Gerak Jalan Bangkalan Dinilai Kehilangan Esensi Patriotisme

1 jam yang lalu 2

BANGKALAN, koranmadura.com – Kegiatan lomba mobilitas jalan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) nan diselenggarakan pada Minggu, 9 Agustus 2026 di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, ramai menjadi perbincangan warga.

Pasalnya, salah satu golongan peserta mobilitas jalan kategori umum mengenakan busana dan berdandan seperti perempuan. Selain itu, terdapat aktivitas dan atraksi nan dinilai telah melenceng dari moralitas masyarakat.

Dosen Sosiologi Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Iskandar Dzulkarnain, menilai bahwa berbincang mengenai nilai-nilai moralitas kudu mempunyai parameter nan jelas. Selama ini, masyarakat tetap menganggap moralitas sebagai kesesuaian dengan nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal.

Dia juga menyebut bahwa setiap wilayah mempunyai nilai-nilai moralitas nan berbeda, seperti local wisdom alias kearifan lokal di setiap wilayah.

“Mungkin di wilayah kita kurang sesuai dengan moralitas lokal, tetapi bagi wilayah lain, mungkin saja tidak ada masalah alias sesuai dengan moral nan ada,” ungkapnya, Kamis, 13 Agustus 2026.

Dia juga mengatakan, aktivitas lomba mobilitas jalan tersebut dianggap telah menyalahi moral lantaran nilai-nilai nan ada dalam aktivitas itu sengaja dihilangkan. Lomba tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Indonesia.

“Ini melenceng dari moralitas lantaran sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai patriotisme. Malah nan muncul adalah corak nan keluar dari nilai-nilai budaya, agama, apalagi keindonesiaan kita. Itu nan hingga saat ini tetap sering terjadi,” paparnya.

Masyarakat menjadi enggan mempelajari dan memahami nilai-nilai kemerdekaan dan patriotisme. Masyarakat menganggap aktivitas seremoni HUT Kemerdekaan RI sekadar euforia belaka.

“Jadi, mereka menganggap hanya bersenang-senang, berpartisipasi, dan nan krusial meramaikan suasana kemerdekaan. Padahal, nan mereka lakukan dan dianggap merayakan kemerdekaan itu sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai moralitas nan ada. Dan itu nan sering terjadi sampai saat ini,” tutupnya. (MAHMUD/DIK)

Selengkapnya