KABAR MADURA | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan mulai serius memburu investasi skala besar sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu kesempatan nan sekarang dibidik adalah relokasi sejumlah industri dari Tiongkok ke Indonesia.
Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, menilai momentum tersebut merupakan kesempatan nan tidak boleh dilewatkan. Menurutnya, seluruh komponen masyarakat perlu memberikan support agar Bangkalan bisa bersaing dengan wilayah lain dalam menarik investasi nan nilainya diperkirakan mencapai triliunan rupiah.
“Ini kesempatan terakhir. Apakah kita mau tetap seperti ini alias mau naik kelas? Kesempatan ini kudu kita jemput. Pemerintah bakal memfasilitasi lantaran investasinya murni swasta,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).
Dia menjelaskan, pemerintah wilayah tidak berkedudukan sebagai investor, melainkan bekerja memberikan kemudahan perizinan serta memastikan seluruh persyaratan investasi dapat dipenuhi. Upaya tersebut, lanjutnya, diperkuat melalui nota kesepahaman antarpemerintah (government to government) maupun kerja sama upaya (business to business).
Lukman mengungkapkan, sejumlah klaster industri padat karya nan selama ini beraksi di Tiongkok berpotensi direlokasi ke Bangkalan. Pergeseran kebijakan industri di negara tersebut membuka kesempatan besar bagi Indonesia, khususnya Jawa Timur, untuk menjadi tujuan investasi baru.
“Klaster industri nan ada di Tiongkok itu nantinya bisa dipindah ke Bangkalan. Di sana sudah bergeser ke teknologi AI sehingga industri padat karya sudah tidak menjadi konsentrasi lagi. Ini cocok untuk Bangkalan lantaran bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,” terangnya.
Politisi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan itu menyebut, industri nan diproyeksikan masuk meliputi sektor tekstil berbahan polyester, pengolahan cokelat, hingga kemungkinan pembangunan pusat data.
Meski belum merinci nilai investasi secara pasti, Bupati Lukman memastikan pembahasan nan sedang berjalan mencakup investasi berskala triliunan rupiah lantaran melibatkan relokasi beberapa klaster industri sekaligus.
Namun, dia menegaskan, kesempatan itu juga disertai sejumlah persyaratan dari investor. Di antaranya adalah kesiapan lahan minimal 500 hektare, support prasarana dasar seperti pasokan listrik dan air baku, serta kepastian izin nan memadai.
“Mereka punya konsultan sendiri untuk menghitung keahlian suplai listrik, kesiapan air, dan kebutuhan lahannya. Minimal 500 hektare kudu tersedia,” pungkasnya. (fik/zul)

9 jam yang lalu
5








English (US) ·
Indonesian (ID) ·