KABAR MADURA | Berawal dari tumpukan kain perca nan menumpuk di rumah, Farida Muskarika sukses mengubah limbah jahit menjadi beragam produk kerajinan berbobot ekonomi. Perempuan nan telah menekuni bumi menjahit sejak tahun 2000 itu sekarang memproduksi jenis kerajinan berbahan dasar kain perca nan dipasarkan hingga ke luar kota.
Rika menuturkan, buahpikiran memanfaatkan kain perca muncul sekitar tahun 2014. Saat itu, dia memandang sisa-sisa kain di rumah semakin banyak dan sayang jika hanya dibuang begitu saja. Dari kondisi tersebut, muncul pendapat untuk mengolah kain perca menjadi produk nan mempunyai nilai jual.
“Saya menjahit sejak tahun 2000. Di tahun 2014 kepikiran untuk memanfaatkan perca nan ada di rumah. Jadi saya olah lagi secara otodidak,” ujarnya, Senin (27/7/2026).
Pada awal merintis upaya itu, Rika hanya membikin tas berbahan perca batik, keset, dan taplak meja. Namun, seiring berjalannya waktu serta menyesuaikan kebutuhan pasar, ragam produknya terus berkembang. Kini, dia juga memproduksi topi, outer, dompet, hingga beragam kerajinan rumah tangga lainnya.
“Yang paling banyak dicari keset. Selain itu taplak meja dan penutup galon juga cukup diminati lantaran merupakan kebutuhan rumah tangga,” tambahnya.
Meski usahanya telah melangkah lebih dari satu dekade, Rika mengaku terus berinovasi agar produknya tetap diminati konsumen. Berbagai model dan motif baru rutin dibuat mengikuti perkembangan tren dan selera pasar. Menurutnya, keahlian beradaptasi menjadi salah satu kunci agar usahanya tetap memperkuat di tengah persaingan.
Bagi Rika, mengolah kain perca bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan juga menjadi langkah memanfaatkan limbah tekstil agar mempunyai nilai tambah dan lebih bermanfaat.
“Sekali produksi omset tidak menentu, lantaran sesuai dengan pemesanan. Untuk harga, tas dijual mulai Rp25 ribu hingga Rp50 ribu, sedangkan outer dibanderol sekitar Rp50 ribu sampai Rp75 ribu,” tutupnya. (nur/zul)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·