Dari 120 Bebek, Dhenis Kembangkan UMKM Telur hingga Tembus Program MBG

1 jam yang lalu 1

KABAR MADURA | Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari sektor peternakan di Pamekasan terus menunjukkan potensi positif. Salah satunya adalah Telur Bebek Mas Dhenis (Telur Bebek MD) di Dusun Tengah 1, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

UMKM tersebut didirikan oleh Dhenis Firmansyah pada tahun 2025, nan mana upaya tersebut berasal dari peternakan bebek petelur berdikari nan bermaksud memenuhi kebutuhan pangan masyarakat lokal sekaligus menopang ekonomi keluarga.

Keunggulan utama dari telur bebek MD terletak pada kesegaran dan kualitas produknya. Karena dikelola langsung dari kandang milik sendiri, proses perawatan bebek hingga pemanenan telur dapat dipantau secara ketat setiap harinya.

“Kami mengutamakan kualitas dan kesegaran telur. Karena bebek dipelihara dan dirawat sendiri di kandang, kami bisa memantau langsung proses produksinya dari pemberian pakan hingga pemanenan. Jadi telur nan sampai ke tangan konsumen betul benar segar,” ujarnya kepada Kabar Madura, Rabu (23/9/2026).

Dhanis katakan bahwa saat ini dirinya telah menyediakan dua jenis produk, nan pertama telur bebek mentah nan dijual dengan nilai Rp2.000 per butir.

Kemudian nan kedua telur bebek asin, dengan produk olahan berbobot tambah nan dijual dengan nilai Rp3.500 per butir.

Dhanis juga mengatakan bahwa usahanya saat ini didukung oleh populasi sekitar 120 ekor bebek, dengan 100 ekor diantaranya dalam masa produktif. Dari kapabilitas tersebut, peternakannya bisa menghasilkan rata rata 100 butir telur setiap harinya. 

“Dengan tingkat produksi harian itu, potensi omset kotor dari menjual telur mentah diperkirakan mencapai Rp200 ribu per hari alias sekitar Rp6.000 ribu per bulan, sebelum dikurangi biaya operasional, dan nilai ini tetap dapat meningkat dari hasil penjualan jenis telur asin, dan kami pernah melayani pembelian MBG di Ceguk 02 Pamekasan ialah Telur Asin dengan jumlah 1.600.000 Butir,” tambahnya.

Dalam perjalanan mengembangkan upaya tersebut bukan tanpa kendala. Salah satu tantangan utama nan dihadapi Dhanis sebagai peternak adalah kenaikan biaya pakan. Harga pakan nan awalnya Rp360 ribu per 50 kg saat ini mengalami kenaikan menjadi  Rp400 ribu per 50 kg.

“Tantangan terberat saat ini ada pada biaya pakan nan cukup tinggi dan fluktuatif. Dulu nilai pakan 50 kg sekitar Rp360.000, sekarang sudah naik jadi Rp400.000. Ditambah lagi jumlah produksi telur harian juga berjuntai pada kondisi kesehatan bebek,” jelasnya.

Untuk memperkuat di tengah tekanan biaya operasional, Dhenis menerapkan beberapa strategi efisiensi dan penemuan produk dengan menjaga kebersihan kandang, kualitas pakan, dan asupan vitamin harian, kemudian melakukan pencatatan produksi dan pengeluaran secara teratur, dan mengolah sebagian telur menjadi telur asin untuk meningkatkan nilai jual, kemudian mengoptimalkan penjualan offline di sekitar Tlanakan serta mulai merambah pemasaran digital alias di media sosial.

Untuk mengoptimalkan kapabilitas peternakannya, Dhanis berambisi adanya perhatian dan dorongan dari pemerintah daerah, organisasi UMKM, maupun lembaga terkait.

“Kami sangat berambisi adanya support dukungan pengembangan modal, peralatan peternakan, hingga training pengolahan, pengemasan, dan pemasaran digital agar produk kami bisa menjangkau pasar nan lebih luas,” tambahnya.

Bagi Dhenis, Telur Bebek Mas Dhenis bukan sekadar upaya mencari untung belaka, melainkan sebuah ikhtiar mengembangkan potensi peternakan lokal Madura agar berbobot ekonomi dan memberdayakan penduduk sekitar. Lebih dari itu, ada niat tulus nan menjadi pendorong utamanya setiap hari.

“Usaha ini bukan sekadar menghasilkan telur, tapi ikhtiar kami untuk mengembangkan potensi peternakan lokal. Harapan saya upaya ini terus tumbuh mandiri, bisa memberi faedah buat family dan masyarakat sekitar, serta hasil tabungannya kelak bisa digunakan untuk meningkatkan haji kedua orang tua,” tutupnya. (fit/waw).

Selengkapnya