Pamekasan, (Media Madura) – Salah seorang pembimbing Madrasah Diniyah, Moh. Jufri, menyampaikan keluh kesahnya di hadapan Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jawa Timur XI (Madura), Hj. Ansari.
Curahan hati itu disampaikan Jufri dalam aktivitas Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) di Pamekasan, Jumat (30/10/2026).
Guru Madrasah Diniyah Miftahus Sudur, Pondok Pesantren Taman Bunga, Desa Kacok, Kecamatan Palengaan, tersebut mengaku belum pernah merasakan support kesejahteraan dari pemerintah sejak mulai mengajar pada 1995.
“Sampai saat ini, sejak kami mengajar tahun 1995, belum pernah kami rasakan sepeser pun nan berupa kesejahteraan dari pemerintah,” kata Jufri dalam forum tersebut.
Selama puluhan tahun mengajar, Jufri berbareng para pembimbing madrasah diniyah lainnya tetap menjalankan tugas mendidik dan memberikan pelajaran kepercayaan kepada anak-anak. Pengabdian tersebut menjadi bagian krusial dalam membentuk pengetahuan keagamaan, akhlak, dan karakter siswa.
Namun, dia berambisi perhatian pemerintah terhadap pendidikan tidak hanya terfokus pada sekolah formal. Para pembimbing madrasah diniyah nan turut berkedudukan dalam pendidikan generasi bangsa juga memerlukan perhatian, terutama mengenai kesejahteraan dan support terhadap aktivitas belajar mengajar.
Bantuan Pendidikan Juga Diharapkan Merata
Selain persoalan kesejahteraan, Jufri turut menyampaikan aspirasi mengenai pemerataan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) bagi lembaga pendidikan keagamaan.
Ia menyebut Madrasah Diniyah Miftahus Sudur pernah menerima support pada 2024. Namun, support tersebut tidak kembali diterima pada 2025.
Menurutnya, keberlanjutan dan pemerataan support sangat dibutuhkan untuk mendukung aktivitas belajar mengajar. Ia berambisi sistem penyaluran support dapat menjadi perhatian pemerintah, sehingga madrasah diniyah, pondok pesantren, dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) memperoleh kesempatan nan setara sesuai ketentuan nan berlaku.
Aspirasi itu disampaikan langsung kepada Hj. Ansari agar menjadi bahan perjuangan dan pembahasan dengan pihak terkait.
Hj. Ansari: Guru Negeri dan Swasta Sama-sama Mendidik Anak Bangsa
Menanggapi aspirasi tersebut, Hj. Ansari menegaskan bahwa pembimbing mempunyai peran krusial dalam mencerdaskan generasi bangsa, baik nan mengajar di sekolah negeri maupun swasta, termasuk di lembaga pendidikan keagamaan.
“Karena kita sama-sama mendidik anak bangsa. Dan sama-sama mencerdaskan anak bangsa,” ujar Hj. Ansari.
Menurutnya, peserta didik dan tenaga pendidik semestinya mendapatkan perhatian nan setara tanpa semata-mata dibedakan berasas status lembaga pendidikannya.
“Anak-anak bangsa, baik itu sekolah di negeri ataupun di swasta, harusnya mempunyai perlakuan nan sama. Baik itu siswa ataupun guru,” katanya.
Hj. Ansari juga menekankan pentingnya memastikan anggaran pendidikan betul-betul memberikan faedah bagi masyarakat secara luas. Perhatian tersebut, menurutnya, perlu menjangkau anak-anak nan menempuh pendidikan di lembaga swasta dan keagamaan, termasuk nan berada di wilayah pedesaan.
“Karena duit rakyat nan harusnya kembali kepada rakyat, ini juga kudu kita perjuangkan, termasuk duit pendidikan,” ujarnya.
Ia menyampaikan, beragam masukan dari para pendidik dan pengelola lembaga pendidikan dalam aktivitas Ngopi bakal menjadi bahan pertimbangan untuk dibawa ke dalam rapat berbareng Kementerian Agama.
Dengan demikian, persoalan nan disampaikan langsung oleh para pelaku pendidikan diharapkan dapat menjadi bagian dari pembahasan berbareng kementerian terkait, termasuk mengenai kesejahteraan pembimbing madrasah diniyah dan pemerataan support pendidikan.
Kegiatan Ngopi di Pamekasan berjalan dalam empat sesi dialog. Forum nan melibatkan Komisi VIII DPR RI dan Kementerian Agama melalui UIN Madura itu menjadi ruang bagi para pendidik untuk menyampaikan persoalan sekaligus memberikan masukan mengenai penyelenggaraan pendidikan Islam.
Aspirasi Moh. Jufri menjadi salah satu bunyi nan mengemuka dalam forum tersebut. Di kembali pengabdiannya sejak 1995, tersimpan angan agar perhatian terhadap pembimbing madrasah diniyah tidak berakhir pada pengakuan atas peran mereka, tetapi juga diwujudkan melalui support dan kebijakan nan lebih berpihak pada kesejahteraan serta keberlangsungan pendidikan keagamaan. (*/Znl)

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·