi pasang surut air di area Pelabuhan Tanglok tidak menentu. Air laut terkadang surut pada malam hari, pagi, maupun siang hari sehingga memengaruhi aktivitas kapal penyeberangan.
“Jam 07.00 itu tidak mesti banyak, kadang baru jam 08.30 datang. Artinya apa, muara kita baru bisa dilintasi,” ujarnya, Jumat (25/9/2026).
Kondisi tersebut membikin sebagian penumpang memilih turun di pesisir Desa Taddan ketika air sedang surut pada pagi hari. Kapal biasanya hanya dapat mendekati pesisir, kemudian penumpang melanjutkan perjalanan dengan melangkah kaki menuju jalan raya. Sebaliknya, ketika air mulai pasang, kapal dapat masuk hingga area pelabuhan sehingga penumpang dari sekitar pasar dapat langsung menuju Pelabuhan Tanglok.
Selain pasang surut, pendangkalan muara juga menjadi salah satu persoalan nan dihadapi. Pendangkalan terjadi akibat banyaknya lapisan sedimen nan menumpuk. Iwan menjelaskan, kewenangan terhadap sungai tersebut berada di tingkat pemerintah provinsi sehingga pihaknya telah mengusulkan support pengerukan melalui Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang kepada pemerintah provinsi.
Namun, pengerukan tersebut hingga sekarang belum terealisasi lantaran terdapat sejumlah pertimbangan, termasuk persoalan pendanaan. Iwan menyebut, pengerukan tanpa pembangunan tiang pancang juga dinilai kurang efektif lantaran sedimen berpotensi kembali menumpuk dalam waktu relatif cepat.
“Kami mengusulkan surat ke bupati, lampau ke provinsi. Cuma belum terealisasi lantaran banyak pertimbangan. Di sisi lain benturannya lantaran pendanaan,” jelasnya, Jumat (25/9/2026).
Iwan juga mengatakan kondisi cuaca, terutama angin, turut memengaruhi aktivitas pelayaran. Angin biasanya menjadi hambatan bagi kapal, khususnya pada periode sekitar Agustus hingga awal Oktober. Kondisi tersebut juga dapat berakibat pada jumlah penumpang, terutama ketika bertepatan dengan hari-hari besar alias aktivitas masyarakat seperti pernikahan dan Idul Adha.
Pelabuhan Tanglok sendiri melayani rute penyeberangan menuju Pulau Mandangin. Penumpang nan menggunakan jasa kapal umumnya merupakan masyarakat Pulau Mandangin nan berjalan untuk bekerja, mondok, maupun berguru di luar pulau.
Untuk tarif penyeberangan, penumpang dikenakan biaya sekitar Rp15 ribu per orang untuk sekali perjalanan. Tarif tersebut dapat menyesuaikan dengan kondisi nilai bahan bakar minyak (BBM). Sementara itu, tarif pengangkutan peralatan ditentukan oleh pemilik kapal alias nakhoda, dengan pengangkutan peralatan tetap kudu mempunyai perizinan.
Kapal nan beraksi di Pelabuhan Tanglok merupakan kapal rakyat alias kapal tradisional. Kapal tersebut mempunyai karakter berbeda dengan kapal penyeberangan nan telah memenuhi standar akomodasi keselamatan, seperti tempat duduk dan pagar pengaman.
“Biasanya kapal penyeberangan itu standarisasinya kudu ada tempat duduk nan ditunjang dengan pagar dan didukung keamanan untuk keselamatan. Kapal nan ada di sini tergolong kapal tradisional,” katanya, Jumat (25/9/2026).
Sementara itu, monev nan bekerja pada bagian Lalu Lintas dan Angkutan Laut (LAL) menyampaikan bahwa jumlah penumpang condong lebih banyak pada musim kemarau. Namun, kondisi cuaca tetap menjadi salah satu hambatan dalam pelayaran, baik berupa angin maupun hujan.
Apabila terjadi kejadian ketika kapal berada di laut, penanganan dilakukan oleh Satuan Polisi Air (Satpol Air). Kru kapal dapat menghubungi pihak Satpol Air ketika terjadi kondisi darurat selama pelayaran.
Menurutnya, beragam hambatan dalam aktivitas pelayaran tetap ada, tetapi dapat ditangani sesuai kondisi di lapangan. Pihaknya juga pernah melakukan operasi mengenai ketertiban kapal pada 2018 sebagai bagian dari upaya menjaga ketertiban dan keselamatan aktivitas pelayaran.
Dengan beragam hambatan tersebut, aktivitas Pelabuhan Tanglok tetap berjuntai pada kondisi alam, khususnya pasang surut air dan cuaca. Kondisi muara nan dangkal juga menjadi perhatian lantaran dapat menentukan kapan kapal dapat masuk dan keluar dari area pelabuhan. (Muhaimin/waw)

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·