KABAR MADURA | Ancaman kekeringan di Sumenep belum berakhir. Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah, krisis air bersih tetap membayangi penduduk di daratan dan kepulauan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep apalagi memperkirakan kekeringan tetap berjalan hingga Desember 2026.
Hujan dengan intensitas rendah belum bisa memulihkan sumber air nan mengering. Akibatnya, pengedaran air bersih tetap menjadi tumpuan masyarakat, terutama di wilayah nan masuk kategori kekeringan kritis dan mengalami kelangkaan air.
Kepala Pelaksana BPBD Sumenep, Kamiluddin, menegaskan, turunnya hujan belum bisa dijadikan parameter bahwa krisis air telah berakhir. Pemulihan sumber air memerlukan curah hujan tinggi nan berjalan secara konsisten.
“Walaupun kemarin ada hujan di beberapa daerah, di Sumenep sempat gerimis. Ini tidak bisa jadi patokan kekeringan berakhir,” kata dia.
Menurut dia, hujan selama separuh bulan pun belum tentu cukup untuk mengembalikan kesiapan air bersih di wilayah terdampak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hujan sesaat belum menyelesaikan persoalan kekeringan nan dialami masyarakat.
“Kecuali sudah satu bulan, intensitas hujan tinggi, baru mulai. Artinya, sumber-sumber air bersih itu mulai ada,” ujarnya.
BPBD Sumenep pun merencanakan pengedaran air bersih tetap berjalan selama satu bulan ke depan. Langkah tersebut disiapkan untuk mengantisipasi kebutuhan penduduk nan sumber airnya belum pulih, meskipun hujan diperkirakan mulai turun pada awal Desember.
“Sehingga tetap kita rencanakan, satu bulan ke depan tetap bakal ada pengedaran air. Walaupun kelak prediksinya mungkin awal Desember sudah mulai hujan,” tuturnya.
Krisis air bersih tetap menghantui sejumlah desa di wilayah daratan Sumenep. BPBD mencatat beberapa desa nan mengalami kekeringan kritis, di antaranya Montorna, Prancak, Kombang, Basoka, dan Batuputih Daya.
“Kalau nan terakhir, nan kritis itu, Montorna, Prancak, Kombang, Basoka, Batu Putih Daya. Itu di daratan ya,” ungkap Kamiluddin.
Di wilayah kepulauan, kekeringan juga terjadi di Desa Gendang Barat, Pulau Sapudi. Kondisi serupa mulai merembet ke desa tetangganya, Gendang Timur. Sementara di Pulau Raas, penduduk Pulau Tonduk turut menghadapi persoalan kekurangan air.
“Kalau di kepulauan itu, di Sapudi, ada Gendang Barat. Sekarang desa tetangganya itu, Gendang Timur, juga mulai kekeringan. Kalau di Raas itu, Pulau Tonduk,” jelasnya. (ara/waw)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·