KABAR MADURA | Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan mencatat 88 kasus kematian ibu dan bayi hingga September 2026. Rinciannya, 14 kasus merupakan kematian ibu dan 74 kasus kematian bayi.
Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan nomor sepanjang 2025. Pada tahun lalu, tercatat 91 kasus kematian ibu dan bayi, terdiri dari 15 kematian ibu dan 76 kematian bayi.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Pamekasan, Ahmad Syamlan, mengatakan, beragam upaya terus dilakukan untuk menekan nomor kematian ibu dan bayi. Salah satunya melalui screening terhadap ibu mengandung sejak kunjungan pertama.
Screening itu dilakukan untuk mengetahui riwayat persalinan sekaligus kondisi kesehatan ibu nan berpotensi meningkatkan akibat gangguan selama kehamilan.
Namun, upaya pencegahan tetap menghadapi persoalan kepatuhan ibu mengandung dan keluarga, khususnya dalam menjalani pemeriksaan kehamilan serta mengikuti pengarahan rujukan dari tenaga kesehatan.
“Sehingga pengambilan keputusan kudu tepat dan cepat. Dan rujuknya pun tidak berasas keputusan keluarga. Harus keputusan rumah sakit, nakes, alias puskesmas,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).
Menurut Syamlan, setiap rumah sakit mempunyai keahlian nan berbeda dalam menangani kondisi kehamilan tertentu. Sebab itu, Dinkes telah mengatur kompetensi masing-masing rumah sakit nan menjadi akomodasi rujukan sesuai dengan kondisi pasien.
Meski demikian, dalam praktiknya tetap ditemukan pasien nan memilih akomodasi kesehatan lain meski telah mendapatkan pengarahan dari tenaga kesehatan. Kondisi tersebut, kata Syamlan, dapat memicu keterlambatan penanganan.
Keterlambatan itu bisa terjadi dalam beragam tahapan, mulai dari pengambilan keputusan, proses rujukan, transportasi, hingga pelayanan medis di akomodasi kesehatan.
Selain persoalan rujukan, Dinkes Pamekasan juga menyoroti tetap adanya persalinan nan ditolong oleh dukun. Syamlan mencatat, terdapat 15 persalinan nan ditolong dukun, dan empat di antaranya menyebabkan kematian ibu.
“Persalinan dukun ini maksudnya persalinan nan ditolong oleh dukun, dukunnya tidak mampu, ya dibawa ke rumah sakit. Sampai rumah sakit meninggal,” katanya.
Sementara dari sisi rumah sakit, pasien nan datang dalam kondisi sudah mengalami komplikasi juga tetap cukup banyak ditemukan. Kepala Ruangan Kamar Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan, Nurul Hayati, mengungkapkan, salah satu komplikasi nan banyak ditemukan adalah preeklampsia berat.
Selain itu, tetap terdapat ibu mengandung nan tidak melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Kondisi itu membikin sejumlah komplikasi berisiko tidak terdeteksi sejak awal.
“Komplikasi nan banyak tidak terdeteksi di masyarakat itu khususnya kasus preeklampsia berat,” ujar Nurul.
Selain preeklampsia berat, kata Nurul, perdarahan pascapersalinan alias hemoragik post-partum (HPP) juga menjadi salah satu kondisi nan banyak ditemukan dan berisiko terhadap keselamatan ibu.
“Harusnya keduanya terpantau pada saat antenatal care (ANC),” tegasnya. (ina/zul)

36 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·