KABAR MADURA | Pengembangan teknologi info tidak semestinya berakhir pada tahap penelitian dan publikasi ilmiah semata. Hal itu nan ditekankan oleh Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura, Mohammad Iqbal Bachtiar.
Bagi Iqbal, teknologi nan saat ini sudah sangat canggih kudu bisa menghadirkan faedah nyata bagi masyarakat luas.
Prinsip tersebut menjadi landasan Iqbal dalam menjalankan perannya sebagai akademisi sekaligus wakil dekan FST UNIBA Madura. Ketertarikannya pada bumi teknologi info bermulai dari kemauan memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan beragam persoalan nan dihadapi masyarakat.
“Bagi saya, menjadi pengajar bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga mendampingi mahasiswa untuk berkembang secara akademik maupun profesional,” ujar Iqbal dalam wawancara mengenai perjalanan dan kiprahnya sebagai akademisi, Rabu (23/9/2026).
Setelah menuntaskan pendidikan di bagian informatika dan teknologi, Iqbal mulai aktif dalam aktivitas akademik, penelitian, pengembangan teknologi, serta pendampingan mahasiswa.
Pengalaman itu kemudian mengantarkannya berasosiasi dengan UNIBA Madura dan aktif menjalankan tridharma perguruan tinggi nan mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Selama berkarier di lingkungan kampus, Iqbal tidak hanya menjalankan tugas sebagai dosen, tetapi juga terlibat dalam pengelolaan akademik dan pengembangan institusi.
Peran tersebut meliputi monitoring proses pembelajaran, pelayanan akademik mahasiswa, pengembangan program, pembimbingan mahasiswa, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pendampingan beragam kejuaraan mahasiswa.
Bidang skill Iqbal berada pada informatika dan teknologi informasi, khususnya pemanfaatan teknologi untuk menyelesaikan persoalan nyata. Sejumlah bagian nan menjadi perhatiannya meliputi sistem informasi, Internet of Things (IoT), pengembangan sistem berbasis data, kepintaran buatan, serta teknologi digital.
Menurutnya, pengembangan teknologi tidak cukup hanya berorientasi pada kecanggihan sistem. Hal nan lebih krusial adalah gimana teknologi tersebut dapat memberikan faedah bagi masyarakat, bumi pendidikan, maupun sektor produktif.
Salah satu penelitian nan dikembangkannya adalah pemanfaatan IoT untuk monitoring kualitas air pada budidaya ikan. Melalui teknologi tersebut, kondisi air dapat dipantau secara lebih efektif sehingga info nan dihasilkan dapat membantu pembudidaya dalam mengambil keputusan.
Selain itu, Iqbal juga melakukan penelitian mengenai sistem info manajemen untuk pendataan garis kemiskinan nan diarahkan untuk mendukung transparansi dan ketepatan sasaran support di Sumenep.
“Bagi saya, penelitian nan paling berkesan adalah penelitian nan tidak berakhir pada publikasi, tetapi bisa memberikan kontribusi terhadap penyelesaian masalah nyata,” tuturnya.
Karena itu, dia berupaya mengarahkan aktivitas penelitian agar mempunyai keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat dan potensi daerah, khususnya di Madura.
Tidak hanya melalui penelitian, kontribusi Iqbal juga diwujudkan melalui pengembangan beragam karya akademik, seperti sistem informasi, bahan ajar, modul pembelajaran, arsip akademik, serta pengembangan kurikulum.
Di bagian pengembangan mahasiswa, salah satu pengalaman nan paling berkesan baginya adalah ketika mendampingi mahasiswa dalam kejuaraan robotika di Polinema Malang. Dalam kejuaraan tersebut, mahasiswa nan didampinginya sukses mencapai posisi empat besar pada 2020.
Iqbal juga pernah meraih juara tiga dalam kategori masyarakat pada Anugerah Inovasi Daerah Kabupaten Sumenep 2021. Namun, menurutnya, pencapaian seorang akademisi tidak semata-mata diukur dari penghargaan nan diperoleh.
Keberhasilan mahasiswa, berkembangnya program studi, meningkatnya kualitas pembelajaran, serta adanya faedah penelitian bagi masyarakat juga menjadi bagian krusial dari pencapaian seorang akademisi.
Dalam proses pembelajaran, Iqbal menerapkan pendekatan learning by doing. Menurutnya, teori tetap menjadi dasar, tetapi mahasiswa perlu diberikan kesempatan untuk mengimplementasikan pengetahuan melalui studi kasus, proyek, diskusi, praktikum, maupun penyelesaian persoalan nyata.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep dan sintaks dalam teknologi, tetapi juga diarahkan untuk menganalisis masalah, menentukan pengganti solusi, mengembangkan teknologi, hingga mengevaluasi hasilnya.
Pendampingan mahasiswa juga menjadi pengalaman krusial bagi Iqbal. Ia memandang mahasiswa nan awalnya kurang percaya diri alias belum memahami suatu bagian dapat berkembang setelah memperoleh pendampingan dan kesempatan untuk mencoba.
“Peran pengajar bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai mentor, fasilitator, dan mitra belajar bagi mahasiswa,” katanya.
Saat ini, Iqbal berfokus pada pengembangan pendidikan informatika berbasis Outcome Based Education (OBE), pengembangan kurikulum, penelitian teknologi informasi, serta penerapan IoT dan kepintaran buatan untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Ke depan, dia berambisi dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di UNIBA Madura.
Ia juga berambisi mahasiswa tidak hanya menjadi lulusan nan mempunyai keahlian akademik, tetapi bisa berpikir kritis, kreatif, adaptif, berintegritas, serta menciptakan solusi melalui teknologi.
Sementara bagi Uniba Madura, Iqbal berambisi kampus dapat terus berkembang menjadi perguruan tinggi nan unggul dan mempunyai daya saing melalui penemuan nan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan bumi industri.
Ia menekankan bahwa hasil penelitian dan pengembangan teknologi di perguruan tinggi semestinya tidak hanya berakhir di laboratorium alias jurnal ilmiah, tetapi dapat diimplementasikan dan memberikan faedah secara langsung.
“Keberhasilan seorang akademisi bukan hanya ketika ilmunya diakui, tetapi ketika pengetahuan tersebut bisa memberikan akibat bagi mahasiswa, institusi, dan masyarakat,” pungkasnya. (km97/ong)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·