Oleh: Ahmad Sahidah
Dosen Program S3 Al-Quran dan Media Sosial Universitas Nurul Jadid
“Zumi, berapa mata pelajaran hari ini? Apa nan Anda paling suka?” Tanya saya ketika mengantar ke jalan raya. “Ada tiga”. Apa Anda suka bahasa Indonesia? “Sedikit.” Jadi, apa mata pelajaran nan paling disuka? Bahasa Inggris. Tak lama kemudian, mobil jemputan datang. Setelah dia bertolak, saya pun pulang. Ibu dan kakaknya pun berangkat pagi-pagi ke sekolah.
Dalam kesendirian di kediaman, sembari memeriksa “Menyoal Keseharian nan Banal”, saya menikmati lagu “Tak Bisa Tidur” milik Bang Haji. Bunyi, lirik, dan ingatan menyatukan masa lalu, kini, dan depan dalam satu tarikan napas. Ini semacam pagelaran mini di rumah lantaran saya memutar musik dengan volume tinggi. Saya merayakannya dengan burung-burung nan bertengger di genting genteng, bukan seng. Kala jarak dari kerja, kita menghentikan ritme mesin kehidupan untuk kembali menjadi orang kampung dengan keluguan dan kenorakannya.
Pada momen biasa-biasa, kita bisa meraih rasa nyaman. Setelah direnungkan tentang asal-muasal ketentraman, ketenangan ini bermulai dari sarapan dan secawan kopi. Ditambah dengan musik, bumi semakin asyik. Malah, seringkali pada awal hari, saya sengaja memutar radio secara streaming, sehingga bisa berselancar di bumi maya untuk mendengar nyanyian dari radio The New California, Sinar FM Malaysia, alias RB FM Yogyakarta.
Pengalaman magis mendengarkan musik memang seringkali datang di pagi hari. Mungkin lantaran saya baru bangun sehingga tubuh dan jiwa tetap segar. Lalu, kenapa lirik dan aransemen nan digubah oleh Rhoma Irama menggugah? Karena karyanya menyeret saya pada masa mini nan indah. Lagu “Hitam” menjadi bunyi latar dari keseharian tatkala kami bermain bola, berenang di sungai, atau” menghadiri hajatan.
Pengalaman di atas sejalan dengan sergahan Roland Barthes dalam Image, Music, Text (1997). Musik adalah sistem tanda (semiotik), tetapi ketika kita mencoba menjelaskannya dengan bahasa, kita sering gagal. Pengalaman mendengar musik jauh lebih kaya daripada kata-kata nan kita gunakan dengan hanya memberi pengalaman tersebut dengan kata sifat (epitet).
Padahal ketika kita membatasi respons musik itu pada label indah, syahdu, dan energik menghalangi kita untuk menjangkau kedalaman filosofis lantaran dia dapat mengguncang identitas, emosi, apalagi membikin seseorang kehilangan diri (loss). Dalam kitab itu, Barthes mengutip Plato bahwa musik itu berbahaya, arena dia bisa mengendalikan manusia, sebelum logika budi mengontrol kesadaran. Di sini, musik bisa mengubah suasana hati, membawa ekstase, dan membangkitkan kenangan. Lebih jauh, dia bisa menghilangkan pemisah antara diri dan dunia.
Saya tetap ingat gimana suasana hati saya berubah ketika memasuki mobil Pak Faiz Mubarok nan menjemput saya di airport Juanda. Radio Suara Surabaya FM nan mengudarakan I Won’t Hold You Back milikToto menyulap suasana. Perjalanan menuju Paiton menyenangkan. Karena bahasa terbatas menggambarkan pengalaman ini, saya menggeser pada rumor selera nan diam-diam direduksi pada budaya konsumsi.
Jadi, musik bukan sekadar ditanggapi dengan tempelan label sedih, mengharukan, patriotik. Lebih jauh, saya mengingat apa kata istri di rumah Taman Siswa Kedah dulu. Di pagi hari, radio Kedah FM memutar “Biar Putih Tulang” oleh Dinamik dan istri berujar, Yah, itu lagu kesukaan. Liriknya jelas menggambarkan tahap eksistensial Kierkegaard, ialah jika estetika dan etika tidak bisa menanggung kehidupan, maka kesadaran religius (Takdir nan bakal memastikan) adalah jawaban.
Pada akhirnya, musik itu bukan mengisi kesunyian. Ia adalah perjumpaan tempat ingatan, tubuh, waktu, dan angan saling menimpa. Uraian nan diketengahkan di atas belum cukup untuk menggambarkan sepenuhnya, lantaran makulat dan bahasa itu berjarak kala pemisah itu justru menghilangkan keutuhan pengalaman penikmat. Apakan tidak, Zumi dulu menyukai Master of Puppets oleh Metallica dan menyebutnya sebagai dendangan Rhoma Irama.

13 jam yang lalu
6








English (US) ·
Indonesian (ID) ·