KABAR MADURA | Tim mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) nan tergabung dalam MoriGizi Team meluncurkan produk penemuan pangan Moringa Popsicle (Es Mori) sebagai pengganti camilan bergizi bagi balita untuk mendukung upaya pencegahan stunting di Bangkalan.
Peluncuran sekaligus promosi dan pemasaran perdana produk tersebut dilaksanakan di Posyandu Mawar, Kabupaten Bangkalan, pada Rabu, 22 Juli 2026, sebagai bagian dari penyelenggaraan Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2026.
INOVASI PANGAN: MoriGizi Team UTM memperkenalkan Es Mori, camilan bergizi berbahan daun kelor untuk mendukung pencegahan stunting di Bangkalan.Es Mori merupakan es loli berbahan dasar daun kelor nan kaya bakal unsur besi, kalsium, vitamin A, vitamin C, serta protein nabati. Kandungan gizi tersebut dinilai berpotensi menjadi pengganti camilan sehat bagi balita.
Sebelum dipasarkan, MoriGizi Team melalui beragam tahapan pengembangan produk. Tim melakukan serangkaian uji coba formulasi untuk menghasilkan produk nan tidak hanya mempunyai kandungan gizi tinggi, tetapi juga dapat diterima oleh anak-anak.
Dalam prosesnya, tim menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rasa pahit ekstrak daun kelor, aroma langu nan tetap muncul meski telah melalui proses blansing, hingga tekstur es loli nan belum sesuai. Bahkan beberapa kali formulasi kudu diulang lantaran belum memenuhi standar cita rasa nan diharapkan.
Setelah melalui beragam penyempurnaan, tim akhirnya menghasilkan formulasi terbaik berasas hasil uji coba internal. Es Mori kemudian diproduksi dalam tiga jenis rasa, ialah original, jeruk, dan pisang. Ketiga jenis tersebut memanfaatkan gula aren dan rasa manis alami buah untuk meningkatkan penerimaan balita tanpa mengurangi nilai gizinya.
Sebelum peluncuran, tim juga melaksanakan uji organoleptik kepada balita usia 2–5 tahun. Pengujian dilakukan terhadap aspek rasa, aroma, warna, dan tekstur dengan pendampingan orang tua menggunakan lembar observasi sederhana.
Hasil uji menunjukkan sebagian besar balita memberikan respons positif terhadap produk tersebut.
Pada aktivitas promosi perdana di Posyandu Mawar, lebih dari 20 balita berbareng orang tua dan kader posyandu mengikuti aktivitas mencicipi Es Mori sekaligus uji organoleptik lanjutan. Produk tersebut dipasarkan dengan nilai Rp3.500 per buah dan sukses terjual sebanyak 30 buah pada hari pertama pemasaran.
Capaian tersebut menunjukkan adanya antusiasme masyarakat terhadap penemuan pangan lokal nan dikembangkan mahasiswa.
Salah satu kader Posyandu Mawar, Diljanah, mengapresiasi kehadiran Es Mori sebagai camilan sehat bagi balita.
“Anak-anak terlihat antusias dan menikmati Es Mori. Saya berambisi produk ini dapat menjadi pengganti camilan sehat bagi balita,” ujarnya.
Keberhasilan pemasaran perdana serta respons positif dari balita, orang tua, dan kader posyandu menjadi motivasi bagi MoriGizi Team untuk memperluas pemasaran Es Mori ke beragam posyandu, PAUD, dan taman kanak-kanak di Kabupaten Bangkalan.
Melalui penemuan pangan berbahan daun kelor tersebut, tim berambisi Es Mori dapat menjadi salah satu pengganti camilan bergizi nan mendukung upaya pencegahan stunting secara berkepanjangan di Bangkalan. (ist/waw)

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·