Dian Tetap Jaga Rasa Otentik Tahu Petis di Tengah Tren dan Inovasi Kuliner

1 jam yang lalu 1

HUT RI ke-81

KABAR MADURA | Di tengah gempuran tren kuliner modern nan terus berganti, jajanan tradisional seperti tahu petis selalu punya langkah tersendiri untuk memperkuat di hati masyarakat, perihal tersebut dibuktikan oleh Dian, seorang pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Dusun Asem Manis, Desa Buddagan, Pamekasan.

Memulai usahanya sejak 2020, di tengah tantangan situasi ekonomi nan tidak menentu, Dian memilih konsentrasi mendalami upaya kuliner sederhana namun kaya cita rasa, ialah tahu petis.

Daya tarik utama dari olahan tahu petis buatan Dian terletak pada resep racikan bumbunya nan asli. Berbeda dari petis olahan instan, Dian secara unik memilih bahan baku petis hitam unik Jawa, nan diolah melalui proses memasak nan cukup detail.

Proses pembuatannya memerlukan ketelatenan. Sebelum digoreng, tahu terlebih dulu direndam dalam larutan air garam agar gurihnya meresap sempurna, kemudian digoreng hingga garing.

Sedangkan kunci kelezatannya ada pada saus petisnya. Dian mencampurkan petis Jawa pilihan dengan bawang putih goreng, tepung terigu, kecap manis, serta racikan ramuan penyedap. Adonan tersebut dimasak dengan pasokan air nan banyak dan dibiarkan mendidih berkali kali hingga teksturnya mengental pekat dengan aroma nan menyengat harum.

“Sebelum digoreng, tahunya direndam air garam dulu sampai meresap. Untuk petisnya, saya racik pakai petis Jawa, bawang putih goreng, dan kecap manis. Harus dimasak sampai mendidih acapkali agar rasanya pas dan meresap sempurna,” ujarnya pada Kabar Madura, Rabu (26/8/2026).

Meski diolah dengan penuh ketelitian, Dian tetap menjual produknya dengan nilai nan sangat murah, ialah Rp1.000 per potong.

Perjalanan upaya Dian tak lepas dari dinamika naik turunnya bumi UMKM, di awalnya merintis, Dian mengandalkan sistem titip jual ke toko toko di sekitar tempat tinggalnya. Tantangan utama nan dia hadapi adalah akibat dagangan tersisa di penghujung hari.

“Awal merintis dulu ya dititip titipkan ke toko sekitar. Tantangannya ya kadang tetap ada sisa jika lagi sepi. Tapi saya tetap memperkuat dengan mengutamakan rasa dan kualitas produk,” tambahnya.

Berkat ketekunannya menjaga konsistensi rasa dan kualitas bahan baku, sekarang upaya tahu petis Dian bisa mencatatkan omzet rata rata sekitar Rp100 ribu per hari, sebuah pencapaian nan terus ditingkatkan seiring berjalannya waktu.

Saat ini, proses pemasaran tahu petis Dian dilakukan secara fleksibel, baik melayani pembeli nan datang langsung maupun pemesanan secara online. Kemudian jangkauan pembelinya perlahan mulai meluas, Dian mengakui tantangan terbesar saat ini adalah tetap sedikitnya masyarakat luar wilayah nan tahu bakal produknya.

Oleh lantaran itu, Dian sangat mengharapkan adanya perhatian serta support dari pemerintah wilayah maupun organisasi UMKM setempat untuk membuka jalan promosi nan lebih lebar.

“Harapan kami ada support dari pemerintah alias organisasi agar bisa dapat jangkauan penjualan nan lebih luas lagi. Masih sedikit nan tahu produk ini, semoga ke depannya bisa terus berkembang dan membantu penjualan kami,” tutupnya dengan penuh harapan. (fit/waw)

Selengkapnya