KABAR MADURA | Kolaborasi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Madura (UNIRA) Posko 9 Desa Tanjung dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat melahirkan penemuan baru di area wisata Pantai Jumiang. Melalui kerja sama itu, sistem pembayaran digital berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) resmi diterapkan untuk mendukung pengelolaan wisata nan lebih modern.
Program nan menjadi salah satu agenda utama mahasiswa KKN UNIRA Posko 9 itu diresmikan pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Sistem pembayaran nontunai nan dirancang dan dibuat langsung oleh mahasiswa diharapkan bisa mempermudah transaksi visitor sekaligus mendorong transformasi digital di sektor pariwisata desa.
Koordinator Desa (Kordes) KKN UNIRA Posko 9, Enjang Tri Fauwas, mengatakan, penerapan QRIS diharapkan bisa memberikan faedah bagi visitor maupun pengelola wisata.
“Selain memudahkan transaksi, digitalisasi ini juga diharapkan bisa meningkatkan pendapatan pengelola wisata secara lebih transparan dan terstruktur,” ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Enjang juga menyampaikan apresiasi kepada BUMDes Desa Tanjung nan telah memberikan support penuh terhadap penyelenggaraan program tersebut. Menurutnya, sinergi antara mahasiswa dan pemerintah desa menjadi kunci keberhasilan menghadirkan penemuan nan dapat langsung dimanfaatkan masyarakat.
Ketua BUMDes Desa Tanjung, Kamil, menilai penggunaan QRIS bakal mempermudah pengelolaan area wisata sekaligus meningkatkan kenyamanan visitor saat bertransaksi.
“Dengan adanya QRIS, visitor bakal lebih mudah melakukan transaksi, dan semoga menambah daya tarik wisatawan,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Kepala Desa Tanjung, Zabur, mengapresiasi kontribusi mahasiswa KKN UNIRA dalam menghadirkan penemuan nan dinilai bisa meningkatkan kualitas pelayanan wisata.
“Kami sangat mengapresiasi kerja keras mahasiswa KKN Universitas Madura. Program ini sangat berfaedah dan menjadi langkah awal bagi Desa Tanjung untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” tuturnya.
Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN UNIRA Posko 9, Fadali Rahman, menilai penerapan QRIS merupakan corak nyata pengabdian mahasiswa nan bisa menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing lokasi wisata desa.
“Langkah ini sangat taktis dan solutif untuk mendukung digitalisasi ekonomi lokal, memudahkan visitor bertransaksi secara nontunai, serta meningkatkan transparansi dan tata kelola finansial lokasi wisata setempat,” paparnya.
Menurut Fadali, digitalisasi pembayaran juga bakal membikin proses transaksi tiket maupun retribusi menjadi lebih cepat, aman, dan terdokumentasi dengan baik. Namun, dia menekankan pentingnya keberlanjutan program melalui edukasi kepada pengelola wisata mengenai pemantauan transaksi dan pencairan dana, penyediaan papan info QRIS nan mudah dilihat pengunjung, serta pendampingan berkala agar sistem tetap melangkah optimal setelah masa KKN berakhir. (fit/zul)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·