Harga Pertalite Eceran di Bangkalan Tembus Rp14 Ribu per Liter, Diskop Umdag: Pengecer di Luar Pengawasan

1 jam yang lalu 2

KABAR MADURA | Harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite di sejumlah pengecer di Bangkalan sekarang mencapai Rp13.000 hingga Rp14.000 per liter. Kondisi ini dikeluhkan masyarakat, terutama nan tinggal jauh dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Menanggapi perihal tersebut, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop Umdag) Bangkalan, Moh. Rasuli, menjelaskan bahwa pengawasan nan dilakukan pihaknya hanya mencakup pengedaran dan nilai BBM di tingkat SPBU. Adapun nilai nan ditetapkan pengecer berada di luar kewenangan instansinya.

“Kalau pengecer itu di luar kendali kami. Pantauan kami sampai di SPBU,” ujarnya, Senin (3/8/2026).

Rasuli menyebut, pihaknya juga tidak dapat memastikan dari mana pengecer memperoleh BBM nan kemudian dijual kembali dengan nilai lebih tinggi. Menurutnya, perihal itu dikhawatirkan berasal dari sistem pengedaran nan tidak sesuai dengan ketentuan.

“Yang kami khawatirkan, pengecer itu mendapat BBM dari jalur nan tidak sesuai. Karena BBM bersubsidi peruntukannya memang untuk masyarakat nan berhak, bukan untuk diperjualbelikan kembali,” jelasnya.

Madura FM

Dia menambahkan, pembelian BBM subsidi untuk sektor tertentu, seperti pertanian, nelayan, maupun UMKM, kudu disertai rekomendasi sesuai patokan nan berlaku. Sebab itu, masyarakat diimbau membeli BBM langsung di SPBU dengan nilai nan telah ditetapkan pemerintah.

Terkait surat nan sebelumnya telah disampaikan kepada PT. Pertamina mengenai pengedaran BBM di Bangkalan, Rasuli mengungkapkan, pihaknya telah memperoleh penjelasan jika kuota BBM subsidi untuk Kabupaten Bangkalan tidak mengalami perubahan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Pertamina. Informasinya kuota tetap, tidak ada perubahan,” ungkapnya.

Meski demikian, dia menduga tingginya nilai BBM di tingkat pengecer dipengaruhi oleh peralihan sebagian konsumen dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi lantaran selisih nilai nan cukup besar.

“Yang dikhawatirkan, masyarakat nan sebelumnya membeli BBM non-subsidi beranjak ke BBM subsidi lantaran disparitas harganya cukup jauh,” tambahnya.

Sementara itu, seorang penduduk Desa Arosbaya, Ubaidillah (22), mengaku terpaksa membeli BBM di pengecer meski harganya lebih mahal. Menurutnya, jarak menuju SPBU cukup jauh sehingga menjadi satu-satunya pilihan.

“Harganya memang lebih mahal dibanding di SPBU. Tapi kami mau ke SPBU jaraknya terlalu jauh, jadi terpaksa beli di pengecer,” jelasnya.

Dia berharap, nilai BBM di tingkat pengecer dapat kembali normal seperti sebelumnya.

“Dulu di pengecer sekitar Rp12 ribu per liter. Harapannya bisa kembali normal lagi,” harapnya. (fik/zul)

Selengkapnya