PAMEKASAN, koranmadura.com – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jawa Timur XI Madura, Hj. Ansari, menegaskan kaderisasi tidak hanya bermaksud mencetak pengurus organisasi, tetapi juga melahirkan pemimpin wanita nan peduli terhadap beragam persoalan masyarakat.
Hal itu disampaikan saat menjadi keynote speaker dalam Sekolah Kader KOPRI (SKK) V KOPRI PC PMII Sumenep nan mengusung tema “Dari Kesadaran Menuju Pergerakan: Melawan Eksploitasi Perempuan di Era Dehumanisme Keadilan Gender.”
Menurut Hj. Ansari, kaderisasi kudu bisa melahirkan aktivitas nyata dalam upaya melindungi wanita dan anak dari beragam persoalan nan tetap terjadi di tengah masyarakat.
“Kesadaran kudu melahirkan pergerakan melalui kaderisasi,” ujarnya.
Ia menyebut kekerasan terhadap wanita dan anak, perdagangan orang, perkawinan usia anak, hingga pemanfaatan digital tetap menjadi tantangan nan memerlukan perhatian bersama. Karena itu, perlindungan terhadap wanita dan anak tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan organisasi kader seperti PMII dan KOPRI.
Hj. Ansari menambahkan, Komisi VIII DPR RI berbareng Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) terus mendorong penguatan kebijakan untuk meningkatkan perlindungan terhadap wanita dan anak.
Sementara itu, Ketua KOPRI PC PMII Sumenep, Yuliana Putri, mengatakan SKK V menjadi bagian dari upaya membentuk kader nan berintegritas, mempunyai jiwa kepemimpinan, serta peka terhadap persoalan sosial.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Abd. Wasid. Menurutnya, kaderisasi merupakan ruang krusial untuk melahirkan wanita nan berdikari dan bisa berkontribusi bagi masyarakat. (SUDUR/DIK)

17 jam yang lalu
7








English (US) ·
Indonesian (ID) ·