
KABAR MADURA | Hotel Odaita Pamekasan mendadak menjadi sorotan publik usai diduga kuat dimanfaatkan sebagai letak praktik prostitusi terselubung.
Modus nan digunakan para pekerja seks komersial (PSK) ialah memanfaatkan aplikasi perpesanan daring “aplikasi hijau” untuk menggaet pelanggan.
Setelah terjadi kesepakatan, transaksi dan aktivitas mesum tersebut dilakukan di bilik hotel nan sebelumnya telah dipesan oleh sang PSK.
Dugaan praktik prostitusi online ini memicu keprihatinan sekaligus respons tegas dari komponen pemuda setempat.
Tokoh pemuda Pamekasan sekaligus Ketua Gen Z Pamekasan, Misbahol Munir, mendesak pihak manajemen Hotel Odaita agar memperkuat sistem serta verifikasi jasa bagi setiap tamu nan datang menginap.
Pemuda nan berkawan disapa Rahul tersebut menekankan agar manajemen hotel tidak langsung melayani pemesanan bilik andaikan ada visitor wanita ber-KTP dari luar Pamekasan.
Menurutnya, petugas hotel kudu melakukan penyaringan dan memastikan terlebih dulu bahwa calon tamu tersebut bukan praktisi prostitusi.
“Pamekasan adalah Kota Gerbang Salam nan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai hukum Islam. Perilaku maksiat tidak boleh dibiarkan dan kudu dibendung berbareng oleh semua pihak, termasuk oleh manajemen pengelola hotel nan beraksi di Pamekasan,” tegas Rahul.
Dia menambahkan, maraknya praktik prostitusi terselubung tidak hanya mencederai norma keagamaan dan sosial, tetapi juga berakibat jelek bagi kesehatan masyarakat lantaran berpotensi memicu lonjakan kasus penyakit menular seksual.
Dugaan maraknya transaksi prostitusi ini kian mengkhawatirkan di tengah catatan peningkatan kasus HIV/AIDS di Pamekasan.
Berdasarkan info Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, akumulasi penemuan kasus baru penderita HIV/AIDS di wilayah tersebut sempat bertambah sebanyak 88 kasus, sehingga total tercatat mencapai 229 penderita.
Sementara itu, pada periode Januari hingga pertengahan tahun ini, Dinkes Pamekasan kembali mencatat puluhan temuan kasus positif HIV/AIDS baru nan didominasi oleh golongan masyarakat usia produktif (25-40 tahun).
Sebagian besar penderita tertular akibat perilaku hubungan seksual berisiko dan bergonta-ganti pasangan.
Melihat potensi dampaknya nan meluas, komponen pemuda berambisi Pemkab Pamekasan beserta abdi negara penegak norma dan pengelola upaya akomodasi dapat bekerja-sama lebih ketat dalam melakukan pengawasan guna menjaga reputasi Pamekasan dari praktik dekadensi moral dan kesehatan publik.
Saat dikonfirmasi, GM Odaita Hotel Pamekasan Fajar Supriyadi menyatakan tidak bakal pernah menanggapi hal-hal seperti itu.
“Kami sudah ada patokan tersendiri, siapa pun itu nan mau nginap. Hal-hal seperti ini sudah pernah ada di tahun berapa, cuman ya memang ketika saya diminta keterangan, saya tidak pernah menanggapinya,” tegasnya.
Yang pasti, kata Fajar, sistemnya penerimaan tamu hotel terlebih dulu diminta identitasnya. Sistemnya ketat.
“Yang pasti begini, orang kan menimbulkan masalah seperti ini, jika konfirmasi ke saya menanyakan kebenaran rumor tersebut, tentu saya bakal menjawab tidak benar,” ujarnya. (nur/waw)

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·