
KABAR MADURA | Di tengah derasnya tren kasur dan bantal modern, Mahmud, pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Desa Keranggan, Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan, tetap mempertahankan upaya kasur dan bantal berbahan kapuk nan telah menjadi warisan keluarga.
Usaha ini dijalankan Mahmud sejak 1998, setelah sebelumnya dirintis oleh orang tuanya. Selama puluhan tahun, upaya itu bisa memperkuat dan menjadi bukti bahwa produk tradisional tetap mempunyai kesempatan di tengah perubahan selera konsumen.
“Iya, upaya dimulai sejak 1998, nan dimulai oleh saya, tapi sebelumnya juga dari orang tua saya,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Saat pertama kali melanjutkan upaya keluarga, permintaan terhadap kasur dan bantal berbahan kapuk tetap sangat tinggi. Bahkan, omzet nan diperoleh saat itu bisa mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.
“Usaha warisan itu saya lanjutkan. Waktu itu penjualan sangat bagus dengan permintaan pembeli nan cukup tinggi lantaran memang pasar kasur dan bantal kapuk sangat diminati,” ungkapnya.
Namun, perubahan tren perlahan membawa tantangan bagi upaya tersebut. Memasuki 2018-2019, permintaan mulai merosot tajam seiring semakin populernya kasur modern, terutama kasur spring bed.
“Kalau sebelumnya omzet bisa puluhan juta dalam sebulan, produk bantal dan kasur kapuk mulai kurang diminati, apalagi penurunannya bisa 100 persen,” terangnya.
Meski menghadapi perubahan selera masyarakat, Mahmud meyakini kasur kapuk tetap mempunyai sejumlah kelebihan nan membuatnya layak dipertahankan.
Salah satunya adalah nilai nan relatif terjangkau. Menurut Mahmud, dengan nilai sekitar Rp1 juta, konsumen sudah bisa mendapatkan kasur kapuk berbobot premium.
Selain harga, kasur kapuk juga dinilai mempunyai tingkat kenyamanan nan baik, mudah dirawat, mempunyai sirkulasi udara nan lebih baik, serta dapat digunakan dalam jangka waktu lama.
Bagi Mahmud, beragam kelebihan itu menjadi modal untuk mempertahankan produk lokal agar tidak sepenuhnya tergeser oleh produk modern.
Perubahan style hidup masyarakat pun diakui menjadi tantangan tersendiri. Di Madura, kasur dan bantal apalagi mempunyai keterkaitan dengan tradisi tertentu, termasuk dalam aktivitas pernikahan.
Namun, seiring perkembangan zaman, masyarakat mulai lebih banyak memilih produk modern nan dianggap lebih mewah dan sesuai dengan tren.
“Hari ini keadaannya kalah dengan tren kasur dan bantal modern. Misalnya ada aktivitas mantan jika di Madura mempelai membawa kasur dan bantal, namun memilih kasur spring bed lantaran terlihat lebih mewah,” tuturnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membikin Mahmud menyerah. Ia memilih mempertahankan usahanya dengan melakukan beragam inovasi, terutama dari sisi nilai dan kualitas produk.
“Inovasi kami agar tetap memperkuat memberikan nilai nan murah dan meningkatkan kualitas,” tambahnya.
Di sisi lain, kesiapan bahan baku menjadi salah satu untung bagi upaya Mahmud. Kapuk nan digunakan untuk membikin kasur dan bantal diperoleh dari wilayah sekitar nan memang dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kapuk.
“Untuk bahannya dari kapuk lantaran memang wilayah saya penghasil kapuk,” ujarnya.
Untuk pemasaran, hingga sekarang produk Mahmud tetap mengandalkan penjualan secara offline. Namun, dia mulai memandang kesempatan untuk memperluas jangkauan pasar melalui platform digital dan marketplace.
“Saat ini penjualan tetap offline dan tidak memungkiri ke depannya bakal melalui marketplace,” pungkasnya. (fik/zul)

1 hari yang lalu
9








English (US) ·
Indonesian (ID) ·