Kiromuddin, mahasiswa sekaligus petani muda asal Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan. (KLIKMADURA)
SUMENEP || KLIKMADURA – Kekeringan nan kembali melanda sejumlah desa sentra tembakau di Kabupaten Sumenep mendapat sorotan dari Kiromuddin, mahasiswa sekaligus petani muda asal Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan.
Ia menilai persoalan tersebut tidak lagi bisa dipandang sebagai musibah musiman, melainkan masalah serius nan memerlukan solusi jangka panjang.
Menurut Kiromuddin, setiap musim tandus masyarakat selalu menghadapi dua persoalan mendasar, ialah sulitnya mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan minimnya pasokan air bagi lahan pertanian.
Kondisi itu dinilai berakibat langsung terhadap produktivitas tembakau nan menjadi komoditas unggulan sekaligus penopang ekonomi masyarakat di wilayah utara Kabupaten Sumenep.
Karena itu, dia meminta Pemerintah Kabupaten Sumenep tidak hanya mengandalkan penanganan darurat saat kekeringan terjadi. Pemerintah didorong menghadirkan kebijakan nan lebih terencana melalui pembangunan prasarana sumber daya air.
Kiromuddin mempertanyakan langkah konkret nan telah dan bakal dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam mengatasi persoalan kekeringan nan terus berulang setiap tahun.
Menurutnya, pemerintah perlu memperjelas program penyediaan air bersih bagi masyarakat, sekaligus memperkuat pasokan air untuk sektor pertanian melalui pembangunan embung, sumur bor, jaringan irigasi, pompanisasi, hingga optimasi sumber-sumber air nan tersedia.
Sebagai mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian, Kiromuddin menegaskan pembangunan pertanian tidak hanya berbincang tentang peningkatan hasil panen maupun kualitas produk. Keberhasilan sektor pertanian kudu dimulai dari penguatan sektor hulu, salah satunya melalui kepastian kesiapan air.
“Sebagai mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian, saya memandang bahwa kualitas hasil pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi pascapanen, tetapi juga oleh keberhasilan pengelolaan sektor hulunya,” katanya.
Kiromuddin menyampaikan, air merupakan kebutuhan paling mendasar dalam proses budidaya. Jika setiap tahun petani terus dihadapkan pada krisis air, maka peningkatan produktivitas maupun kualitas hasil pertanian bakal susah diwujudkan.
“Karena itu, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan nan lebih visioner, bukan sekadar penanganan darurat ketika kekeringan terjadi,” ujarnya.
Ia juga mendorong adanya sinergi nan lebih kuat antarorganisasi perangkat wilayah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sumber daya air.
Menurutnya, pembangunan embung, sumur bor, jaringan irigasi, dan prasarana pendukung lainnya kudu menjadi program prioritas, terutama di area sentra tembakau nan nyaris setiap tahun dilanda kekeringan.
Kiromuddin menegaskan, petani tidak hanya memerlukan support pengedaran air bersih saat musim kemarau, tetapi juga solusi permanen nan bisa menjamin keberlanjutan sektor pertanian.
“Kami tidak hanya memerlukan support air bersih ketika tandus datang, tetapi juga memerlukan solusi jangka panjang nan bisa menjamin keberlanjutan sektor pertanian,” katanya.
Menurut dia, ketahanan pangan dan kesejahteraan petani tidak bakal tercapai tanpa adanya kepastian akses terhadap sumber daya air. Pemerintah kudu memperkuat investasi pada prasarana air sebagai fondasi pembangunan pertanian nan berkelanjutan.
Ia berambisi aspirasi petani dan masyarakat di desa-desa sentra tembakau menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sumenep.
Dengan demikian, persoalan kekeringan nan terus berulang setiap musim tandus dapat diatasi melalui kebijakan nan terukur, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat serta petani. (nda)

4 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·